Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada periode 10-14 November 2025.IHSG sepekan loyo didorong sejumlah sentimen internal dan eksternal. Namun, rata-rata transaksi harian justru meningkat selama sepekan.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (15/11/2025), IHSG melemah 0,29% ke posisi 8.370,43 pada pekan ini. Pada pekan lalu, IHSG naik signifikan 2,8% ke posisi 8.394. Sementara itu, kapitalisasi pasar tetap di posisi Rp 15.316 triliun.
Advertisement
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG melemah selama sepekan dan disertai dengan munculnya tekanan jual. “Namun demikian, pergerakannya masih cenderung uptren,” kata Herditya saat dihubungi Liputan6.com.
Ia mengatakan, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi pergerakan IHSG. Pertama, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang masih rawan koreksi. Kedua, penguatan harga komoditas emas dunia yang dibayangi oleh sentimen shutdown pemerintah AS atau penutupan pemerintahan AS.
Ketiga, melemahnya data tenaga kerja AS di mana meningkatkan kekhawatiran investor akan ditundanya pemangkasan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS pada Desember 2025. “Keempat, meningkatnya data IKK dan penjualan Indonesia,” kata dia.
Selain itu, kenaikan tertinggi tercatat pada rata-rata volume transaksi harian bursa pada pekan ini dengan pertumbuhan 99,35% menjadi 53,95 miliar saham dari 27,07 miliar saham pada pekan lalu. Peningkatan diikuti oleh rata-rata nilai transaksi harian BEI, meningkat 33,04% menjadi Rp 23,34 triliun dari Rp 17,54 triliun pada pekan lalu.
Rata-rata frekuensi transaksi harian bertambah 24,84% menjadi 2,7 juta kali transaksi dari 2,16 juta kali transaksi pada pekan lalu.
Sementara itu, pada pekan ini, investor asing kembali melakukan aksi beli saham. Investor asing membeli saham Rp 3,84 triliun dari pekan lalu Rp 3,45 triliun.
IHSG Sentuh Rekor Tertinggi Lagi, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp 15.316 Triliun
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh rekor tertinggi lagi pada perdagangan 3-7 November 2025.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (8/11/2025), IHSG sepekan naik 2,83% dengan ditutup ke posisi 8.394,59. "Hal tersebut menjadi rekor tertinggi IHSG sepanjang sejarah,” ujar Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad.
Adapun kondisi IHSG berbeda dari pekan lalu. Saat itu IHSG turun 1,3% ke posisi 8.163,87. Kapitalisasi pasar BEI naik 3,09% menjadi Rp 15.316 triliun dari Rp 14.857 triliun pada pekan lalu.
Vice President Head of Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi Kasmarandana menilai kenaikan IHSG didorong oleh beberapa sentimen. Pertama, rilis data ekonomi Indonesia yang masih solid, yakni Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal ketiga tumbuh 5,04% y/y.
Selain itu, PMI Manufaktur di level 51,2 per Oktober 2025 atau di zona ekspansif, selanjutnya pertumbuhan inflasi sebesar 2,86% y/y per Oktober 25 yang menunjukkan masih terjaga di target Bank Indonesia (BI).
"Pertumbuhan ekspor meningkat menjadi 11,4% y/y atau di atas bulan sebelumnya yang menunjukkan aktivitas ekonomi yang meningkat,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan singkat.
Sentimen IHSG Lainnya
Kedua, rilis kinerja kuartal ketiga 2025. Oktavianus menuturkan, beberapa sektor menunjukkan outperform dibandingkan periode sebelumnya sehingga mendorong demand dan normalisasi harga saham pada nilai wajarnya.
Ketiga, menurunnya kekhawatiran pasar pada kebijakan tarif Amerika Serikat (AS), seiring dengan pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Xi Jinping yang mendapatkan kesepakatan.
"Selain itu, government shutdown yang masih berlanjut berpotensi menekan indeks USD, sehingga di sisi lain tekanan terhadap Rupiah sudah mulai berkurang,” kata Oktavianus.
Di sisi lain, rata-rata frekuensi transaksi harian merosot 6,85% menjadi 2,16 juta kali transaksi dari 2,32 juta kali transaksi pada pekan lalu.
Rata-rata volume transaksi harian bursa pada pekan ini turun 14,37% menjadi 27,06 miliar saham dari 31,61 miliar saham pada pekan lalu. Rata-rata nilai transaksi harian BEI tergelincir 22,46% menjadi Rp 17,54 triliun dari Rp 22,63 triliun pada pekan lalu.
Selama sepekan ini, investor asing masih mencatatkan aksi beli saham. Tercatat aksi beli saham mencapai Rp 3,45 triliun dari pekan lalu Rp 5,53 triliun.