Liputan6.com, Jakarta - Indeks Fear and Greed Coinmarketcap terus merosot hingga ke bawah level 10 memicu kekhawatiran pasar kripto terutama pemegang Bitcoin. Sebagian besar melihat bahwa saat ini telah benar-benar memasuki fase bearish.
Hal ini disertai prediksi baru terkait harga Bitcoin yang disebut bisa jatuh mendekati USD 60.000.
Advertisement
Mengutip coinmarketcap, Sabtu (22/11/2025), di balik kondisi pasar yang penuh dengan kepanikan dan gelombang likuidasi, data on-chain menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks. Terlihat jelas siapa yang sedang keluar dari pasar dan siapa yang diam-diam memanfaatkan situasi untuk masuk.
Alih-alih terpaku pada prediksi harga atau sentimen panik, sejumlah analis mulai membedah pihak-pihak mana yang melepas aset dan pihak-pihak mana yang memanfaatkan momentum untuk masuk. Salah satu analis yang paling lantang menyuarakan pandangan ini adalah CEO CryptoQuant, Ki Young Ju.
Ia menilai kondisi saat ini memang memberatkan trader dengan leverage tinggi, tetapi justru membuka peluang menarik bagi pembeli jangka panjang di pasar spot.
Menurut model on-chain yang ia miliki, fase panas siklus bullish sebenarnya sudah mencapai puncaknya pada awal tahun ini dan berada di kisaran level USD 100.000. Secara teori, siklus pasar biasanya melakukan reset menuju realized price di kisaran USD 56.000. Namun Ju menilai bahwa penurunan kali ini tidak harus sedalam itu.
Salah satu alasan dari pendapat Ju adalah meningkatnya kepemilikan institusi. Perusahaan seperti Strategy Michael Saylor, memegang Bitcoin dalam jumlah besar dan tidak menunjukkan sinyal untuk menjual meski pasar melemah. Dengan banyaknya Bitcoin yang tersimpan di tangan investor jangka panjang, tekanan suplai dapat terjadi lebih cepat dibanding siklus sebelumnya.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Likuiditas Global Masih Menjadi Faktor Penentu
Optimisme Ju bukan semata-mata hanya datang dari grafik harga, tetapi juga dari dari faktor politik dan kebijakan. Pemerintah di berbagai negara memiliki insentif untuk menjaga likuiditas tetap tinggi hingga setidaknya pertengahan tahun depan.
Jika kondisi tersebut berlanjut, aset berisiko dapat kembali menguat tanpa peringatan, sehingga strategi shorting agresif bisa menjadi langkah yang berbahaya.
Menurut Ju, meskipun volatilitas masih akan terasa, kondisi seperti ini bukanlah saat yang tepat untuk melepas kepemilikan jangka panjang.
CEO Bitwise, Hunter Horsley, memberikan pandangan tambahan dari sisi perilaku investor. Ia menyebut kondisi pasar saat ini sebagai fase redistribusi, di mana investor jangka panjang perlahan menyerap aset dari investor jangka pendek.
Horsley menjelaskan bahwa investor yang keluar sekarang umumnya adalah mereka yang masuk tanpa keyakinan kuat. Sebaliknya, investor yang masuk saat ini adalah mereka yang siap menjadikan harga terkini sebagai dasar investasi jangka panjang.
Dalam pandangannya, setiap koreksi justru memperkuat struktur pasar karena mengurangi jumlah investor yang mudah panik dan menambah jumlah pemegang aset yang lebih stabil.
Pasar Terlihat Rapuh, Namun Fondasinya Bisa Jadi Sedang Menguat
Sentimen ketakutan memang terlihat menonjol, tetapi proses akumulasi terjadi dengan tenang. Indikator sentimen memang menunjukkan tekanan, tetapi basis investor yang ada justru bisa semakin kuat.
Kedua analis sepakat bahwa volatilitas tidak selalu menandakan berakhirnya pasar bullish. Dalam beberapa kondisi, volatilitas justru menjadi fase reset sebelum pasar kembali menguat.
Rasa tertekan dalam jangka pendek mungkin tidak dapat dihindari, namun pihak yang mengumpulkan Bitcoin saat ini bisa menentukan seberapa kuat reli berikutnya ketika situasi mulai stabil.