Pesawat Boeing 737 Dicarter untuk Kirim Bantuan ke Korban Banjir Sumatera

Tak hanya korban jiwa, bencana Sumatera berupa banjir dan longsor diproyeksi telah menimbulkan kerugian ekonomi.

oleh Septian DenyDiterbitkan 03 Desember 2025, 20:30 WIB
Lima Group dan PT Lima Logam Indonesia menyalurkan bantuan kemanusiaan sebanyak 16 ton untuk korban alam di Aceh.

Liputan6.com, Jakarta - Lima Group dan PT Lima Logam Indonesia menyalurkan bantuan kemanusiaan sebanyak 16 ton untuk korban alam di Aceh. Bantuan dikirim menggunakan pesawat Charter Boeing 737 300 F Flight JDE511 PK-ECA JDE512 pada Rabu pagi, 3 Desember 2025.

Bantuan dari Lima Group berupa 1.000 karung beras, 1.000 dus mie instan, 1.920 minyak goreng, 20 tenda, 20 genset 5kVA, ratusan lampu, dan 1.800 gula. Manajemen juga mengirim 20 unit perangkat internet starlink untuk melancarkan komunikasi masyarakat Aceh dengan dunia luar.

Pendiri Lima Group dan PT Lima Logam Indonesia, Rusli Lohisto, berharap bantuan tersebut dapat meringakankan beban masyarakat Aceh yang terdampak bencana alam.

"Kami memahami berapa beratnya musibah bencana alam bagi warga Aceh," kata Rusli, Rabu (3/12/2025).

Dia juga menyatakan turut prihatin dan berbelang sungkawa untuk keluarga korban meninggal karena bencana alam di Aceh. Ia mengatakan perusahaan akan terus berkomitmen untuk mendukung pemerintah Aceh dalam pemulihan pasca bencana.

Bencana Sumatera Picu Kerugian Ekonomi Rp 68,67 Triliun

Sebelumnya, bencana Sumatera berupa banjir dan longsor pada November 2025 diproyeksi telah menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar, mencapai Rp 68,67 triliun secara nasional. Angka kerugian ini mencakup berbagai kerusakan dan kehilangan yang diakibatkan oleh bencana ekologis tersebut.

Berdasarkan hasil pemodelan yang dilakukan oleh CELIOS dikutip Rabu (3/12/2025), menggunakan data per 30 November 2025 , kerugian fantastis senilai Rp 68,67 triliun tersebut setara dengan 0,29 persen penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Kerugian materi (langsung) akibat bencana ini diperkirakan mencapai Rp 2,2 triliun di tiga provinsi yang paling terdampak luas, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kerugian ini terbagi ke dalam tiga sektor utama: Konstruksi, Perdagangan Besar dan Eceran, serta Pertanian Tanaman Pangan.

Secara regional, bencana ini diperkirakan menyebabkan ekonomi Aceh menyusut sekitar 0,88 persen atau setara Rp 2,04 triliun.

 

 

Rincian Kerugian

Sementara, data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2 Desember 2025, menyebut, secara keseluruhan, korban tewas akibat rangkaian banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera sejak pekan lalu telah mencapai 712 jiwa. Tampak dalam foto, warga berjalan di tengah banjir bandang di Desa Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 2 Desember 2025. (YT HARIONO/AFP)

Kerugian ekonomi Rp 68,67 triliun tersebut merupakan hasil perhitungan yang mencakup lima jenis kerugian utama:

  • Kerugian Rumah: Dengan asumsi kerugian mencapai Rp30 juta per rumah.
  • Kerugian Jembatan: Biaya pembangunan kembali masing-masing jembatan mencapai Rp1 miliar.
  • Kerugian Pendapatan Keluarga: Dihitung berdasarkan pendapatan rata-rata harian yang hilang selama 20 hari kerja.
  • Kerugian Lahan Sawah: Diperkirakan kehilangan Rp6.500 per kg dengan asumsi 7 ton hasil per hektare (Ha).
  • Perbaikan Jalan: Biaya perbaikan mencapai Rp100 juta per 1.000 meter.

Data sementara per 30 November 2025 mencatat total kerugian fisik yang luas, antara lain 61.518 rumah rusak/terdampak, 18 jembatan hancur, dan 14.600 meter jalan rusak. Selain itu, bencana ini menimpa 96.110 keluarga (KK) dengan total 220.309 jiwa terdampak, serta merusak 1.495 hektare sawah.

 

 

Penyebab Bencana dan Solusi Final

Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu melalui akun media sosialnya mengungkap identitas 86 orang meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor. Ia juga menjelaskan, ada 508 orang terluka, 7.382 orang mengungsi dan 296.454 orang terdampak bencana ini. Tampak dalam foto, seorang perempuan mengarungi banjir bandang di Desa Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 2 Desember 2025. (YT HARIONO/AFP)

Kerugian ekonomi yang masif ini berbanding terbalik dengan kontribusi ekonomi dari sektor yang sering dituding memicu bencana ekologis. Disebutkan bahwa kerugian nasional Rp 68,6 triliun jauh lebih besar dibanding sumbangan penerimaan Penjualan Hasil Tambang (PHT) yang hanya Rp 16,6 triliun hingga Oktober 2025.

Bahkan di Aceh, kerugian akibat banjir yang mencapai Rp 2,04 triliun lebih besar dibanding Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tambang Aceh yang hanya Rp 929 miliar hingga 31 Agustus 2025.

Menanggapi kerugian yang berulang, CELIOS merekomendasikan moratorium izin tambang dan sawit sebagai jawaban final. Moratorium izin tambang baru, evaluasi total perusahaan yang memegang izin, serta penagihan reklamasi dinilai penting agar bencana tidak terulang.

Demikian pula dengan izin perkebunan sawit, moratorium menjadi solusi final untuk mencegah deforestasi yang cenderung negatif di semua aspek ekonomi dan lingkungan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya