Serangan Israel ke Ibu Kota Lebanon Tewaskan Komandan Militer Hizbullah

Lantas, seperti apa reaksi Hizbullah atas kematian Tabtabai?

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 24 November 2025, 07:27 WIB
Para petugas pertahanan sipil memeriksa kerusakan setelah sebuah gedung apartemen terkena serangan udara Israel di Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut, Lebanon, Minggu (23/11/2025). (Dok. AP/Bilal Hussein)

Liputan6.com, Tel Aviv - Israel pada hari Minggu (23/11/2025) menggempur ibu kota Lebanon untuk pertama kalinya sejak Juni. Israel menyatakan bahwa serangan itu menewaskan kepala staf Hizbullah, Haytham Tabtabai, serta memperingatkan kelompok militan yang didukung Iran itu agar tidak mempersenjatai diri kembali setahun setelah perang terbaru mereka.

"Serangan di kawasan selatan Beirut tersebut menewaskan lima orang dan melukai 25 lainnya," menurut Kementerian Kesehatan Lebanon seperti dikutip dari Associated Press.

Hizbullah mengonfirmasi kematian Tabtabai. 

Serangan Israel ini terjadi hanya beberapa hari sebelum Paus Leo XIV dijadwalkan mengunjungi Lebanon.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa pihaknya akan terus bertindak tegas untuk mencegah ancaman terhadap warganya di utara. Militer Israel menginstruksikan warga di wilayah utara dekat perbatasan Lebanon untuk tetap menjalani rutinitas harian, langkah yang menunjukkan bahwa Israel tidak memperkirakan adanya respons militer dari Hizbullah.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Tabtabai memimpin upaya Hizbullah untuk memulihkan kekuatan militernya.

Dalam beberapa pekan terakhir, serangan udara Israel di Lebanon selatan meningkat.

Israel dan Amerika Serikat (AS) juga menekan Lebanon agar melucuti senjata Hizbullah. Israel mengklaim bahwa kelompok itu berusaha membangun kembali kemampuan militernya. Namun, pemerintah Lebanon—yang mendukung pelucutan senjata Hizbullah—membantah klaim tersebut. Pemerintah juga menyatakan bahwa pasukan Lebanon telah dikerahkan ke wilayah selatan, namun tentara yang kekurangan dana membutuhkan lebih banyak sumber daya.

Hizbullah belum menyerang Israel sejak gencatan senjata mulai berlaku.

Pada bulan Desember lalu, kelompok itu menembakkan beberapa roket yang jatuh di area terbuka dekat pangkalan militer Israel dan menyebutnya sebagai "peringatan".

Tabtabai sebelumnya dipandang sebagai penerus Ibrahim Aqil, yang tewas pada September 2024 dalam serangan Israel yang menghabisi sebagian besar pimpinan senior Hizbullah, termasuk pemimpin lama Hassan Nasrallah. Ia pernah memimpin Unit Radwan, pasukan elite Hizbullah.

Pada 2016, AS menetapkannya sebagai teroris dan menggambarkannya sebagai pemimpin militer yang memimpin pasukan khusus Hizbullah di Suriah dan Yaman. AS menawarkan hadiah hingga USD 5 juta untuk informasi mengenai dirinya.

Potensi Eskalasi

Wakil ketua dewan politik Hizbullah Mahmoud Qamati menuturkan bahwa pimpinan kelompok itu sedang mempelajari opsi respons dan akan mengambil keputusan yang tepat. Ia menyatakan bahwa serangan di selatan Beirut membuka pintu bagi peningkatan serangan di seluruh Lebanon.

Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam serangan dan menuduh Israel tidak menjalankan kewajibannya dalam perjanjian gencatan senjata. Ia meminta komunitas internasional turun tangan dengan tegas dan serius untuk menghentikan serangan terhadap Lebanon dan rakyatnya.

Asap dilaporkan terlihat mengepul di kawasan padat Haret Hreik, tempat Israel tidak mengeluarkan peringatan evakuasi sebelum serangan. Lantai empat sebuah gedung apartemen rusak akibat serangan tersebut. Tembakan dilepaskan untuk membubarkan kerumunan saat tim penyelamat tiba.

Pekan lalu, Presiden Aoun mengatakan bahwa pihaknya siap melakukan negosiasi dengan Israel untuk menghentikan serangan udara dan menarik diri dari lima titik bukit di wilayah Lebanon yang diduduki Israel. Ia menegaskan komitmen Lebanon untuk melucuti segala aktor non-negara di dalam negeri, termasuk Hizbullah.

Hizbullah sendiri menyatakan bahwa pembahasan mengenai persenjataannya hanya dapat dilakukan melalui dialog dengan negara Lebanon setelah Israel menghentikan serangannya.

Perang Israel–Hizbullah terbaru dimulai pada 8 Oktober 2023, sehari setelah Hamas menyerang Israel selatan. Saat itu, Hizbullah menembakkan roket ke Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Hamas. Israel kemudian melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon tahun lalu, yang sangat melemahkan Hizbullah, disusul dengan invasi darat.

Perang tersebut menjadi yang terbaru dari beberapa konflik yang melibatkan Hizbullah dalam empat dekade terakhir. Lebih dari 4.000 orang tewas di Lebanon—termasuk ratusan warga sipil—dan menurut Bank Dunia kerusakan mencapai USD 11 miliar. Di Israel, 127 orang tewas, termasuk 80 tentara.

Pada Selasa (18/11), serangan Israel menewaskan 13 orang di kamp pengungsi Palestina Ein el-Hilweh dekat Kota Sidon, Lebanon. Serangan itu merupakan yang paling mematikan sejak gencatan senjata diberlakukan. Militer Israel mengatakan bahwa mereka menargetkan fasilitas militer milik Hamas. Namun, Hamas membantah memiliki fasilitas militer di kamp yang padat penduduk itu.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya