Penasaran 18 November Hari apa? Ini Sederet Peringatannya

Tanggal 18 November diperingati dengan sejumlah momentum penting, baik di Indonesia maupun dunia. Beberapa di antaranya berkaitan dengan sejarah nasional, perkembangan organisasi keagamaan, hingga isu kesehatan global yang tengah menjadi perhatian serius

oleh Siti Khoirul InayahDiterbitkan 18 November 2025, 06:30 WIB
Ilustrasi Kalender 2025. (Dok: pexels/Matheus Bertelli)

Liputan6.com, Jakarta - Tanggal 18 November diperingati dengan sejumlah momentum penting, baik di Indonesia maupun dunia, Selasa (18/11/2025).

Beberapa di antaranya berkaitan dengan sejarah nasional, perkembangan organisasi keagamaan, hingga isu kesehatan global yang tengah menjadi perhatian serius.

Di Indonesia, tanggal ini identik dengan Hari Sawit Nasional, momen untuk mengenang awal mula penanaman kelapa sawit secara komersial pada 18 November 1911 di Aceh dan Sumatera Utara (Sumut).

Penanaman perdana inilah yang menandai lahirnya industri sawit modern dan kelak menempatkan Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar di dunia.

Usulan peringatannya sendiri dideklarasikan Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) pada 2017 sebagai upaya memperkuat literasi publik mengenai kontribusi strategis kelapa sawit.

Masih dari Indonesia, 18 November juga diperingati sebagai Milad Muhammadiyah, organisasi Islam besar yang berdiri pada 18 November 1912.

Berawal dari sebuah madrasah sederhana di rumah KH. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah berkembang menjadi gerakan dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial yang menjangkau seluruh Nusantara.

Tahun ini, Muhammadiyah memasuki usia 113 tahun dengan tema 'Memajukan Kesejahteraan Bangsa', yang menegaskan komitmen memperkuat kesejahteraan sosial-ekonomi sekaligus spiritual masyarakat.

Secara global, tanggal ini juga berada dalam rangkaian Pekan Kesadaran Antibiotik Sedunia (World Antimicrobial Awareness Week) yang berlangsung setiap 18–24 November.

WHO menegaskan bahwa resistensi antibiotik kini menjadi salah satu ancaman kesehatan paling serius di dunia, dengan 700 ribu kematian per tahun dan berpotensi meningkat menjadi 10 juta pada 2050 jika tidak ditangani.

Melalui pekan ini, WHO mendorong tenaga kesehatan hingga masyarakat untuk menggunakan antibiotik secara bijak dan sesuai aturan demi mencegah krisis kesehatan yang lebih besar.

Berikut deretan peringatan yang jatuh pada 17 November dihimpun oleh Tim News Liputan6.com dari berbagai sumber:

Hari Sawit Nasional

Hamparan kebun sawit yang masuk dalam program peremajaan sawit rakyat PTPN V. (Liputan6.com/M Syukur)

Hari Sawit Nasional diperingati setiap 18 November sebagai pengingat momen penting dalam sejarah perkebunan Indonesia.

Mengutip laman resmi Dinas Pertanian Perkebunan dan Perikanan Kota Subulussalam serta Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), tanggal ini merujuk pada penanaman kelapa sawit secara komersial pertama kali di Indonesia pada 18 November 1911.

Penanaman perdana berlangsung di kebun Sungai Liput, Aceh, dan Pulu Raja, Asahan, Sumatera Utara, yang kemudian menjadikan Sumatera Utara sebagai wilayah perintis perkebunan sawit nasional.

Pada tahun 2017, Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) mengusulkan penetapan Hari Sawit Nasional untuk diperingati setiap tahun.

Tujuannya adalah mengenalkan kontribusi besar industri sawit serta menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia.

Pemilihan tanggal 18 November pun didasarkan pada data pustaka PPKS Medan yang mencatat bahwa hari tersebut merupakan awal mula pengembangan sawit secara komersial di Tanah Air.

Milad Muhammadiyah

Ilustrasi - Bendera Muhammadiyah. (Foto: muhammadiyah.or.id/Liputan6.com)

Dilansir dari situs resmi  Muhammadiyah.or.id, Hari Milad Muhammadiyah diperingati untuk menandai berdirinya organisasi Muhammadiyah pada 18 November 1912 atau 8 Dzulhijjah 1330 H.  

Organisasi ini berawal dari berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah oleh KH. Ahmad Dahlan pada 1912, yang awalnya hanya menggunakan ruang tamu rumahnya dan memiliki sekitar asyarak santri.

Demi menjaga keberlangsungan madrasah, KH. Ahmad Dahlan kemudian membentuk organisasi Muhammadiyah sebagai asyara dakwah yang meneladani ajaran Rasulullah SAW.

Walau sempat mengalami pembatasan pada masa Hindia Belanda, Muhammadiyah akhirnya diakui secara resmi melalui Besluit 22 Agustus 1914 Nomor 81 dan berkembang ke seluruh Nusantara.

Tahun ini Muhammadiyah memasuki usia 113 tahun, dengan tema 'Memajukan Kesejahteraan Bangsa', yang menekankan komitmen memperluas asyara kesejahteraan sosial-ekonomi sekaligus spiritual bagi masyarakat.

Pekan Kesadaran Antibiotik Sedunia

Ilustrasi antibiotik. Kredit: Arek Socha via Pixabay

Dilansir dari laman national today, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan pekan 18–24 November sebagai momen global untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap resistensi antibiotik, salah satu ancaman kesehatan terbesar saat ini.

WHO menegaskan bahwa ketika penyakit tidak lagi mempan terhadap antibiotik konvensional, nyawa manusia terancam sesederhana itu.

Masalah ini terus meningkat, terutama di negara-negara dengan kemiskinan tinggi yang rentan terhadap infeksi berulang dan penggunaan antibiotik yang tidak tepat.

Pada Mei 2015, Majelis Kesehatan Dunia bahkan menetapkannya sebagai darurat kesehatan internasional. WHO menyebut mekanisme resistensi baru kini menyebar secara global dan membuat pengobatan penyakit umum seperti pneumonia, TBC, gonore, sepsis, hingga infeksi bawaan makanan semakin sulit, bahkan kadang mustahil.

WHO juga merumuskan lima tujuan global: meningkatkan kesadaran, memperkuat riset, mengurangi infeksi, penggunaan antibiotik yang bijak, serta komitmen investasi berkelanjutan.

Negara-negara diminta menyelaraskan rencana aksi nasional dengan standar global, termasuk pengawasan penggunaan antibiotik pada manusia, hewan, dan sektor pertanian.

Dikutip dari laman World Health Organization (WHO) menyaatakan bahwa resistensi antimikroba merupakan krisis global yang mengancam kemajuan di bidang Kesehatan, dan menimbulkan tantangan berat terhadap pencapaian Kesehatan universal.

Diperkirakan tercatat 700.000 kematian di seluruh dunia akibat resistensi antimikroba setiap tahunnya. Dan apabila tidak segera ditangani pada tahunn 2050 angka tersebut meningkat menjadi 10 juta.

WHO juga menghimbau kepada seluruh tenaga Kesehatan agar meresepkan obat secara tepat dan sesuai dengan pedoman nasional dan internasional, juga mencuci tangan secara teratur dan mengikuti vaksinasi yang diwajibkan.

Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menghambat peningkatan resistensi. Setiap orang di haruskan mencari saran medis untuk pengobatan antibiotik, hindari menggunakan antibiotik sisa atau yang diresepkan untuk orang lain, dan selalu habiskan dosis yang diresepkan, meskipun sudah sembuh.

Infografis Gejala, Pencegahan dan Pengobatan Flu Singapura. (Liputan6.com/Abdillah)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya