Drone Emprit Ungkap Data Perbincangan di Medsos soal Gelar Pahlawan Nasional

Founder Drone Emprit Ismail Fahmi mengungkap data perbincangan platform sosial media dan media daring soal perbincangan terhadap pemberian gelar pahlawan nasional.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiterbitkan 10 November 2025, 09:40 WIB
Scrolling media sosial tanpa henti merupakan kebiasaan yang tidak baik/copyright pexels/Los Muertos Crew

Liputan6.com, Jakarta - Percakapan tentang rencana pemberian gelar pahlawan nasional untuk mantan Presiden Soeharto menunjukan tren positif pada media sosial dan media online.

Founder Drone Emprit Ismail Fahmi mengungkap data perbincangan platform sosial media dan media daring soal perbincangan terhadap pemberian gelar pahlawan nasional terhadap Soeharto.

Hasilnya, kata dia, ada tone positif yang bergerak dan juga sebaliknya. Khususnya pada platform X atau yang dulu dikenal dengan Twitter.

"Dari hasil pemantauan Drone Emprit, tampak bahwa setiap platform memilik karakter dan nada emosinya sendiri. Menariknya, hampir semua platform digital dan media online memperlihatkan kecenderungan positif terhadap wacana ini kecuali X," ujar Ismail Fahmi melalui keterangan tertulis diterima, Senin (10/11/2025).

Dia merinci, pada platform Facebook, 80% percakapan memiliki sentimen positif dan 20% bernada negatif. Dengan 174 juta penggunanya di Indonesia, Facebook masih menjadi ruang utama bagi generasi yang pernah hidup di masa Orde Baru.

"Di platform ini, 80% sentimen positif, menonjolkan Soeharto sebagai tokoh sentral sejarah modern Indonesia, pemimpin yang berhasil menjaga stabilitas ekonomi dan swasembada pangan," terang Ismail.

Kemudian, lanjut dia, di platform Instagram dengan pengguna 103 juta, terdapat 56% percakapan positif dan 29% memiliki sentimen negatif.

"Narasi yang populer menyoroti kontribusi Soeharto dalam pembangunan ekonomi dan infrastruktur, serta dukungan dari berbagai pihak terhadap gelar pahlawan nasional. Hal ini memunculkan interpretasi bahwa anak muda Indonesia mengakui kontribusi pembangunan Soeharto, tetapi juga tetap kritis," kata Ismail.

"Generasi muda di Instagram menilai dengan cara berbeda, yakni mereka mengakui kontribusi, tetapi tetap menuntut nilai moral dan keadilan sejarah," sambungnya.

 

Hasil Survei Lainnya

Ilustrasi media sosial. (Photo by Adem AY on Unsplash)

Sementara itu, lanjut Ismail, di platform Youtube dengan 143 juta penggunanya di Indonesia, terpantau 62% memiliki sentimen positif, dan 35% sentimen negatif. Sebagian besar isu menampilkan tentang stabilitas ekonomi dan penurunan inflasi pada aplikasi ini.

"Youtube berperan sebagai forum reflektif, tempat publik menimbang ulang sejarah dengan narasi yang lebih panjang dan argumentatif," ucap dia.

Lalu, lanjut Ismail, platform Tiktok dengan pengguna 108 juta penggunanya, lanjut Ismail, menjadi ruang terdepan dalam percakapan positif yang mencapai 77%, angka itu tertinggi di antara semua platform dan sentimen negatifnya hanya 12%.

"Gaya komunikasi emosional di Tiktok menjadikan sejarah sebagai 'cerita yang menyentuh'. Narasi yang menonjol adalah Soeharto pemimpin kuat, berjasa, dan tegas. Banyak video bernuansa nostalgia yang mengaitkan masa Soeharto dengan stabilitas harga kebutuhan pokok dan ketenangan hidup rakyat kecil," rinci dia.

Berbeda dengan platform digital lain, Ismali menyatakan X justru didominasi sentimen negatif 63%, dan hanya 27% bernada positif. Narasi yang muncul menyoroti korupsi sistemik, pelanggaran HAM, dan represi kebebasan di era Orde Baru.

"Di sini, perbincangan tentang Soeharto bukan sekadar nostalgia, tetapi juga evaluasi terhadap warisan kekuasaan," tutur Ismail.

 

Tren Positif Media Sosial

Ilustrasi Media Sosial dan Aplikasi Chat | unsplash.com/@christianw

Menurut Ismail, tak hanya media sosial, portal media online juga menunjukkan tren positif. Pantauan Drone Emprit menunjukkan 64% sentimen positif, dan 29% pemberitaan negatif.

Isu yang paling sering muncul adalah pembangunan ekonomi rakyat, stabilitas nasional selama 32 tahun, dan ketahanan pangan. Meski begitu, juga muncul isu terkait sisi gelap Orde Baru.

"Media online terlihat mencoba menyeimbangkan dua sisi sejarah Soeharto: pencapaian ekonomi di satu sisi, dan catatan pelanggaran di sisi lain," Ismail menandasi.

Sebagai informasi, analisa dan pemantauan tren percakapan dilakukan Drone Emprit pada 20 Oktober sampai 7 November 2025.

Diketahui, hari ini Presiden Prabowo akan memberikan gelar pahlawan nasional kepada sejumlah tokoh yang dinilai berjasa terhadap bangsa. Ada sekiranya 40 nama yang akan diberi gelar tersebut, mulai dari Presiden ke-2 RI Soeharto hingga aktivis perjuangan kelompok buruh Marsinah.

Infografis 7 Tips Bijak Gunakan Media Sosial. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya