Longsor Banjarnegara, Pencarian 26 Orang Hilang Terkendala Cuaca dan Tanah Labil

Basarnas menyampaikan kondisi terkini operasi pencarian korban tanah longsor di Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

oleh Muhamad RidloDiterbitkan 20 November 2025, 14:34 WIB
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Kabasarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menjelaskan kondisi terkini operasi pencarian korban tanah longsor di Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Hingga Kamis siang (20/11/2025) atau hari ketiga longsor, sebanyak 26 orang masih dinyatakan hilang dan masih dalam pencarian.

BACA JUGA: Longsor di Lembah Anai, Batu Besar Tutup Jalur Padang-Bukittinggi

Berdasarkan laporan yang diterima Basarnas hingga Rabu malam, sebanyak 50 warga berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Sementara tiga warga ditemukan meninggal dunia dan 26 lainnya masih dinyatakan hilang.

“Jumlah itu bukan Basarnas yang menentukan, tapi berdasarkan laporan resmi yang masuk. Tugas kami adalah mencari korban-korban yang dilaporkan hilang. Itu yang kita laksanakan,” kata Syafii, saat meninjau lokasi longsor di Cilacap, Kamis (20/11/2025).

Syafii mengatakan bencana di wilayah tersebut memiliki karakter yang hampir sama dengan longsor di lokasi lain di Jawa Tengah, yakni aliran longsor yang menyapu permukiman warga yang berada di tepi ketinggian.

“Bentuk bencananya serupa. Terjadi tanah longsor dan aliran longsor itu menyapu penduduk yang berada di tepi ketinggian,” ujar Syafii saat dimintai keterangan mengenai perkembangan di Banjarnegara, di Cilacap, Kamis siang.

Menurut Syafii, kendala utama di lapangan adalah curah hujan yang masih sangat tinggi. Kondisi itu menyebabkan alat berat belum dapat bekerja secara efektif hingga Kamis pagi.

“Curah hujan di sana cukup tinggi, sehingga alat berat sampai pagi hari ini belum efektif untuk membantu operasi yang kita laksanakan,” katanya.

 

Evaluasi Kondisi Tanah

Usai meninjau operasi SAR di Cilacap, Syafii mengatakan akan segera bergerak ke Banjarnegara untuk melakukan evaluasi struktur dan kondisi lapangan. Ia menegaskan analisis kondisi tanah akan dilakukan bersama BMKG sebelum menentukan pola kerja berikutnya.

“Kita akan evaluasi perkembangan struktur dan bekerja sama dengan BMKG untuk melihat kondisi maupun potensi pergerakan tanah,” ujarnya.

Syafii juga menyinggung soal penanganan jangka panjang dan potensi relokasi warga terdampak. Menurutnya, langkah-langkah lanjutan terkait penataan kawasan merupakan ranah BNPB dan instansi pemerintah lainnya yang memiliki kompetensi khusus.

“Apakah wilayah itu akan dialihkan atau dihidupkan kembali, itu tanggung jawab BNPB dan badan-badan negara lain. Potensi longsor susulan harus diperhatikan,” katanya.

Ia memastikan operasi pencarian di Banjarnegara terus dilanjutkan dengan mengutamakan keselamatan personel SAR serta menyesuaikan metode kerja dengan kondisi cuaca dan stabilitas tanah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya