Harga Emas di Pasar Domestik Berpotensi Tembus Rp 2,7 Juta, Ini Pemicunya

Analis prediksi, seiring kenaikan harga emas dunia bakal berdampak terhadap harga emas domestik.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 01 Desember 2025, 08:56 WIB
Harga emas Antam hari ini memecahkan rekor sebelumnya atau tertinggi dalam sejarah. (Juni KRISWANTO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai harga emas dunia kembali menunjukkan penguatan yang konsisten. Harga emas berpotensi mencetak rekor baru menjelang akhir tahun.Ia memperkirakan, harga emas dapat mencapai USD 4.410 per troy ons pada Desember. Jika proyeksi ini terealisasi, harga logam mulia di pasar domestik diprediksi menembus Rp 2.700.000 per gram.

"Kemudian di akhir tahun, di bulan Desember, berdasarkan data teknikal siang ini, kemungkinan besar itu di USD 4.410 per troy ons, itu di akhir tahun. Logam mulianya di Rp 2.700.000," kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (1/12/2025).

Adapun ia mencatat pada penutupan Sabtu pagi (29/11) harga emas global tercatat di USD 4.221 per troy ons, sementara logam mulia di Indonesia berada di Rp 2.419.000. Pergerakan awal pekan juga menjadi kunci, di mana kenaikan akan membawa harga menuju resistance pertama di USD 4.263 dengan estimasi harga lokal sekitar Rp 2.445.000.

"Hari Sabtu kemarin, Sabtu pagi, harga emas dunia ditutup di level USD 4.221 per troy ons. Kemudian logam mulia mengalami kenaikan di Rp 2.419.000," ujarnya.

Untuk jangka waktu mingguan, Ibrahim melihat peluang penguatan lebih lanjut menuju USD 4.328, yang dapat mendorong logam mulia domestik menembus Rp 2.580.000. Level-level teknikal ini menjadi indikasi bahwa momentum bullish pada emas masih cukup kuat.

Suku Bunga The Fed Jadi Penggerak Utama Penguatan Emas

Ibrahim menilai ekspektasi penurunan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) pada Desember menjadi pendorong utama sentimen positif terhadap emas.

 

Potensi Penurunan Suku Bunga The Fed

Ilustrasi the Federal Reserve (Brandon Mowinkel/Unsplash)

Setelah jeda rilis data selama 43 hari akibat libur pemerintahan, data ekonomi terbaru menunjukkan kenaikan tingkat pengangguran dan penurunan tenaga kerja. Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa The Fed akan mengambil langkah pelonggaran moneter.

Ibrahim menegaskan, The Fed kemungkinan besar akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin di akhir tahun. Penurunan suku bunga biasanya melemahkan dolar AS, sehingga membuat emas semakin menarik sebagai aset lindung nilai. Hal ini berpotensi menjaga tekanan ke atas pada harga emas global.

"Di sisi lain pun juga kita melihat bahwa ada satu perubahan yang mendasar, ya di mana Ketua Bank Central Amerika di pertengahan, ya di kuartal pertama tahun 2026 ini sudah akan ada pergantian Bank Central. Ketua Bank Central yang kita tahu bahwa desas-desus di Gedung Putih, bahwa Trump akan mencalonkan dari Direktur Dewan Ekonomi Nasionalnya, yaitu Kevin Hassett, untuk dijadikan sebagai Ketua Fed berikutnya," jelasnya.

 

Geopolitik dan Kekuatan Politik AS Menambah Ketidakpastian Pasar

Ilustrasi Harga Emas Hari Ini di Dunia. Foto: DAVID GRAY | AFP

Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik juga turut menopang kenaikan harga emas. Konflik antara Rusia dan Ukraina meski berpotensi menuju meja perundingan yang diprakarsai Amerika, masih menghadapi banyak hambatan. Konstitusi Ukraina yang mewajibkan pengembalian wilayah yang dikuasai Rusia membuat proses damai berisiko berlarut-larut.

Situasi Timur Tengah juga belum menunjukkan tanda perbaikan. Meski sempat terjadi gencatan senjata antara Israel dan Hamas, ketegangan di tingkat masyarakat tetap berlangsung. Ketidakpastian global ini meningkatkan minat investor untuk mengalihkan dana ke aset aman seperti emas.

"Ini yang membuat luktuasi harga emas dunia yang terus mengalami penguatan dan penguatan ini kemungkinan masih akan terus sampai di akhir Desember," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya