Cerita Ruben Amorim Merasa 'Tak Berdaya' di Qatar, Kini Hadapi Tekanan Lebih Berat di Manchester United

Ruben Amorim mungkin kini dikenal sebagai pelatih muda yang berani dan visioner di Manchester United. Namun, jauh sebelum duduk di kursi panas Old Trafford, ia pernah merasakan fase sulit ketika masih bermain di Qatar.

oleh Ari Rachman PrayogaDiterbitkan 14 November 2025, 11:17 WIB
Manajer Manchester United, Ruben Amorim, terpilih sebagai Manajer Terbaik Premier League edisi Oktober. (dok. Premier League)

Liputan6.com, Jakarta Ruben Amorim mungkin kini dikenal sebagai pelatih muda yang berani dan visioner di Manchester United. Namun, jauh sebelum duduk di kursi panas Old Trafford, ia pernah merasakan fase sulit ketika masih bermain di Qatar.

Mantan pelatihnya di Al-Wakrah, Mauricio Larriera, mengungkap bagaimana Amorim kerap diliputi rasa frustrasi dan “tak berdaya” selama menjalani musim 2015/2016 di Qatar Stars League.

Larriera menuturkan, standar tinggi dan ambisi besar yang dimiliki Amorim justru sering membuatnya tersulut emosi, baik di sesi latihan maupun pertandingan.

“Dia selalu bermain bagus, tapi dua kali diusir dari lapangan. Setiap kali itu terjadi, dia lebih marah pada dirinya sendiri ketimbang saya,” kenang pelatih asal Uruguay tersebut dalam wawancara dengan O Jogo.

Larriera kerap menenangkan Amorim yang kala itu kaget dengan kondisi sepak bola Qatar yang masih dalam tahap perkembangan. “Kadang saya harus memeluknya sambil bilang, ‘Tenang, Qatar memang begini.’”


Kaget Ruben Amorim Jadi Pelatih Top

Ruben Amorim pada laga pekan ke-3 Premier League 2025/2026 antara Manchester United vs Burnley - AP Photo/Ian Hodgson

Meski penuh dinamika, Larriera mengaku banyak belajar dari sang gelandang. Amorim yang dikenal tekun dan haus ilmu bahkan membantu sang pelatih meningkatkan kualitas sesi latihan.

Keduanya tinggal di kawasan yang sama, menghabiskan waktu panjang berbincang tentang hidup dan sepak bola. Namun, Larriera tak pernah menyangka pemain yang dikenal pendiam itu akan menjadi salah satu pelatih elit Eropa.

Keputusan Amorim pensiun muda pada usia 32 tahun menjadi titik balik. Ia memulai karier kepelatihan di Casa Pia pada 2018, lalu meraih perhatian besar saat membawa Braga juara Taca da Liga di musim debut.

Perjalanannya makin gemilang di Sporting CP dengan dua gelar Liga Portugal dan dua trofi Taca da Liga, memperkokoh reputasinya sebagai pelatih berbakat.

Puncaknya, pada November tahun lalu, Amorim ditunjuk sebagai penerus Erik ten Hag di Manchester United. Namun, masa-masa awalnya di Inggris jauh dari mulus.


Kinerja Ruben Amorim di Manchester United Mulai Berbuah

Pelatih Ruben Amorim yang didatangkan untuk menggantikan posisi Erik ten Hag pada November 2024 lalu gagal memperbaiki performa The Red Devils di kancah domestik. (Oli SCARFF/AFP)

Musim pertamanya berakhir pahit: United terjerembap di peringkat 15, capaian terburuk klub dalam sejarah Premier League. Gaya bermain inovatif yang ia usung belum kunjung membuahkan hasil, bahkan memancing keraguan apakah pendekatannya cocok untuk klub sebesar United.

Meski begitu, secercah harapan mulai terlihat musim ini. United akhirnya mencatat kemenangan beruntun untuk pertama kalinya di bawah komandonya, dan kini duduk di posisi ketujuh klasemen. FA Cup menjadi satu-satunya peluang realistis mereka mengangkat trofi.

Dari Qatar hingga Old Trafford, perjalanan Amorim memperlihatkan satu hal yang konsisten: ia selalu menuntut standar tertinggi, dari dirinya sendiri dan timnya.

Namun, kini tantangannya jauh lebih besar. Dan bagi pelatih yang pernah merasa “impoten” menghadapi kondisi sepak bola Qatar, tekanan di Manchester bisa jadi ujian terberat dalam kariernya.

Sumber: O Jogo


Klasemen Premier League 2025/2026

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya