Liputan6.com, Jakarta Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengaku masih mendapat laporan soal distributor pupuk yang menjual tidak sesuai harga eceran tertinggi (HET) kepada para petani. Sesuai instruksi Presiden Prabowo, hal itu tidak dibenarkan.
Atas dasar temuan itu, Amran meminta PT Pupuk Indonesia menindak para distributor tersebu.
Advertisement
"Kami menindaklanjuti semua laporan, satu minggu ini masih ada 115 (laporan) itu harga pupuk di atas HET. Hari ini kita tindak dan meminta kepada pupuk Indonesia untuk izinnya dicabut!" tegas Amran usai menghelat rapat pukul 6 pagi di kediamannya, di Jakarta Selatan, Jumat (21/11/2025).
Selain soal HET, Amran juga mendapat laporan soal 136 distributor pupuk yang mempersulit para petani mendapatkan pupuk karena masih mewajibkan penggunaan kartu tani. Padahal, kebijakan saat ini cukup hanya menggunakan KTP.
“Masih ada saudara kita dari seluruh Indonesia, 136 (distributor pupuk) yang melarang atau mempersulit untuk menebus pupuk dengan menggunakan KTP. Kalau ini 136, kami minta ditegur. Jadi teguran, tapi kalau minggu depan masih terjadi, izinnya juga kita cabut!,” tegas Amran lagi.
Distribusi Alat Pertanian Terhambat Pungli
Sebagai informasi, kebijakan harga pupuk sesuai HET, mendapatkan pupuk tanpa kartu tani, dan alsinta gratis menjadi kebijakan Kementerian Pertanian yang dijalankan Amran untuk mendongkrak hasil pangan di pemerintahan Prabowo.
Hasilnya signifikan, salah satunya adalah stok beras nasional yang kini mencapai lebih dari 4 juta ton, jumlah tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
Kementan Refokus Anggaran Rp 1,7 triliun
Diketahui, Kementerian Pertanian juga merefokuskan anggaran sebesar Rp 1,7 triliun untuk memperkuat sektor produktif, mulai dari pengadaan benih unggul hingga penyediaan alat mesin pertanian. Amran menekankan keberhasilan ini merupakan hasil kerja bersama lintas kementerian dan lembaga.
Data Kementerian Pertanian menunjukkan, Nilai Tukar Petani (NTP) naik ke 124,36%, PDB pertanian meningkat, dan FAO bahkan memproyeksikan produksi beras Indonesia akan mencapai 33,1 juta ton pada November 2025.