Presiden Filipina: 7 Tersangka Korupsi Proyek Pengendalian Banjir Ditahan, Sisanya Masih Diburu

Marcos berjanji bahwa para senator, anggota DPR, dan pemilik perusahaan konstruksi yang terlibat akan dipenjara sebelum Natal.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 24 November 2025, 12:01 WIB
Diketahui sebelumnya, skandal proyek pengendali banjir ini telah mengguncang politik Filipina. (Jam STA ROSA/AFP)

Liputan6.com, Manila - Pihak berwenang Filipina menahan tujuh tersangka dan beberapa lainnya masih diburu dalam skandal korupsi besar yang melibatkan proyek pengendalian banjir, kata Presiden Ferdinand Marcos Jr. pada hari Senin (24/11/2025), di tengah upayanya meredam kemarahan publik atas penyimpangan terang-terangan yang telah menyeret anggota kongres berpengaruh.

Korupsi besar-besaran disebut sebagai penyebab munculnya proyek-proyek pengendalian banjir yang bermutu rendah atau bahkan sama sekali tidak dikerjakan di negara Asia Tenggara yang miskin ini, yang sejak lama rentan terhadap banjir mematikan dan cuaca ekstrem.

Lebih dari selusin tersangka—termasuk Zaldy Co, mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat, serta para insinyur dari kementerian pekerjaan umum dan jalan raya—telah didakwa oleh Sandiganbayan, pengadilan khusus anti-korupsi. Dakwaan ini merupakan kasus pertama dari puluhan tuntutan pidana terkait gratifikasi dan korupsi yang diperkirakan akan menyusul.   

Kasus korupsi pertama melibatkan penyimpangan dalam proyek pengendalian banjir di Provinsi Oriental Mindoro, termasuk sebuah tanggul sungai senilai USD 4,8 juta, yang dikerjakan oleh Sunwest Corp., sebuah perusahaan konstruksi yang menurut pejabat pemerintah dimiliki oleh keluarga Co.

Marcos mengatakan satu tersangka ditangkap dan enam lainnya menyerahkan diri selama akhir pekan kepada polisi.

"Tersangka yang ditangkap ditemukan di sebuah rumah di kota Quezon pinggiran wilayah ibu kota, di mana sejumlah orang yang mencoba menyembunyikan tersangka juga ditangkap," kata Marcos seperti dikutip dari Associated Press.

"Saran saya kepada para tersangka yang masih buron adalah kalian semua segera menyerahkan diri, jangan menunggu sampai dikejar. Ini akan terus berjalan, kami tidak akan berhenti."

Menteri Dalam Negeri Jonvic Remulla mengatakan lokasi Co, yang diyakini berada di luar Filipina, tidak diketahui, tetapi tiga tersangka lainnya kemungkinan akan segera menyerahkan diri ke kedutaan Filipina di Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Yordania dan akan diterbangkan kembali ke tanah air.

"Di mana pun kalian berada di dunia, kami akan menemukan kalian," tegas Remulla.

 

 

Pengakuan Para Saksi

Ribuan warga Filipina turun dan memenuhi jalan-jalan utama di Manila pada Minggu 21 September 2025. (Jam STA ROSA/AFP)

Para saksi sebelumnya telah bersaksi dalam sidang Senat dan dalam komisi pencari fakta independen yang dibentuk oleh Marcos bahwa sejumlah mantan dan pejabat aktif Senat serta DPR telah mengantongi uang suap dalam jumlah besar dari perusahaan-perusahaan konstruksi tertentu yang mendapatkan kontrak proyek pengendalian banjir bernilai besar selama bertahun-tahun. Sejumlah pejabat dan insinyur dari kementerian pekerjaan umum dan jalan raya juga telah bersaksi di bawah sumpah dalam sidang Senat bahwa mereka membantu mengatur transaksi korup tersebut dan menerima sejumlah besar uang sebagai imbalannya.

Gaya hidup mewah, rumah-rumah besar, koper berisi uang tunai, serta deretan mobil-mobil mewah dan jet pribadi milik para tersangka utama kasus korupsi ini telah memicu protes besar-besaran. Sebuah demonstrasi yang akan digelar pada 30 November mendapat dukungan dari gereja Katolik Roma yang dominan.

Mereka yang terlibat termasuk anggota DPR Martin Romualdez, sepupu presiden dan sekutu utama, yang menyangkal keterlibatannya tetapi telah mengundurkan diri sebagai ketua DPR. Mantan Presiden Senat Chiz Escudero juga dituduh mengantongi uang suap dan telah mundur dari jabatannya, namun dengan tegas membantah melakukan kesalahan apa pun.

Para pembantu dekat Marcos membelanya dari tuduhan yang mengaitkannya dengan penyimpangan tersebut, dengan mengatakan bahwa justru ia yang pertama kali menyuarakan keprihatinan atas hal itu pada Juli lalu dalam pidato kenegaraannya di hadapan Kongres.   

Setidaknya 9.855 proyek pengendalian banjir senilai lebih dari USD 9 miliar yang seharusnya dikerjakan sejak Marcos menjabat pada pertengahan 2022 sedang diselidiki. Pada bulan September, Menteri Keuangan Ralph Recto mengatakan kepada para legislator bahwa hingga USD 2 miliar untuk proyek pengendalian banjir mungkin telah hilang akibat korupsi sejak 2023.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya