Sudirman Said Ingatkan Pemimpin Indonesia Juga Harus Berperilaku sebagai Pendidik

Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said menekankan peran vital pendidik yakni sebagai pemimpin.

oleh Tim NewsDiterbitkan 11 November 2025, 10:50 WIB
Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said. (Ist)

Liputan6.com, Jakarta - Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said menekankan peran vital pendidik yakni sebagai pemimpin. Demikian pula sebaliknya, kata dia, pada hakikatnya, pemimpin sekaligus juga seorang pendidik.

"Pendidik adalah pemimpin, dan alangkah hebatnya bila para pemimpin Indonesia juga berperilaku sebagai pendidik," ujar Sudirman di depan forum EDUPSY Series 1.0 di Universitas Harkat Negeri yang disampaikan melalui keterangan tertulis, Selasa (11/11/2025).

Sudirman menilai, kepemimpinan sejati bukan bertolak dari jabatan atau kekuasaan, melainkan dari pengaruh yang ditumbuhkan oleh kepercayaan dan keteladanan.

"Pemimpin yang mendidik adalah mereka yang menggerakkan tanpa memaksa, yang membangkitkan semangat tanpa menakut-nakuti. Sejatinya pemimpin dan pendidik memiliki misi yang sama yaitu menumbuhkan potensi terbaik manusia. Pemimpin sejati diikuti bukan karena posisi, tetapi karena teladan dan inspirasi," papar dia.

Sudirman lalu menyinggung para pendiri bangsa yang sebagian besar berawal sebagai guru.

"Coba cermati, Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa, gencar memperjuangkan kemerdekaan berpikir. KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari mengajarkan nilai-nilai keIslaman melalui pendidikan. Tan Malaka, R.A. Kartini, RA Kardinah, Bung Hatta, hingga Jenderal Soedirman, semua pernah mengajar, menulis, atau mendidik, bahkan sebelum mereka memimpin bangsa," terang dia.

"Bangsa ini lahir dari ruang pendidikan. Para pendiri Republik tidak hanya memimpin (di depan), tapi juga membimbing (di tengah) bahkan mendorong (di belakang) bangsanya, untuk berpikir dan bergerak ke arah merdeka," sambung Sudirman.

 

Bukan Bakat Bawaan

Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said (Istimewa)

Dengan mengutip riset James Kouzes dan Barry Posner (1993), Sudirman menegaskan, kepemimpinan bukanlah bakat bawaan, melainkan sesuatu yang bisa dipelajari, diasah, dan dikembangkan. Dia menyebut lima praktik kepemimpinan yang menandai pemimpin efektif.

"Yakni memberi teladan, menginspirasi visi bersama, berani keluar dari zona nyaman, memberdayakan orang lain, serta menyemangati hati dan jiwa mereka yang dipimpin. Semua itu sejatinya adalah ciri khas pendidik," terang Sudirman.

Dia menyebut, guru yang baik bukan mengontrol tapi menumbuhkan dan bukan memerintah tapi menggerakkan. Dalam konteks inilah, kata Sudirman, kepemimpinan dan pendidikan berkelindan dalam satu napas: membentuk manusia yang merdeka, tangguh, dan berkarakter.

Sudirman juga menyinggung perlunya para pendidik dan pejabat publik menanamkan nilai-nilai kepemimpinan intrinsik.

"Maksudnya adalah kepemimpinan yang melampaui otoritas formal dan bersandar pada integritas, kejujuran, serta tanggung jawab," ucap Penggagas Forum Warga Negara ini.

Dia mencontohkan Jenderal Soedirman yang pada usia 29 tahun diangkat menjadi panglima tertinggi karena keteladanannya, padahal berlatar guru sekolah Muhammadiyah.

"Kekuatan sejati seorang pemimpin terletak pada kepribadian dan komitmennya, bukan pada pangkatnya," terang Sudirman.

 

Keterampilan Teknis

Menteri ESDM Sudirman Said mengacungkan jempol saat akan meninggalkan Gedung KPK, Jakarta, Selasa (24/5). Sudirman Said mengaku diundang KPK untuk meningkatkan koordinasi antara kedua lembaga tersebut. (Liputan6.com/Helmi Afandi)

Dalam kesempatan yang sama, Sudirman memperkenalkan arah pengembangan Universitas Harkat Negeri. Dia menjelaskan, visinya adalah Menjadi Universitas Terapan Terkemuka yang Melahirkan Lulusan Unggul Berkarakter Pemimpin demi Mengangkat Harkat Negeri.

"Perguruan tinggi ini tengah membangun ekosistem pembelajaran keterampilan teknis (hard skills) yang antara lain melalui teaching factory maupun penguatan keterampilan nonteknis (soft skills). Tak ketinggalan, pemanfaatan teknologi pembelajaran jarak jauh untuk memperluas akses pendidikan," ucap dia.

Bagi Sudirman, universitas itu bukan sekadar pencetak tenaga kerja, tapi pencetak pemimpin yang punya daya juang, empati, dan tanggung jawab sosial.

"Suatu panggilan moral. Yakni, kepemimpinan adalah proses mendidik; dan pendidikan adalah seni memimpin. Dalam dunia yang kian kompetitif dan serbacepat, bangsa ini butuh lebih banyak pemimpin yang berkarakter guru sabar, reflektif, dan percaya bahwa perubahan sejati ditempuh melalui proses panjang menumbuhkan manusia, bukan menundukkan manusia," jelas Sudirman.

Forum EDUPSY Series 1.0, digelar atas kolaborasi Fakultas Psikologi dan Pendidikan bersama Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XI.

Tampak hadir Wakil Wali Kota Tegal Tazkiyatul M, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah Saidimin, Kepala Cabang Dinas Wilayah XI Indri Astuti, serta psikolog RSUD Kardinah Anna Dani A.

Acara ini sekaligus menandai peluncuran program Sinergitas Kolaborasi Pembelajaran Mendalam (Sinar Pelajar) yang bertujuan memeratakan mutu pendidikan di wilayah Tegal dan sekitarnya.

Infografis Kecaman Pemimpin Dunia untuk Bom Bandara Kabul Afghanistan (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya