Jadi Honorer 22 Tahun, Guru PPKN asal Maluku Ini Akhirnya Dapat Laptop dan Proyektor

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Ungkapan ini dirasa sangat cocok disandang semua guru di Indonesia, terutama dia yang mengabdi di wilayah 3T Indonesia, tertinggal, terdepan dan terluar.

oleh Pramita TristiawatiDiterbitkan 25 November 2025, 14:39 WIB
Abdurahman, guru asal NTT (Liputan6.com/istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Ungkapan ini dirasa sangat cocok disandang semua guru di Indonesia, terutama dia yang mengabdi di wilayah 3T Indonesia, tertinggal, terdepan dan terluar.

Seperti Abdurahman, pria paru baya 52 tahun ini mengaku, sudah jadi guru honorer selama 22 tahun di SMA Negeri 15 Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku.

"Kita merasa terpanggil dari hati, itu kita mengajar kita punya anak bangsa dan anak daerah, cita-cita saya jadi guru, orang tua saya juga guru, meneruskan orang tua," ungkapnya dengan logat Timur, di Kantor Pusat Airnav di Tangerang.

Di awal mengajar, dia mengaku tak sepeserpun honor atau bayaran yang dia terima. Baru sekitar tahun 2022 ketika kebijakan Dana BOS diadakan, Abdurahman menerima bayaran Rp 750 ribu per bulannya.

Jarak dari rumahnya ke sekolahnya mengajar pun cukup jauh, sekitar 10 Km. Belum lagi ketika hujan turun, luapan kali di dekat sekolahnya akan membanjiri akses jalan.

Maka itu, pria yang kesehariannya mengajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan mengaku, selalu menemani berangkat dan pulang anak-anak muridnya. Dengan begitu, dia memastikan siswanya selamat kembali sampai rumah.

"Tantangannya di daerah kami itu daerah terpencil, terbelakang, yang enggak ada jembatan, seng ada jalan, ada jarak kita punya kampung ke tempat sekolah itu 10 kilo pulang pergi, setiap hari berjalan kaki. Ada 103 murid di tempat kami," ungkapnya sembari terbata-bata menahan tangis haru.

Kesabarannya puluhan tahun mengajar dengan upah minim, seperti membuahkan hasil. Tahun ini, dia diangkat menjadi P3K, namun baru Desember nanti dia akan pegang Surat Keputusan (SK)-nya sebagai P3K.

"Sudah, tapi belum keluar SK. Katanya nanti bulan Desember," ujarnya.

 

Diberi Laptop dan Proyektor untuk Mengajar

Abdurahman, guru asal NTT (Liputan6.com/istimewa)

Sementara, dalam rangka Hari Guru Nasional, Abdurahman beserta 12 guru honorer dari wilayah 3T Indonesia, diterbangkan ke Kantor Pusat Airnav, untuk menerima penghargaan dan bantuan alat mengajar atas pengabdiannya.

"Total ada 13 guru dari wilayah 3T Indonesia, seperti dari Maluku, Lampung, Ambon, dan beberapa provinsi lainnya kami datangkan. Para guru ini kami seleksi, masa pengabdiannya pun ada yang 26 tahun, paling sebentar itu 8 tahun jadi guru honorer," ujar Direktur Teknik AirNav Indonesia Zainal Arifin Harahap.

Para guru ini dikenal memiliki komitmen luar biasa dalam menjaga keberlangsungan pendidikan di daerah yang menghadapi tantangan geografis, keterbatasan fasilitas, dan minimnya akses teknologi.

Kepada para guru terpilih tersebut, AirNav Indonesia memberikan bantuan dukungan untuk meningkatkan kualitas pengajaran mereka di tempat pengabdian, antara lain berupa laptop, projector, hingga uang saku.

”Semoga fasilitas pembelajaran yang kami berikan ini bisa menambah semangat para pendidik yang luar biasa ini untuk dapat konsisten mengabdikan ilmunya kepada masyarakat, meski penuh dengan keterbatasa," sambung Zainal.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya