Liputan6.com, Jakarta- Aktivitas Gunung Semeru terus menunjukkan gejala erupsi berkelanjutan satu pekan setelah awan panas besar meluncur sejauh 13,8 kilometer pada 19 November 2025. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan tingkat aktivitas tetap berada pada Level IV (Awas) karena kegempaan dan letusan dangkal masih tinggi.
Hingga 26 November 2025 pukul 12.00 WIB, pemantauan visual mencatat 27 kali letusan dengan asap berwarna putih kelabu setinggi 300–1.000 meter, mengarah ke utara dan tenggara.
Advertisement
Kondisi cuaca yang berkabut kerap menghalangi pengamatan langsung, namun pola erupsi kecil-menengah dari Kawah Jonggring Seloko masih terus terjadi.
Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria mengatakan, aktivitas yang terjadi menunjukkan pola yang masih fluktuatif meski tekanan dangkal mulai stabil.
“Secara umum Semeru sudah mulai menunjukkan stabilisasi, tetapi aktivitas erupsi dangkal, guguran, dan potensi bahaya sekunder masih tinggi. Karena itu kami pertahankan Level Awas,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (26/11/2025).
Kegempaan Tinggi, Belum Ada Indikasi Menuju Erupsi Besar
Data kegempaan yang terekam pada 25–26 November menunjukkan 231 gempa letusan, 10 gempa guguran, 43 gempa hembusan, 1 tremor non-harmonik, dan 9 gempa tektonik.
Menurut Lana, pola kegempaan ini menandakan suplai magma dangkal masih berlangsung namun tidak mengarah pada peningkatan energi besar.
“Nilai variasi seismic dv/v stabil di sekitar nol. Ini menandakan tekanan di dekat permukaan berkurang, tapi sistem masih labil karena suplai dari kedalaman masih terjadi,” katanya.
Data tiltmeter dan GPS juga menunjukkan kondisi yang relatif mendatar tanpa perubahan deformasi signifikan. Berdasarkan pemantauan tersebut, potensi erupsi besar dalam waktu dekat dinilai rendah.
Ancaman Lahar Hujan Jadi Faktor Baru
Selain erupsi kecil-menengah, ancaman yang kini makin sering terjadi adalah lahar hujan yang mengalir melalui Besuk Kobokan. Interaksi lahar dengan endapan awan panas memicu sejumlah letusan sekunder.
Lana mengingatkan bahwa ancaman letusan sekunder kerap muncul tanpa tanda-tanda kegempaan.
“Letusan sekunder ini berbahaya karena muncul mendadak saat hujan deras. Warga di sekitar Besuk Kobokan harus waspada meski tidak terdengar gempa vulkanik,” ujarnya.
Badan Geologi menegaskan kembali zona larangan aktivitas warga. Di antaranya, radius 8 km dari puncak harus steril dari aktivitas apa pun. Sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan dilarang hingga 20 km dari puncak.
Kemudian, sempadan sungai 500 meter di sepanjang Besuk Kobokan wajib dikosongkan. Lana Saria menegaskan bahwa rekomendasi ini bersifat wajib.
“Kami meminta masyarakat, relawan, dan wisatawan tidak memasuki zona terlarang. Ancaman tidak hanya dari letusan, tapi juga dari lahar dan material panas tersisa,” ujarnya.