Inflasi India Menurun Tajam, Buka Peluang Suku Bunga Turun

Inflasi konsumen India melambat tajam menjadi 0,25 persen pada Oktober 2025, di bawah ekspektasi pasar.

oleh Muhammad IsmailDiterbitkan 13 November 2025, 16:26 WIB
Seorang pedagang kaki lima menyiapkan makanan saat seorang pria makan di sebuah pasar grosir sayuran di Guwahati, India. (AP Photo/Anupam Nath)

Liputan6.com, Jakarta - Inflasi India menurun tajam di luar dari perkirakan pada Oktober 2025, memberikan sinyal positif bagi perekonomian terbesar ketiga di Asia tersebut.

Berdasarkan data resmi, inflasi konsumen India tercatat hanya sebesar 0,25 persen, jauh di bawah ekspektasi kenaikan 0,48 persen menurut jajak pendapat ekonom Reuters, dan turun tajam dibandingkan 1,54 persen pada September.

Dilansir dari CNBC, Kamis (13/11/2025), penurunan tajam ini memicu optimisme Bank Sentral India (Reserve Bank of India/RBI) dapat kembali melonggarkan kebijakan moneternya dalam beberapa bulan mendatang untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Meskipun demikian, RBI dalam rapat terakhirnya memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level 5 persen, sembari menurunkan proyeksi inflasi tahun fiskal yang berakhir Maret 2026 dari 3,1 persen menjadi 2,6 persen.

"Tidak ada urgensi untuk pemotongan suku bunga pada bulan Desember, ketika komite kebijakan moneter bertemu, karena pertumbuhan ekonomi masih tertahan dan dampak dari pemotongan suku bunga sebelumnya masih berlangsung," ujar Kepala Riset Ekonomi India di Standard Chartered, Anubhuti Sahay.

Penurunan inflasi dipicu oleh turunnya harga sejumlah komoditas utama, termasuk minyak dan lemak, sayur-sayuran, buah-buahan, telur, alas kaki, serta transportasi dan komunikasi.

Faktor lain yang turut menekan inflasi adalah penurunan tarif GST (Goods and Services Tax) dan efek dasar yang menguntungkan. Kondisi ini menjadi kabar baik bagi konsumen sekaligus memberikan ruang bagi RBI untuk mempertimbangkan langkah-langkah kebijakan lanjutan demi menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.

Dengan inflasi yang melandai dan konsumsi domestik yang mulai pulih, ekonomi India kini berada dalam posisi yang lebih kuat untuk menghadapi ketidakpastian global.

Inflasi Melambat, Bank Sentral India Pertahankan Suku Bunga

Seorang pria dengan sepeda roda tiga mengangkut sayuran di sebuah pasar grosir di Guwahati, India, Rabu (1/2/2023). Pemerintah Perdana Menteri India Narendra Modi meningkatkan belanja modal sebesar 33% untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja menjelang pemilihan umum tahun depan. (AP Photo/Anupam Nath)

Gubernur Bank Sentral India, Sanjay Malhotra, menyebutkan dampak dari pemangkasan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Juni lalu belum sepenuhnya terasa di perekonomian. Oleh karena itu, keputusan untuk mempertahankan suku bunga tetap diambil secara bulat oleh komite kebijakan moneter.

Namun, Malhotra juga mengingatkan ekonomi India berpotensi menghadapi perlambatan pertumbuhan pada paruh kedua tahun fiskal 2026 akibat ketidakpastian global dan hambatan perdagangan internasional.

"Inflasi kemungkinan akan meningkat tahun depan dan stabil di sekitar 4% untuk tahun fiskal 2026,” ujar Anubhuti Sahay.

Ia menambahkan, bank sentral mungkin akan memilih untuk menyimpan “amunisinya” untuk memangkas suku bunga.

Dampak Tarif Amerika dan Upaya Pemerintah India

Kinerja ekspor India juga menghadapi tekanan setelah Amerika Serikat mengenakan tarif tambahan 25 persen atas impor dari India pada Agustus, sehingga total bea masuk meningkat hingga 50 persen. Kebijakan ini terutama memukul sektor tekstil, perhiasan, dan produk kelautan yang merupakan sektor paling terdampak.

Meski ekspor ke AS hanya menyumbang sekitar 2 persen dari PDB India, pelemahan berkepanjangan dapat berdampak pada hilangnya lapangan kerja dan melambatnya pertumbuhan ekonomi.

Untuk menahan dampak negatif tersebut, pemerintah India mengumumkan penurunan pajak barang dan jasa (GST) pada 22 September 2025. Langkah ini bertujuan untuk mendorong permintaan domestik menjelang musim perayaan, dengan menurunkan harga barang-barang konsumsi, kendaraan, serta produk pertanian.

Sektor Otomotif dan Perhiasan Tumbuh Positif

Seorang pelanggan (kiri) memeriksa gelang emas selama festival Hindu 'Akshaya Tritiya', hari keberuntungan dalam kalender Hindu untuk membeli barang-barang berharga, di ruang pamer perhiasan di Chennai, India, Selasa (3/5/2022). Membeli emas adalah kegiatan yang populer di Akshaya Tritiya, karena ini adalah simbol utama kekayaan dan kemakmuran. (Arun SANKAR / AFP)

Langkah pemerintah tersebut mulai menunjukkan hasil. Laporan pialang Motilal Oswal pada 7 November menyebutkan bahwa sektor otomotif dan perhiasan mencatatkan kinerja positif, didorong oleh meningkatnya permintaan masyarakat menjelang festival.

Selain itu, permintaan terhadap produk seperti alas kaki, cat, barang konsumsi cepat saji, dan tekstil juga menunjukkan perbaikan, meski pertumbuhannya masih bervariasi antarwilayah.

India kini berada dalam posisi yang lebih kuat untuk menghadapi ketidakpastian global. Namun, pengamat memperingatkan bahwa keberlanjutan momentum ini akan sangat bergantung pada kebijakan moneter dan fiskal yang hati-hati dari Bank Sentral serta pemerintah India dalam beberapa bulan ke depan.

Penurunan inflasi India yang lebih tajam dari perkiraan menandai momentum positif di tengah tekanan eksternal dan perlambatan global. Namun, keputusan Bank Sentral untuk tidak tergesa memangkas suku bunga mencerminkan kehati-hatian dalam menjaga stabilitas ekonomi. Dengan kebijakan fiskal yang proaktif dan konsumsi yang terus meningkat, India berpeluang mempertahankan pertumbuhan yang solid menuju tahun fiskal 2026.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya