Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan dan Universitas Madura (UNIRA) menyatakan dukungan penuh terhadap gagasan pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau Madura. Inisiatif ini dinilai sebagai strategi penting untuk memperkuat ekonomi rakyat sekaligus mendorong industrialisasi berbasis kearifan lokal.
Wakil Bupati Pamekasan Sukrianto mengatakan, Madura tengah mengalami transformasi ekonomi signifikan, yang ditandai dengan tumbuhnya industri rokok lokal di wilayahnya.
Advertisement
“Fenomena ini menunjukkan dua hal. Pertama, kekuatan ekonomi lokal sedang tumbuh, di mana masyarakat mampu menciptakan lapangan kerja dan usaha sendiri. Kedua, ekosistem industri tembakau mulai terbentuk secara alami di tingkat lokal,” ujarnya dalam Focus Group Discussion (FGD) “Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau dan Arah Baru Perekonomian Madura” di Universitas Madura, Pamekasan, Rabu (12/11/2025).
Namun demikian, ia menegaskan perlunya kehadiran pemerintah dalam memberikan arah dan tata kelola yang jelas agar pertumbuhan sektor ini tidak bersifat informal semata.
“Pertumbuhan ini perlu tata kelola yang benar agar tidak hanya bersifat konsumtif dan informal. Pemerintah harus hadir menata, membina, mendorong inovasi, standardisasi mutu produk, serta mengintegrasikan usaha kecil ke sistem ekonomi yang lebih besar dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sukrianto menegaskan bahwa Pemkab Pamekasan tidak menolak tumbuhnya pabrik rokok rakyat, namun menekankan pentingnya memastikan keberadaannya memberi manfaat bagi masyarakat kecil.
“Kita justru mendukung industri rokok lokal, tapi kita ingin memastikan pertumbuhan itu menyejahterakan rakyat dan memuliakan petani,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa KEK Tembakau akan menjadi solusi tata kelola modern dan terintegrasi bagi industri berbasis tembakau di Madura.
“KEK adalah ekosistem inovasi ekonomi baru: hilirisasi tembakau, riset pascapanen, teknologi pengeringan ramah lingkungan, inkubasi UMKM berbasis tembakau, hingga kawasan riset kampus–industri. Dengan KEK, perusahaan rokok lokal bisa naik kelas, memperoleh kemudahan investasi, dan memperkuat branding Madura sebagai Pusat Tembakau Bermartabat,” papar Sukrianto.
Ekonomi Madura Kontributor Penting Penerimaan Negara
Rektor Universitas Madura Gazali menyatakan bahwa peran ekonomi Madura dalam perekonomian nasional tidak bisa diremehkan.
Ia menyoroti kontribusi besar sektor tembakau terhadap pendapatan negara, terutama dari sisi cukai hasil tembakau.
"Ada tiga sektor utama penyumbang pendapatan negara: cukai, migas, dan BUMN. Nah, 60 persen cukai disumbang dari Jawa Timur. Dari Madura sendiri, penerimaan cukai naik dari Rp700 miliar menjadi Rp1,3 triliun, hampir naik 50 persen,” ungkapnya.
Di Pamekasan, lanjutnya, perputaran dana industri rokok bahkan lebih besar dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Dana yang berputar dari industri rokok bahkan lebih besar dari PAD. Itu sebabnya industri ini bisa menurunkan kemiskinan nyata di lapangan,” jelas Gazali.
Gazali juga menilai bahwa gagasan Komunitas Muda Madura (KAMURA) untuk mendorong KEK Tembakau sangat tepat karena berakar pada realitas sosial dan ekonomi masyarakat.
“KAMURA sudah melakukan kajian akademik. Maka kita harus bersama-sama menggolkan KEK Tembakau sebagai pintu kesejahteraan masyarakat Madura,” ucapnya.
KEK Tembakau Lahir dari Aspirasi Akar Rumput
Ketua Tim Penyusunan Naskah Akademik KEK Tembakau Madura, Subairi Muzakki, menyampaikan bahwa forum FGD ini merupakan bagian dari upaya membangun fondasi akademik dan kebijakan publik yang berpihak pada petani dan industri rakyat.
“Bagi masyarakat Madura, tembakau bukan sekadar komoditas, tetapi cara hidup. Dari tembakau orang bisa sekolah, menikah, bahkan melunasi utang,” ujarnya.
Ia menegaskan, gagasan KEK Tembakau merupakan inisiatif besar yang lahir dari suara akar rumput, hasil riset lapangan, dan dukungan penuh dari para kepala daerah di Madura.