Menuju Pemilu 2029, Bahlil Ingatkan Kader Golkar Melek Digital

Bahlil menekankan bahwa kampanye di era digital menuntut kreativitas, komunikasi yang lebih terbuka, serta kemampuan membaca karakter pemilih.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 03 Desember 2025, 01:30 WIB
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum DPP (Dewan Pimpinan Pusat) Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pelantikan Pengurus DPD Partai Golkar Provinsi Lampung bukan sekadar seremoni, tetapi merupakan awal dari perjalanan panjang menuju target politik besar pada Pemilu 2029.

Hal itu disampaikan Bahlil dalam sambutan sekaligus arahan resminya pada acara pelantikan Pengurus DPD Partai Golkar Lampung yang digelar di Hotel Novotel, Bandar Lampung, Minggu 30 November 2025.

Menurutnya, pelantikan ini merupakan titik awal untuk memperkuat konsolidasi, soliditas, dan kesiapan seluruh elemen partai dalam menghadapi perubahan pola kampanye yang kini semakin berbasis digital.

"Pelantikan bukan akhir dari sebuah proses konsolidasi, tapi awal dari proses menuju tujuan di yang besar yakni Pemilu di tahun 2029,” kata Bahlil seperti dikutip, Selasa (2/12/2025).

Bahlil menyoroti, strategi pemenangan politik saat ini telah berubah secara signifikan. Kendati konsolidasi konvensional masih dibutuhkan, ia menekankan bahwa kampanye di era digital menuntut kreativitas, komunikasi yang lebih terbuka, serta kemampuan membaca karakter pemilih.

“Jumlah pemilih di tahun 2029 berusia 17 sampai 50 tahun mencapai 73 persen. Ini era digital. Konsolidasi harus habis-habisan, harus menyesuaikan dengan pola baru,” ujar dia.

 

Sejarah Kelahiran Golkar

Bahlil juga menegaskan kembali sejarah panjang kelahiran Partai Golkar sebagai partai yang inklusif, bukan eksklusif.

Ia menjelaskan, Golkar lahir dari 97 organisasi kemasyarakatan, termasuk kelompok petani, nelayan, TNI, Polri, organisasi mahasiswa, hingga organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah.

“Golkar lahir untuk mempertahankan ideologi Pancasila dari ancaman ideologi lain. Golkar milik rakyat Indonesia, bukan milik satu keluarga atau satu kelompok,” tegas dia

Ia menyebut, akar sejarah Golkar menjadi modal besar untuk terus menjaga keterbukaan, keberagaman, dan kedekatan dengan rakyat. Dia meyakini, Golkar merupakan partai yang sarat pengalaman, baik dalam memenangkan pemilu maupun memimpin pemerintahan.

“32 tahun negara ini dipimpin Golkar, dengan segala plus minusnya. Itu bukti pengalaman panjang kita dalam membangun bangsa,” Bahlil menutup.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya