Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin tercatat turun 16,8% sepanjang November, memicu kembali perdebatan mengenai peluang pasar untuk pulih di bulan Desember. Secara historis, Desember dikenal sebagai bulan yang kerap mencatatkan penguatan, dengan rata-rata kenaikan mencapai 4,75% dalam beberapa siklus sebelumnya.
Hal inilah yang membuat investor kini menunggu apakah pola musiman serupa dapat kembali terjadi.
Advertisement
Dikutip dari cryptofrontnews, Minggu (30/11/2025), penurunan tajam di November bukanlah hal baru bagi Bitcoin. Berdasarkan data historis, bulan ini sering diwarnai volatilitas ekstrem—baik berupa lonjakan besar maupun koreksi yang dalam.
Kondisi makro ekonomi global, terutama pengetatan likuiditas, kerap mempengaruhi pergerakan tersebut. Situasi pada 2025 disebut mirip dengan pola di tahun-tahun ketika November berada dalam tekanan berat, terutama setelah reli panjang sejak awal tahun.
Sejumlah analis pasar membagikan heatmap multi-tahun yang menunjukkan bahwa November berwarna merah biasanya terjadi saat pasar memasuki fase deleveraging. Pola ini sejalan dengan pergerakan Bitcoin saat ini, di mana kekuatan pasar sebelumnya mulai terkikis dan berubah menjadi struktur korektif.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Pola Pemulihan di Desember
Meskipun Bitcoin merosot 16,8% pada November, bulan Desember dalam banyak kasus justru menjadi jendela pemulihan.
Rata-rata kenaikannya yang mencapai 4,75% didorong beberapa kali reli kuat, meski data median menunjukkan hasil sedikit negatif karena beberapa tahun mencatatkan lanjutan tren turun.
Desember jarang bergerak datar. Bulan ini biasanya menghasilkan dua kemungkinan: reli signifikan atau koreksi lanjutan. Contoh nyata terjadi pada 2020 ketika Bitcoin jatuh di November, namun langsung berbalik naik tajam pada Desember setelah sentimen pasar membaik.
Analisis yang banyak dibagikan di media sosial juga menunjukkan pola bahwa pemulihan Desember cenderung muncul ketika pasar memasuki kondisi oversold dan investor strategis mulai kembali membeli menjelang penutupan tahun.
Menengok Data Historis
Dengan penurunan 16,8% sepanjang November, fokus kini tertuju pada peluang Bitcoin untuk kembali bullish di Desember 2025. Data historis memberikan gambaran bercampur. Tahun-tahun seperti 2019 dan 2022 menunjukkan bahwa tekanan di November bisa berlanjut hingga Desember.
Sebaliknya, tahun 2020 memperlihatkan bagaimana koreksi ringan di November mampu memicu pembalikan kuat pada bulan berikutnya.
Arah pasar selanjutnya diperkirakan bergantung pada pergerakan Bitcoin menjelang penutupan November. Jika tekanan jual mereda dan pasar memasuki fase stabilisasi, peluang Desember untuk mengikuti pola musiman positif cukup terbuka.
Namun, jika penurunan tetap berlanjut, Desember berpotensi menyerupai tahun-tahun ketika kelemahan pasar bertahan meski rata-rata historis menunjukkan kecenderungan sebaliknya.