Liputan6.com, Jakarta - MEXC Foundation bersama Triv, platform perdagangan aset kripto di Indonesia, meluncurkan program beasiswa F.I.R.E (Future Innovators in Rising Economy). Inisiatif ini bertujuan mengembangkan SDM muda yang tertarik pada teknologi blockchain dan Web3 melalui pendidikan, mentorship, serta pengalaman industri.
Program tersebut dirancang untuk menjembatani kebutuhan talenta di ekonomi digital Indonesia yang tumbuh pesat, khususnya dalam menghubungkan kemampuan akademik dengan penerapan praktis teknologi blockchain.
Advertisement
CEO & Founder Triv, Gabriel Rey, menilai program ini dapat membuka peluang karier lebih luas bagi generasi muda di sektor digital. Ia menyoroti tren global di mana banyak tokoh sukses berasal dari sektor teknologi, sembari berharap Indonesia mampu menjadi pemain terdepan di kawasan.
"Beasiswa yang kami luncurkan tidak main-main, kami bekerjasama dengan beberapa universitas ternama dan terbesar di Indonesia. Ini bukti nyata bahwa industri kripto di Indonesia berdampak sangat besar ke masyarakat Indonesia. Dulu ada stigma industri kripto adalah sesuatu yang meragukan tapi sekarang industri ini sudah bisa memberikan dampak langsung ke seluruh masyarakat di Indonesia,” ujar dia, seperti dikutip Sabtu (15/11/2025).
VP MEXC Foundation Kristina Xu mengatakan kolaborasi ini berlandaskan visi yang sama terkait pemberdayaan generasi muda lewat pendidikan dan teknologi. Ia menyebut populasi muda Indonesia serta rekam jejak Triv di pasar lokal menjadi faktor yang mendukung kemitraan ini.
Kedua organisasi menargetkan pembangunan jalur pengembangan talenta jangka panjang agar Indonesia dapat memperkuat posisinya di ekonomi digital regional. Kristina menegaskan bahwa Indonesia kini dipandang sebagai salah satu wilayah dengan potensi besar dalam pertumbuhan blockchain dan Web3.
Menurut dia, negara ini memiliki karakteristik unik berupa populasi digital native yang besar, tingkat adopsi ritel yang kuat, dan regulasi yang semakin jelas.
"Kami percaya Indonesia sangat berpotensi menjadi pusat blockchain dan Web3 terkemuka di Asia Tenggara pada siklus ini, dan salah satu yang paling dinamis di dunia,” kata Kristina.
Menambahkan Keahliaan
Ia menambahkan, Indonesia dinilai menjanjikan baik sebagai basis pengembang maupun pusat inovasi. Program F.I.R.E disebut bertujuan menanamkan keahlian teknis sekaligus pola pikir kreatif untuk mendorong kontribusi Indonesia dalam inovasi blockchain global.
Kristina turut menyoroti persaingan berbagai negara dalam membangun talenta di sektor ini. Ia menilai pendekatan Indonesia lebih berbasis komunitas dan inklusif, dengan kolaborasi antara kampus dan industri yang menguatkan ekosistem inovasi. Pendekatan ini dinilai memberi ruang bagi generasi muda untuk menggunakan teknologi blockchain dalam konteks sosial maupun ekonomi.
Founder & CEO CryptoWave, Goldwin Halim, menilai pesatnya pertumbuhan industri blockchain dan Web3 menuntut literasi publik yang lebih kuat.
"Dengan edukasi publik yang benar, kita bisa memperkuat ekosistem, bukan hanya dari sisi investor, tetapi juga dari sisi inovator dan talenta masa depan,” katanya.
Minat Mahasiswa
Goldwin menambahkan, minat mahasiswa terhadap blockchain meningkat signifikan, tetapi banyak yang masih mempelajari teknologi ini berdasarkan tren. Ia melihat program kerja sama Triv Foundation dan MEXC Foundation dapat membantu mengarahkan minat tersebut menjadi keahlian yang lebih terstruktur.
CryptoWave berperan sebagai penghubung informasi antara industri dan masyarakat, memastikan penyampaian terkait program lebih mudah dipahami dan menarik bagi mahasiswa.
"Kami ingin memastikan edukasi tidak hanya informatif, tapi juga relevan dan membangun kepercayaan," ia menambahkan.
Mengenai prospek talenta blockchain Indonesia, Goldwin menilai posisinya tidak tertinggal dibanding negara Asia lain. Ia menyebut Indonesia sedang memasuki fase percepatan berkat basis pengguna besar, komunitas aktif, serta meningkatnya dukungan institusional. Tantangan yang muncul meliputi kurangnya materi pembelajaran dalam bahasa Indonesia, stigma “cepat kaya”, serta minimnya role model teknis lokal.
"Tantangannya kombinasi dari beberapa hal, misalnya sumber belajar berbahasa Indonesia masih minim, stigma ‘kripto cepat kaya’ masih kuat, dan role model lokal di bidang teknis masih sangat sedikit. CryptoWave ingin mengisi gap itu dengan menghadirkan edukasi yang kredibel, terstruktur, dan berbasis data,” ujarnya.