BI Rate Ditahan 4,75 Persen, Level Terendah Sejak 2022

Bank Indonesia kembali menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 19 November 2025, 15:10 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan Bank Indonesia melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 18–19 November 2025. BI juga menetapkan suku bunga Deposit Facility tetap berada pada 3,75 persen, sementara Lending Facility dipertahankan di posisi 5,50 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan jangka pendek pada stabilisasi nilai tukar rupiah dan menarik aliran masuk investasi portofolio asing dari dampak meningkatnya ketidakpastian global.

“Dengan tetap memperkuat efektivitas transmisi pelanggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini,” kata Perry Warjiyo dalam konferensi pers daring usai RDG, Rabu (19/11/2025).

Menurut Perry, bank sentral terus memperkuat instrumen moneter untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pemulihan ekonomi.

BI sebelumnya telah memangkas BI Rate sebesar 150 basis poin sejak September 2024 sampai Oktober 2025, sehingga mencapai 4,75 persen angka yang menjadi yang terendah sejak 2022.

Stabilitas nilai tukar Rupiah tetap dijaga melalui intervensi di pasar offshore, transaksi di pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

BI juga menetapkan tingkat bunga untuk instrumen valas yang lebih kompetitif guna menjaga minat penempatan dana.

Dari sisi likuiditas, BI mengurangi outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dari Rp 916,97 triliun pada awal 2025 menjadi Rp 699,3 triliun per 17 November 2025.

Selain itu, pembelian SBN mencapai Rp 289,91 triliun, termasuk melalui skema debt switching bersama pemerintah.

Syarat Turunkan BI Rate

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat mengikuti rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (31/5). Rapat tersebut beragenda keterangan pemerintah atas KEM PPKF RAPBN 2023 dan RKP Tahun 2023 serta Proyeksi Ekonomi Tahun 2023. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo masih membuka kemungkinan terkait penurunan suku bunga acuan di akhir 2025 ini. Menurut dia, pemangkasan BI rate bakal dilakukan jika beberapa syarat telah terpenuhi.

Pertama, bank sentral bakal menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate jika tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional dalam kondisi terkendali.

"Ada ruang penurunan BI rate ke depan. Kapan dan besarnya itulah yang kami pertimbangkan, adalah seberapa besar inflasi ke depan yang terkendali dan ruang pertumbuhan ekonomi," kata Perry dalam konferensi pers hasil rapat KSSK di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Senin (3/11/2025).

Namun yang terpenting, ia menekankan soal efektivitas transmisi kebijakan moneter kepada pihak perbankan, utamanya soal penurunan suku bunga kredit.

"BI akan terus mencermati efektivitas transmisi kebijakan moneter longgar yang ditempuh. Bagaimana ini diikuti dengan perkembangan Deposit Facility dan Lending Facility," bebernya.

"Bagaimana kelonggaran dari ekspansi moneter, termasuk juga tambahan dana Rp 200 triliun dari Pak Menteri Keuangan, mendorong kredit dan juga pertumbuhan ekonomi," dia menambahkan.

Fokus Minta bunga Kredit Turun

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam pengumuman Hasil RDG November 2024, Rabu (20/9/2024). (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Adapun Gubernur Bank Indonesia telah berulang kali menuturkan, bahwa bank sentral masih membuka opsi penurunan suku bunga acuan lanjutan ke depan. Meskipun Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21-22 Oktober 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 4,75 persen.

Pery sebelumnya mengatakan, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak 6 kali. Oleh karenanya, pihak bank sentral saat ini fokus untuk memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter kepada pihak perbankan, utamanya soal penurunan suku bunga kredit kredit.

"Penurunan suku bunga BI rate telah diikuti penurunan suku bunga di pasar uang. Bahkan suku bunga yield imbal hasil SBN juga sudah turun," ujar Perry dalam sesi konferensi pers hasil RDG BI Oktober 2025 lalu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya