Inovasi Batik Kontemporer untuk UMKM, Pakai Algoritma Komputer

Produk batik terbaru hasil inovasi asli Bandung diperkenalkan pada gelaran Semesta Inovasi Maranatha.

oleh Septian DenyDiterbitkan 02 Desember 2025, 20:50 WIB
Tiga produk batik terbaru hasil inovasi asli Bandung diperkenalkan pada gelaran Semesta Inovasi Maranatha di kawasan wisata kreatif Kampung Batik Cigadung

 

Liputan6.com, Jakarta Tiga produk batik terbaru hasil inovasi asli Bandung diperkenalkan pada gelaran Semesta Inovasi Maranatha di kawasan wisata kreatif Kampung Batik Cigadung belum lama ini. Ketiga produk inovatif itu adalah Batik Kura-Kura, Batik Naskah Kuno, dan Batik Bersuara.

Inovasi tersebut adalah hasil riset panjang yang menggali warisan budaya Indonesia dengan memanfaatkan sains dan teknologi (saintek) modern. 

Para peneliti batik di Universitas Kristen Maranatha berhasil menghidupkan batik dan budaya tradisi dengan memanfaatkan teknologi kekinian, menghasilkan produk inovatif yang autentik, unik, dan berdaya saing tinggi.

Ketua Pelaksana Resona Saintek UK Maranatha, Iwan Santosa menjelaskan bahwa inovasi yang lahir dari tangan-tangan peneliti harus dibawa keluar dari dunia kampus agar dapat dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

“Warisan tradisi masa lalu ketika dipertemukan dengan teknologi terkini, ternyata menghasilkan produk inovatif yang unik dan bernilai tinggi. Tidak saja melestarikan budaya asli Nusantara, tetapi dapat menggerakkan industri lokal,” ungkap Iwan dikutip, Selasa (2/12/2025).

Tiga Inovasi Batik Berdaya Saing TinggiIa mengatakan, kampus Maranatha adalah salah satu kampus terbaik Jawa Barat yang tidak hanya menjadi tempat belajar saja, melainkan tempat lahirnya inovasi dari pemanfaatan saintek.

“Kali ini, ada tiga produk inovasi yang diperkenalkan, hasil penelitian para akademisi dan inventor lintas bidang, yakni Dr. Dra. Ariesa Pandanwangi, M.Sn. dari Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif,  kemudian Dr. Ratnadewi, S.T., M.T. dan Agus Prijono, S.T., M.T. dari Fakultas Teknologi dan Rekayasa Cerdas,” paparnya.

Produk inovasi yang pertama adalah Batik Kura-Kura, yaitu proses “membatik” menggunakan algoritma komputer. Metode pemrograman yang asalnya bernama turtle graphics ini dimanfaatkan untuk membuat pola-pola batik menggunakan instruksi khusus. 

 

Motif Batik Khas Daerah di Indonesia

Pengrajin melakukan proses pencantingan saat membuat kain batik Betawi di rumah produksi Batik Seraci, Kampung Kebon Kelapa, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (2/10). Kain Batik Seraci dipasarkan hingga ke Jepang dan Eropa. (Merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Metode ini sudah berhasil digunakan untuk membuat motif-motif batik khas beberapa daerah di Indonesia, antara lain Batang, Purwakarta, Bojonegoro, hingga Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan.

Berikutnya, inovasi Batik Naskah Kuno. Para peneliti menggali naskah-naskah kuno yang tersimpan di keraton, museum, hingga perpustakaan, kemudian mengubah wujudnya menjadi kain batik kontemporer. 

Sebagian besar naskah berasal dari ratusan tahun silam. Salah satunya adalah naskah Bujangga Manik yang ditulis di atas daun lontar, dari sekitar abad ke-15.

“Naskah-naskah kuno itu aksesnya terbatas, tidak semua orang bisa melihatnya, apalagi memahaminya. Para peneliti memanfaatkan metode saintifik alih visual untuk mentransformasi naskah kuno itu menjadi kain batik yang lebih mudah diterima masyarakat luas. Tidak saja indah, juga kaya filosofi,” papar Iwan.

Inovasi yang ketiga adalah Batik Bersuara. Produk unik ini menggabungkan kain batik dengan teknologi audiovisual. Hasilnya, kain batik yang bisa menceritakan legenda khas daerah tidak hanya dari visualisasi motifnya saja, melainkan juga bisa “mengeluarkan” suara dongeng virtual.

 

 

Kembangkan UMKM Manfaatkan Produk Inovasi

Perajin menyelesaikan salah satu tahapan produksi batik Marunda di Rusunawa Marunda, Jakarta, Selasa (14/7/2020). Kreasi para ibu tersebut dilakukan mulai dari Senin hingga Kamis. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Inovasi yang diperkenalkan UK Maranatha merupakan bagian dari program Pemberdayaan Sains dan Teknologi dalam Pelestarian Budaya Asli Indonesia, didukung Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Republik Indonesia melalui Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek).

Seluruh inovasi tersebut mendapatkan apresiasi dari maestro batik Komarudin Kudiya, Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia sekaligus pendiri Rumah Batik Komar. 

Pemerintahan setempat melalui Lurah Cigadung, Muhamad Arif Kurniawan juga mengapresiasi upaya UK Maranatha. Ia berharap agar produk-produk inovasi itu dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan komunitas kreatif khususnya di wilayah Cigadung.

“Untuk itulah kami tawarkan produk-produk inovasi saintek ini untuk dipakai dan dikembangkan oleh bapak ibu semua selaku penggerak ekonomi, agar kita semua berkolaborasi mendapatkan manfaat kemajuan bersama,” pungkasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya