Liputan6.com, Jakarta - PT Super Bank Indonesia Tbk (Superbank) bersiap melantai di bursa melalui penawaran umum saham perdana (IPO) dengan kode saham SUPA. Perseroan akan melepas maksimal 4,40 miliar saham ke publik, atau setara maksimal 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh, dengan nilai nominal Rp 100 per saham.
Harga penawaran IPO dipasang di kisaran Rp 525 hingga Rp 695 per saham, yang memungkinkan Superbank meraih dana segar maksimal Rp 3,06 triliun.
Advertisement
Mayoritas dana IPO, sekitar 70%, akan dialokasikan untuk modal kerja guna mendukung penyaluran kredit, sementara sisanya 30% akan digunakan untuk belanja modal. Superbank telah menunjuk sejumlah penjamin pelaksana emisi, termasuk PT Mandiri Sekuritas dan PT CLSA Sekuritas Indonesia.
Kinerja perseroan hingga Juni 2025 mencatatkan aset sebesar Rp 14,87 triliun, dengan pendapatan bunga bersih Rp 665,29 miliar dan laba bersih Rp 20,50 miliar.
Pasca-IPO, manajemen berkomitmen membagikan dividen kepada pemegang saham maksimal 85% dari laba bersih tahun berjalan, direncanakan berdasarkan laba tahun buku 2029.
Struktur kepemilikan saham pasca-IPO mencakup entitas seperti Elang Media Visitama (EMV) sebesar 27,07%, Kudo Teknologi Indonesia (KTI) sebesar 16,67%, GXS Bank Pte Ltd (GXS) sebesar 10,44%, dan masyarakat sebesar 13%.
Sejarah Superbank
Superbank berawal dari PT Bank Fama International, yang didirikan di Bandung pada 1993. Bank ini mengalami transformasi signifikan menjadi bank digital modern.
Perubahan besar dimulai pada akhir 2021 ketika Bank Fama diakuisisi oleh Emtek Group, diikuti oleh investasi dari Grab dan Singtel pada awal 2022, dan kemudian KakaoBank pada 2023, membentuk konsorsium strategis.
Pada awal 2023, Bank Fama resmi berganti nama menjadi Superbank dan memindahkan kantor pusatnya ke Jakarta, dengan fokus utama memperluas akses kredit untuk nasabah ritel dan UMKM melalui solusi digital inovatif.
Memasuki tahun 2024, Superbank memperkuat layanannya dengan meluncurkan produk-produk digital, termasuk:
- Saku by Superbank (tabungan dengan hingga delapan rekening terpisah).
- Celengan by Superbank (fitur menabung otomatis dari receh transaksi harian).
- Deposito dengan bunga kompetitif.
- Pinjaman Atur Sendiri (PAS) (pinjaman digital tanpa agunan yang fleksibel).
Selain itu, Superbank berkolaborasi dengan OVO meluncurkan OVO Nabung, yang mengubah saldo OVO menjadi rekening tabungan berbunga.
Kinerja Keuangan Superbank
PT Super Bank Indonesia (Superbank) mencatatkan kinerja keuangan yang solid hingga Kuartal III 2025, didukung oleh strategi "digital-first" dan dukungan dari pemegang saham (Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank).
Hingga akhir September 2025, Superbank membukukan laba sebelum pajak (PBT) sebesar Rp 80,9 miliar. Pencapaian ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang melonjak 176% year-on-year (YoY), mencapai Rp 1,1 triliun.
Kepercayaan publik tercermin dari jumlah nasabah Superbank yang telah mencapai 5 juta sejak peluncuran aplikasi digital pada Juni 2024. Aktivitas transaksi juga menunjukkan peningkatan kuat, dengan rata-rata jumlah transaksi harian tumbuh lebih dari 40% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Pertumbuhan ini didorong oleh produk inovatif seperti OVO Nabung by Superbank dan integrasi layanan yang erat dalam ekosistem Grab dan OVO. Presiden Direktur Tigor M. Siahaan menyatakan kinerja ini menunjukkan fundamental bisnis digital Superbank yang kokoh dan komitmen untuk terus berinovasi.