Bursa Asia Diprediksi Melemah Ikuti Kejatuhan Saham Teknologi AS

Bursa Asia melemah mengikuti penurunan Nasdaq dan data ekonomi AS yang menekan sentimen pasar.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 21 November 2025, 07:45 WIB
Pada awal perdagangan bursa Asia, pelaku pasar akan mencermati kemungkinan efek rambatan penutupan perdagangan Wall Street terhadap saham-saham teknologi utama di kawasan Asia dan Pasifik. Ilustrasi bursa saham Asia (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia dibuka melemah pada awal perdagangan Jumat ini. Pelemahan bursa saham di kawasan Asia dan Pasifik ini mengikuti koreksi saham teknologi di Wall Street dan memudarnya harapan investor terhadap pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (Fed) pada Desember.

Mengutip CNBC, Jumat (21/11/2025), awal perdagangan di Asia, pelaku pasar akan mencermati kemungkinan efek rambatan terhadap saham-saham teknologi utama di kawasan, sekaligus menunggu rilis data ekonomi penting dari Jepang.

Seperti diketahui, sejumlah saham teknologi besar seperti Oracle dan AMD menjadi yang pertama masuk ke zona merah. Nvidia, yang sempat menguat di awal sesi, berbalik turun dan akhirnya ditutup melemah hampir 3 persen.

Data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan kembali menimbulkan keraguan apakah bank sentral akan menurunkan suku bunga acuannya bulan depan.

Mengacu pada CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini hanya melihat sekitar 40 persen peluang pemangkasan suku bunga seperempat poin — perkembangan yang mengecewakan bagi investor yang mengharapkan biaya pinjaman lebih rendah.

Sedangkan Inflasi inti Jepang pada Oktober tercatat tumbuh pada laju tercepat sejak Juli, sesuai dengan perkiraan pasar. Data ini memperkuat ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BoJ).

 

Gerak Bursa Asia

Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Pada awal perdagangan Jumat pagi ini, indeks Nikkei 225 Jepang anjlok 1,57% pada pembukaan perdagangan, sementara indeks Topix turun 0,72%.

Sejumlah saham teknologi turut terkoreksi, dengan Advantest merosot lebih dari 9%, Tokyo Electron turun hampir 6%, Lasertec melemah hampir 5%, dan Renesas Electronics turun 1,95%.

Inflasi inti Jepang pada Oktober naik pada laju tercepat sejak Juli, sesuai perkiraan pasar. Data ini semakin memperkuat ekspektasi adanya kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan.

Di Korea Selatan, indeks Kospi jatuh 4,09%, sedangkan Kosdaq turun 3,01%. Saham-saham besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix anjlok masing-masing hingga 4% dan 9%.

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 melemah 1,3%.

Sementara itu, futures indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 25.460, lebih rendah dibanding penutupan terakhir HSI di 25.835,57.

Wall Street

Di pasar Amerika Serikat semalam, saham Oracle dan AMD menjadi dua pemain AI yang pertama kali masuk zona merah, disusul Nvidia yang sempat menguat namun akhirnya berbalik turun dan ditutup melemah hampir 3 persen.

Data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan kembali memunculkan keraguan apakah bank sentral akan menurunkan suku bunga acuan bulan depan.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini hanya memproyeksikan sekitar 40 persen peluang pemangkasan suku bunga seperempat poin—sebuah kemunduran bagi investor yang berharap biaya pinjaman lebih rendah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya