Liputan6.com, Jakarta - Di Kwitang, Jakarta Pusat, waktu seakan bergerak lebih lambat dibandingkan arus kendaraan dan pembangunan yang terus melaju di sekitarnya. Deretan ruko di sepanjang jalan terlihat seperti sentra niaga biasa, namun bagi sebagian orang, khususnya mereka yang tumbuh bersama tradisi berburu buku, kawasan ini merupakan jejak masa emas pencarian pengetahuan yang sulit digantikan.
Pada masanya, Kwitang menjadi titik temu mulai dari pelajar, mahasiswa, akademisi yang datang dari berbagai daerah untuk menelusuri setiap sudut dan menemukan buku rujukan yang tidak tersedia di tempat lain.
Advertisement
Kini kondisinya tidak lagi sama. Rak-rak kayu dan tumpukan buku masih tertata rapat, namun kerumunan pembeli yang dulu menjadi ciri khasnya sudah jauh berkurang. Pengunjung datang lebih jarang dan dalam jumlah yang kecil, sebagian hanya sekedar melihat-lihat atau membandingkan harga dengan toko daring.
Perubahan pola ini juga dirasakan para pedagang yang telah merasakan masa jaya sejak Kwitang masih berada di trotoar. “Pastilah, pasti pengaruh. Di samping itu zaman yang semakin canggih. Pertama-tama ada toko online, ada toko offline,” ujar Bang Jay (54) yang mulai berjualan sejak 1997, kepada Liputan6.com, Selasa (18/11/2025), menggambarkan perubahan yang tak bisa dihindari.
Meski demikian, sebagian pedagang masih percaya bahwa Kwitang tidak semata kehilangan pamor, melainkan sedang menjalani bentuk yang berbeda seiring perkembangan zaman. Hal itu ditegaskan Bang Jay yang menilai kawasan buku ini masih memiliki tempat tersendiri meski tidak seramai dulu.
“Pasar Buku Kwitang ini tetap ada dan eksis. Kwitang ini kan ikonnya buku kota Jakarta,” ujarnya sambil menegaskan bahwa keberadaan Kawasan Kwitang tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang literasi masyarakat ibu kota
Dari Lorong Trotoar ke Etalase Digital
Kwitang tidak hanya dikenal sebagai tempat menjual buku. Dahulu, kawasan ini adalah ruang belajar terbuka, pusat diskusi non formal, hingga arena tawar-menawar yang menjadi budaya tersendiri. Namun hari ini, bukan lagi langkah yang menuntun pembaca menemukan buku, melainkan algoritma dan promo kilat.
Marketplace yang menawarkan kecepatan, variasi, dan harga yang sulit ditandingi. Generasi muda yang tidak lagi perlu memegang buku, membuka tiap halaman, atau bertanya panjang lebar kepada penjual buku, karena kini cukup dengan klik dan tunggu kurir datang semua bisa dengan mudah didapatkan
Bang Jay, pedagang buku di Kwitang yang telah berjualan sejak 1997, mengakui perubahan pola pembeli tersebut.
“Sekarang pembeli banyak bandingin harga online. Ya monggo, mau beli di sana boleh, mau offline juga boleh,” ujarnya, menekankan bahwa persaingan bukan lagi sekadar antar-kios, tetapi antar sistem ekonomi.
Menurutnya, keberadaan toko online bukan semata-mata menjadi pesaing, tetapi juga jembatan baru. “Offline dan online ini bagaikan dua mata kail, kalau yang satu kurang, yang lain bisa bantu,” katanya. Strategi itulah yang membuatnya tetap menyalakan lampu toko setiap hari.
Relokasi dan Hilangnya Atmosfer Jalanan
Dahulu, Kwitang merupakan lokasi yang identik dengan deretan lapak yang menempel rapat di sepanjang trotoar. Lantai yang sederhana menjadi rak tak resmi, sementara tumpukan buku berjejer seperti labirin kecil yang mengundang siapa saja untuk berhenti sekadar menyentuh punggung bukunya. Bau kertas bekas, debu jalanan, dan seruan pedagang menjadi harmoni khas yang tak bisa ditiru di ruang manapun.
Jika hujan datang, para pedagang sigap menutup buku dengan terpal dan plastik, sementara pembeli menunggu di bawah payung atau emperan toko, momen yang menciptakan kedekatan emosional antara pedagang dan pengunjung.
Namun, sejak para pedagang dipindahkan ke ruko yang lebih tertata, suasana tersebut perlahan berubah. Deretan trotoar yang dulu penuh interaksi kini digantikan ruang jual beli yang lebih formal, rapi, dan jelas batasnya. Kios-kios yang dulu terbuka dan mengundang, kini dibatasi pintu yang lebih teratur.
Di satu sisi, kondisi ini membuat pedagang lebih nyaman, sudah tidak lagi khawatir hujan, panas, atau harus membongkar lapak setiap hari. Tapi di sisi lain, nuansa spontanitas yang dulu menjadi ciri khas perburuan sastra di Kwitang perlahan memudar.
Meski demikian, bagi Bang Jay dan beberapa pedagang lainnya, esensi dan daya tarik pasar buku di Kwitang tidak serta-merta hilang. “Tidak ada kehilangan. Pasar buku Kwitang tetap eksis,” ujarnya meyakinkan
Menurutnya, Kwitang saat ini tidak mati, hanya berubah, mencoba menyesuaikan diri di antara tantangan zaman tanpa sepenuhnya meninggalkan dasar historisnya.
Pengunjung Menyusut, Pola Interaksi Bergeser
Seperti halnya kawasan dagang lain, Kwitang juga memiliki ritme kunjungan yang naik turun sepanjang tahun. Menurut Bang Jay, keramaian biasanya masih terlihat ketika tahun ajaran baru dimulai, misalnya saat para mahasiswa membutuhkan buku pendukung kuliah dan mencari referensi cetak yang tidak selalu tersedia di perpustakaan kampus.
“Biasanya ramai tahun ajaran baru,” jelasnya, menandakan bahwa meski jumlahnya tidak sebesar dahulu, segmen mahasiswa masih menjadi salah satu penopang penjualan offline di Kwitang.
Namun, kini muncul pola baru yang jauh lebih dominan yaitu, interaksi pembeli yang tidak lagi berlangsung secara spontan di toko, melainkan melalui percakapan jarak jauh menggunakan telepon genggam. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu diajukan langsung di depan tumpukan buku, kini beralih ke ruang chat WhatsApp atau media daring lainnya.
Calon pembeli akan mengirim foto sampul, menanyakan stok, meminta kisaran harga, hingga menawar tanpa harus bertatap muka.
"Online juga sering sih. Lebih banyak nanya di online sekarang,” ungkap Bang Jay
Polanya pun semakin mirip layanan personal shopper di mana pembeli sering meninggalkan permintaan untuk dicarikan judul tertentu, menanyakan ketersediaan edisi lama, bahkan meminta konfirmasi melalui foto sebelum memutuskan untuk membeli.
Cara ini menguntungkan karena membuka jangkauan pembeli lebih luas, namun di sisi lain mengurangi intensitas kunjungan langsung yang dulu menjadi ciri khas kawasan buku Kwitang sebagai ruang temu antara pembaca dan penjual.
Hadirnya EBook dan PDF, Tantangan Baru yang Tidak Terlihat
Selain persaingan harga dari marketplace, pedagang buku fisik di Kwitang kini menghadapi tantangan lain yang tidak kasat mata, yaitu hadirnya file digital. Mahasiswa dan pelajar, yang dulu menjadi kelompok pembeli paling aktif, kini memiliki akses mudah terhadap dokumen PDF, repositori kampus, hingga perpustakaan digital berbasis aplikasi. Akses tersebut membuat kebutuhan akan buku fisik, terutama buku akademik, semakin berkurang.
Bang Jay menceritakan bahwa ia pernah didatangi seorang mahasiswa yang awalnya berniat membeli buku-buku tentang perkuliahan, namun akhirnya mengurungkan niatnya setelah menyadari bahwa versi digitalnya sudah tersedia.
“Katanya sudah punya PDF nya. Itu jadi hal yang mempengaruhi,” ucapnya menggambarkan bagaimana keputusan pembelian hari ini tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan barang, tetapi juga oleh pilihan alternatif yang bersifat instan dan gratis atau berbiaya murah.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi dan kebutuhan akan kepemilikan fisik menuju aksesibilitas konten. Meski demikian, Bang Jay menyebut bahwa saat ini masih ada kategori-kategori buku yang memiliki nilai jual pasar yang stabil, bahkan tetap diminati.
"Sekarang ini yang agak booming ya novel, komik, dan buku-buku sejarah,” tambahnya.
Di sinilah persaingan baru lainnya muncul, bukan lagi antara lapak fisik dan toko daring, tetapi antara sensasi meraba halaman kertas dan kemudahan menggeser layar.
Ekonomi, Budaya dan Identitas yang Dipertaruhkan
Lebih dari sekedar kompetisi dagang, perubahan yang terjadi di Kwitang sesungguhnya merupakan persaingan identitas sekaligus keberlanjutan budaya dan literasi kota. Pertanyaan yang kini muncul bukan hanya soal bagaimana pedagang mempertahankan penjualan, tetapi apakah Kwitang masih memiliki ruang relevansi di tengah generasi pembaca baru yang tumbuh dengan pola konsumsi digital.
Bagi sebagian kalangan, keberadaan pasar buku ini tidak hanya dihitung dari jumlah transaksi, melainkan dari peran sejarahnya sebagai pusat pengetahuan nonformal yang dahulu mempertemukan berbagai latar sosial, profesi, dan tujuan belajar.
Harapan agar Kwitang tetap hidup juga muncul dari pedagang, termasuk Bang Jay, yang beranggapan bahwa buku memiliki nilai yang jauh lebih besar dari hanya sekedar benda niaga.
“Kami berharap pemerintah peduli. Buku ini aset pendidikan,” ujarnya sambil menekankan bahwa keberadaan Kwitang seharusnya tidak hanya dipandang sebagai area komersial, tetapi juga sebagai ruang warisan literasi yang sudah melewati beberapa dekade persaingan dan perubahan zaman.
Menurutnya, campur tangan pemerintah, baik dalam revitalisasi kawasan, atau dukungan program literasi, dapat membantu mengembalikan posisi Kwitang ke ruang publik yang lebih luas. Baginya media massa maupun ruang publikasi lain menjadi penting sebagai penegasan bahwa kawasan ini belum hilang dari peta literasi Jakarta.
Bang Jay menilai bahwa publik perlu kembali diingatkan bahwa Kwitang masih ada dan tetap beroperasi, meskipun tidak seramai dulu.
“Buku Kwitang itu masih ada, buku Kwitang itu eksis, cuma memang tidak seramai dulu,” ujarnya dengan tatapan yang penuh harap.
Di sisi lain, perbedaan persepsi antar generasi juga menjadi faktor penting dalam perubahan citra kawasan ini. Bagi mereka yang tumbuh pada era 1980 hingga 2000-an, Kwitang menyimpan memori emosional berupa pengalaman fisik mencari buku, berburu edisi langka, serta berinteraksi langsung dengan penjual.
Namun bagi generasi yang kini berada di lingkup platform digital dan konten singkat seperti TikTok, Instagram, hingga marketplace, Kwitang kerap muncul sebagai bagian dari nostalgia kota, bukan destinasi yang perlu dikunjungi untuk memenuhi kebutuhan informasi.