Cuaca di Aceh-Sumut-Sumbar Cerah Dua Hari Terakhir, Modifikasi Cuaca Diperpanjang

Cuaca ekstrem menjadi salah satu penyebab banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumut dan Sumbar yang menewaskan 166 orang.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 29 November 2025, 18:46 WIB
Diketahui, jembatan itu putus saat banjir deras melanda wilayah itu pada Rabu (26/11/2025), akibat hujan lebat yang terjadi dalam sepekan terakhir. Tampak foto udara menunjukkan jembatan yang rusak akibat banjir bandang di jalan utama yang menghubungkan Aceh dan Sumatera Utara di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, pada Jumat 28 November 2025. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto mengatakan cuaca Aceh, Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar) terpantau cerah dalam dua hari terakhir. Cuaca yang cerah menjadi faktor kunci yang membantu percepatan penanganan banjir bandang dan longsor di tiga provinsi tersebut.

“Cuaca dua hari ini di tiga provinsi, baik Aceh, Sumatera Barat, maupun Sumatera Utara, Alhamdulillah terang, tidak ada hujan sama sekali. Mudah-mudahan ini berlangsung terus sehingga membantu penanganan tanggap darurat,” kata dalam konferensi pers daring di Jakarta, Sabtu (29/11/2025).

Kondisi cuaca tersebut tidak terlepas dari operasi modifikasi cuaca (OMC) yang terus digencarkan BNPB bersama BMKG. Di mana empat pesawat fixed wing dikerahkan masing-masing satu unit di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

“TMC ini sudah masuk hari ketiga dan akan kami perpanjang terus,” katanya.

 

Korban Meninggal 166

Kendati cuaca membantu proses penanganan, angka korban jiwa tetap mengalami peningkatan signifikan. Suharyanto melaporkan korban meninggal di Sumatera Utara kini mencapai 166 orang, naik dari 116 pada sehari sebelumnya.

“Artinya dalam satu hari bertambah 60 jiwa meninggal dunia, ini berkat operasi pencarian oleh Satgas Gabungan yang dipimpin Basarnas,” ujarnya.

Selain itu, 143 orang masih dinyatakan hilang. Menurutnya, korban tersebar di delapan wilayah Sumut yakni Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Humbang Hasundutan, Kota Padang Sidempuan, Fakfak Barat, dan Mandailing Natal.

Meski begitu, Suharyanto menjelaskan tidak ada tambahan kabupaten/kota terdampak bencana di Sumut.

“Kabupaten Langkat memang terjadi banjir, tetapi tidak menetapkan status kedaruratan karena pemerintah daerah masih dapat mengatasi kondisi tersebut,” ungkap dia.

Sementara itu, situasi pengungsian yang ada di Sumut belum banyak berubah. Di Tapanuli Utara terdapat sekitar 600 kepala keluarga (KK) mengungsi.

Sedangkan Tapanuli Tengah yang menjadi wilayah paling terdampak bencana di Sumut masih menampung sekitar 1.100 KK di satu titik pengungsian besar, yaitu GOR Tapanuli Tengah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya