Liputan6.com, Jakarta - Delta Airlines menyatakan penutupan pemerintahan Amerika Serikat (AS) atau Shutdown AS yang berakhir bulan lalu telah membuat perusahaan kehilangan sekitar USD 200 juta dalam laba sebelum pajak. Kerugian tersebut terjadi akibat turunnya pemesanan tiket selama penutupan pemerintah terpanjang dalam sejarah AS.
Maskapai itu menjelaskan bahwa dampak penurunan pendapatan tersebut setara dengan sekitar 25 sen per saham untuk kinerja kuartal berjalan. Sebelumnya, pada Oktober, Delta memproyeksikan laba kuartal IV yang telah disesuaikan berada di kisaran USD 1,60 hingga USD 1,90 per saham.
Advertisement
Meski demikian, Delta menegaskan permintaan perjalanan masih kuat. Dikutip dari CNBC, Kamis (4/12/2025), dalam laporan yang disampaikan kepada otoritas sekuritas menjelang konferensi industri pada Rabu, maskapai tersebut menyebutkan pemesanan tiket menuju tahun 2026 tetap menunjukkan tren positif.
Selama penutupan pemerintah, kekurangan petugas pengatur lalu lintas udara semakin memperburuk situasi. Pemerintahan Trump memaksa maskapai penerbangan untuk memangkas jadwal penerbangan mereka guna mengurangi beban kerja pada petugas pengatur lalu lintas udara.
Namun, meskipun langkah tersebut diambil, ternyata penundaan dan pembatalan penerbangan tetap lebih tinggi dari yang diperkirakan.
Pengendali lalu lintas udara yang sudah kewalahan sebelum penutupan ini, terpaksa bekerja tanpa gaji rutin selama periode tersebut, sebuah kondisi yang tentu saja menambah tantangan bagi maskapai penerbangan.
Desakan untuk Perlindungan Hak Pekerja
CEO Delta Airlines Ed Bastian bersama eksekutif lainnya, telah berulang kali mendesak anggota parlemen dan pejabat di Washington untuk memberikan jaminan bahwa pengontrol lalu lintas udara, petugas Administrasi Keamanan Transportasi (TSA), serta pekerja lain yang terkait dengan industri perjalanan udara, akan dibayar dengan layak jika penutupan pemerintah kembali terjadi di masa depan.
Bastian dan tim eksekutif Delta menegaskan pentingnya keberlanjutan operasional tanpa gangguan, serta perlindungan hak pekerja di sektor penerbangan yang menjadi ujung tombak kelancaran sektor transportasi udara di AS.
Meski dihadapkan pada situasi yang menantang akibat penutupan pemerintah, Delta Airlines tetap melihat potensi besar dalam sektor perjalanan udara yang diperkirakan akan terus tumbuh dalam beberapa tahun mendatang.
Sebagai salah satu maskapai terbesar di dunia, Delta pun mengajak pihak-pihak terkait untuk memastikan sektor ini dapat beroperasi dengan lancar tanpa terhambat oleh masalah birokrasi yang tidak terduga