Puan Maharani Desak Pemerintah Percepat Bantuan untuk Korban Banjir Sumut

Ketua DPR Puan Maharani menyampaikan keprihatinan atas banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumatera Utara.

oleh Nayla ShabrinaDiterbitkan 26 November 2025, 17:30 WIB
Ketua DPR, Puan Maharani di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (22/9/2025). (Foto: Liputan6.com/Delvira Hutabarat).

Liputan6.com, Jakarta Ketua DPR Puan Maharani mendesak pemerintah segera mengirimkan bantuan bagi warga yang terdampak banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Sumatera Utara.

"DPR RI menyampaikan keprihatinan dan dukacita mendalam atas bencana alam di sejumlah daerah di Sumatera Utara. Kita harap proses evakuasi yang masih dilakukan tim SAR berjalan dengan lancar," kata dia dalam keterangannya, Rabu (26/11/2025).

Puan menekankan agar seluruh kebutuhan masyarakat terdampak segera dipastikan terpenuhi, baik yang masih bertahan di rumah maupun yang mengungsi.

"Pemberian bantuan logistik jangan sampai terlambat, dan area tempat pengungsian harus dipastikan kenyamanannya," ungkap dia.

Tak hanya bantuan dasar, Puan meminta Pemda dan instansi terkait menyiapkan layanan trauma healing bagi warga, terutama mereka yang kehilangan anggota keluarga.

"Bencana alam tidak pernah mudah untuk dilalui, apalagi bagi mereka yang kehilangan," jelas dia.

Ketua DPP PDIP ini mengingatkan, pentingnya koordinasi lintas instansi agar proses evakuasi dan penanganan berjalan efektif. "Hindari ego sektoral, pastikan keselamatan masyarakat yang paling utama," kata dia.

Puan juga mendorong percepatan pemulihan infrastruktur vital yang rusak seperti jalan, jembatan, serta akses logistik dan pendidikan.

"Segera relokasi sementara sekolah dan jalur alternatif logistik, agar pemulihan pendidikan dan ekonomi tidak tertunda," tuturnya.

"Sekali jalan terputus, sekolah tak bisa diakses, petani dan UMKM tak bisa angkut hasil," sambungnya.

Puan menegaskan, DPR akan mengawal setiap langkah penanggulangan bencana hingga masa rehabilitasi agar tidak ada warga yang merasa ditinggalkan Pemerintah.

"DPR akan mengawal setiap meter jalan, setiap anak kembali ke sekolah, setiap petani bisa angkut lagi hasil panen," pungkasnya.

 

Banjir dan Longsor Landa 7 Kabupaten Sumut

Sebanyak 13 korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi pada tujuh kabupaten/kota di Sumatera Utara. Data tersebut diperbarui oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut pukul 08.00 WIB pagi ini.

"Hingga pukul 08.00 WIB pagi ini terdapat 13 orang dinyatakan meninggal dunia di tujuh kabupaten/kota," ucap Kabid Penanganan Darurat, Peralatan dan Logistik BPBD Provinsi Sumut Sri Wahyuni Pancasilawati di Medan dilansir Antara, Rabu (26/11/2025).

Sri Wahyuni melanjutkan, belasan korban meninggal dunia berada dua kabupaten di Sumatera Utara. Terdiri atas sembilan korban meninggal dunia di Kabupaten Tapanuli Selatan, di antaranya enam orang di Kecamatan Batangtoru, satu orang di Kecamatan Sipirok, dan satu orang di Kecamatan Angkola Barat.

Kemudian, empat korban meninggal dunia yang merupakan warga Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, akibat tertimbun material longsor di dalam rumahnya.

BPDB Provinsi Sumut menyatakan, akibat curah hujan pada Sabtu (22/11), hingga Selasa (25/11), mengakibatkan bencana hidrometeorologi berupa meluapnya sejumlah sungai menyebabkan banjir, dan tanah longsor melanda tujuh kabupaten/kota di Sumatera Utara, yakni Tapanuli Tengah, Sibolga, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Nias Selatan, dan Padangsidimpuan.

"Korban yang mengalami luka-luka ada 37 orang, dan tiga orang masih dinyatakan hilang di Tapanuli Selatan. Di Tapanuli Tengah masih dalam pendataan," kata dia.

Ratusan Rumah Rusak

Pihaknya juga mengungkapkan, total 330 unit rumah rusak di Tapanuli Selatan terdiri atas 12 rusak berat, enam rusak sedang, dan 312 rusak ringan, serta satu unit sekolah rusak.

Sedangkan di Mandailing Natal terdapat pengungsi 561 kepala keluarga atau 2.244 jiwa, 13 unit rumah rusak berat, satu unit sekolah rusak, dan banjir merendam 85 hektare lahan pertanian warga.

Sementara di Tapanuli Utara ada 19 kepala keluarga yang tidur di pengungsian, lima unit rumah rusak berat, 64 unit rumah rusak ringan, dam empat titik ruas jalan rusak, serta satu jembatan terputus.

"Kalau di Nias Selatan satu rumah rusak berat, dan satu ruas jalan terganggu. Di Padangsidimpuan satu korban dinyatakan hilang, dan 220 jiwa tinggal di pengungsian," tutur Sri Wahyuni.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya