Bupati Lumajang: Erupsi Gunung Semeru Sebabkan Ratusan Rumah, Jalan hingga Drainase Rusak

Bupati Lumajang Indah Amperawati memaparkan, berdasarkan pendataan awal, sebanyak 232 rumah warga mengalami kerusakan sedang hingga berat akibat aliran material vulkanik dan banjir lahar hujan erupsi Gunung Semeru.

oleh Hermawan ArifiantoDiterbitkan 27 November 2025, 10:00 WIB
Bupati Lumajang Indah Amperawati bersama anggota DPR RI mengecek kondisi Jembatan Gladag Perak pasca erupsi Gunung Semeru. (Istimewa)

Liputan6.com, Lumajang - Bupati Lumajang Indah Amperawati memaparkan kondisi kerusakan infrastruktur akibat erupsi Gunung Semeru dan curah hujan tinggi dalam sepekan terakhir kepada Tim Pengawas (Timwas) Penanganan Bencana DPR RI di Pendopo Arya Wiraraja.

Pemaparan ini menjadi bagian penting dalam penyusunan langkah pemulihan yang lebih terarah dan terukur di wilayah terdampak.

Dalam paparannya, Bupati Indah menjelaskan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo merupakan wilayah dengan dampak paling besar.

Berdasarkan pendataan awal, sebanyak 232 rumah warga mengalami kerusakan sedang hingga berat akibat aliran material vulkanik dan banjir lahar hujan yang menerjang kawasan tersebut.

"Selain permukiman, sejumlah infrastruktur penting juga terdampak. Kerusakan jaringan jalan, saluran drainase, dan infrastruktur pendukung irigasi mengakibatkan terganggunya mobilitas warga serta penyaluran bantuan," ujar Indah.

Di Desa Supiturang saja, lanjut dia, tercatat sekitar 1.000 meter jalan lingkungan dan jaringan drainase rusak sehingga memerlukan penanganan segera agar aktivitas masyarakat kembali lancar.

Indah turut menyampaikan kebutuhan penguatan perlindungan wilayah, termasuk pembangunan kembali tanggul sepanjang 2.500 meter di Dusun Sumber Sari.

Kondisi tanggul yang melemah tersebut perlu mendapat prioritas karena berpotensi memengaruhi kawasan permukiman. Ia juga menjelaskan pentingnya pembukaan alur sungai sepanjang 2.500 meter untuk mengurangi risiko banjir lahar dingin.

"Pembukaan alur yang telah dikerjakan baru mencapai 500 meter, sehingga masih diperlukan sekitar 2.000 meter lagi untuk memastikan alirannya aman," terang Indah.

 

Kondisi Kritis

Masyarakat dilarang melakukan aktivitas apa pun dalam radius 20 kilometer dari puncak, terutama di sepanjang aliran Besuk Kobokan, karena adanya ancaman lahar dan awan panas. Tampak dalam foto, seorang pria memandang aliran piroklastik selama letusan Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, pada Rabu 19 November 2025. (Agus Harianto/AFP)

Di Kecamatan Candipuro, pemerintah mencatat kondisi kritis pada jalur pelintas di Desa Jugosari. Sebagai upaya menjaga konektivitas antarwilayah, dibutuhkan pembangunan jembatan gantung sepanjang 300 meter.

Infrastruktur tersebut dinilai strategis untuk mobilitas masyarakat, distribusi logistik, dan akses layanan publik.

Indah juga menguraikan adanya kerusakan tanggul di Desa Gondoruso, Kecamatan Pasirian. Tanggul yang mengalami kerusakan sekitar 300 meter tersebut memerlukan penguatan agar kawasan pertanian dan permukiman tetap aman dari potensi aliran material vulkanik.

"Nilai kerusakan infrastruktur masih dalam proses asesmen dan akan menjadi dasar penentuan kebutuhan penanganan berikutnya," tutup Bupati Indah.

Infografis Riwayat Letusan Gunung Semeru. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya