Bank Indonesia (BI) memperkirakan defisit transaksi berjalan pada 2014 sekitar 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Proyeksi ini lebih rendah dari asumsi defisit neraca transaksi berjalan pada tahun ini sebesar 2,4% dari PDB.
Perkiraan ini disampaikan Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo. Dia mengaku, impor minyak dan gas (migas) dalam jangka pendek bakal lebih rendah karena pemerintah telah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
"Sedangkan pada 2014, penurunan defisit transaksi berjalan karena impor migas lebih terkendali dan ekspor non migas akan lebih baik. Kondisi ini didukung pertumbuhan ekonomi, harga komoditas dan perdagangan dunia semakin membaik," tutur dia di Jakarta, seperti ditulis Selasa (25/6/2013).
Penopang lain, lanjut Perry yakni neraca modal yang akan mengalami surplus lebih besar pada tahun depan. Di samping karena penyesuaian harga BBM subsidi, kebijakan lanjutan yang akan ditempuh pemerintah dan BI bakal menimbulkan persepsi positif di pasar keuangan.
"Kenaikan fasbi dan BI rate beberapa waktu lalu ditanggapi positif oleh pasar. Ke depan, ini akan mendorong arus modal asing masuk dalam portofolio investasi ke Indonesia dan kejelasan langkah The Fed menghentikan Quantitative Easing (QE) mengurangi tekanan reversal sebagai salah satu faktor surplus neraca modal lebih besar," jelasnya.
Dengan begitu, kata Perry, BI optimistis neraca pembayaran dalam jangka pendek di kuartal III dan IV ini akan terus membaik di mana surplus neraca modal mampu mengimbangi defisit neraca transaksi berjalan yang trennya mengalami penurunan.
"Jadi defisit transaksi berjalan di 2014 diprediksi mengarah sekitar 2%. Kurs rupiah pun akan menguat dengan kenaikan harga BBM subsidi, tepatnya di kuartal III dan IV 2013 (Rp 9.500-Rp 9.700 per dolar AS)," papar dia.
Sepanjang kuartal I ini, BI melansir neraca pembayaran Indonesia (NPI) defisit US$ 6,6 miliar. Jumlah cadangan devisa pada akhir Maret 2013 turun menjadi sebesar US$ 104,8 miliar.
Keseimbangan eksternal Indonesia pada periode tiga bulan pertama justru mengalami perbaikan. Hal ini ditunjukkan dengan defisit transaksi berjalan yang menyusut dari defisit US$ 7,6 miliar atau 3,5% dari PDB akhir kuartal IV 2012 menjadi US$ 5,3 miliar atau 2,4% dari PDB di Januari-Maret 2013. (Fik/Nur)
Perkiraan ini disampaikan Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo. Dia mengaku, impor minyak dan gas (migas) dalam jangka pendek bakal lebih rendah karena pemerintah telah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
"Sedangkan pada 2014, penurunan defisit transaksi berjalan karena impor migas lebih terkendali dan ekspor non migas akan lebih baik. Kondisi ini didukung pertumbuhan ekonomi, harga komoditas dan perdagangan dunia semakin membaik," tutur dia di Jakarta, seperti ditulis Selasa (25/6/2013).
Penopang lain, lanjut Perry yakni neraca modal yang akan mengalami surplus lebih besar pada tahun depan. Di samping karena penyesuaian harga BBM subsidi, kebijakan lanjutan yang akan ditempuh pemerintah dan BI bakal menimbulkan persepsi positif di pasar keuangan.
"Kenaikan fasbi dan BI rate beberapa waktu lalu ditanggapi positif oleh pasar. Ke depan, ini akan mendorong arus modal asing masuk dalam portofolio investasi ke Indonesia dan kejelasan langkah The Fed menghentikan Quantitative Easing (QE) mengurangi tekanan reversal sebagai salah satu faktor surplus neraca modal lebih besar," jelasnya.
Dengan begitu, kata Perry, BI optimistis neraca pembayaran dalam jangka pendek di kuartal III dan IV ini akan terus membaik di mana surplus neraca modal mampu mengimbangi defisit neraca transaksi berjalan yang trennya mengalami penurunan.
"Jadi defisit transaksi berjalan di 2014 diprediksi mengarah sekitar 2%. Kurs rupiah pun akan menguat dengan kenaikan harga BBM subsidi, tepatnya di kuartal III dan IV 2013 (Rp 9.500-Rp 9.700 per dolar AS)," papar dia.
Sepanjang kuartal I ini, BI melansir neraca pembayaran Indonesia (NPI) defisit US$ 6,6 miliar. Jumlah cadangan devisa pada akhir Maret 2013 turun menjadi sebesar US$ 104,8 miliar.
Keseimbangan eksternal Indonesia pada periode tiga bulan pertama justru mengalami perbaikan. Hal ini ditunjukkan dengan defisit transaksi berjalan yang menyusut dari defisit US$ 7,6 miliar atau 3,5% dari PDB akhir kuartal IV 2012 menjadi US$ 5,3 miliar atau 2,4% dari PDB di Januari-Maret 2013. (Fik/Nur)