Mengekor Wall Street, Bursa Saham Asia-Pasifik Amblas Hari Ini 7 November 2025

Bursa saham Asia-Pasifik dibuka lebih rendah pada hari Jumat.

oleh Septian DenyDiterbitkan 07 November 2025, 08:20 WIB
Orang-orang berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Jakarta Bursa saham Asia-Pasifik dibuka lebih rendah pada hari Jumat, mengikuti penurunan Wall Street Amerika Serikat (AS) akibat kekhawatiran yang terus berlanjut atas valuasi tinggi dalam saham kecerdasan buatan.

Dikutip dari CNBC, Jumat (7/11/2025), saham perusahaan-perusahaan AI besar anjlok pada hari Kamis di Amerika Serikat. Hal ini membebani pasar AS secara keseluruhan. Penurunan terbesar terjadi pada saham Nvidia., Microsoft, Palantir Technologies Broadcom​ dan Advanced Micro Devices.

 

Indeks saham acuan Nikkei 225 Jepang anjlok 1,38% pada pembukaan. Saham-saham yang terkait dengan AI turut menekan indeks seperti SoftBank turun hampir 8%, pembuat peralatan pengujian semikonduktor Advantest kehilangan lebih dari 6%, pembuat chip Renesas Electronicsturun 4%, dan Tokyo Electron,  pembuat peralatan produksi chip, turun 1,56%.

Sementara itu, indeks saham Topix mundur 0,5%. Di Korea Selatan, indeks saham Kospi turun 0,46%, sedangkan Kosdaq yang berkapitalisasi kecil turun 0,92%.

Indeks saham S&P/ASX 200 Australia turun 0,27%.

Investor di Asia mencermati data perdagangan Tiongkok bulan Oktober, yang akan dirilis hari ini. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan ekspor melambat menjadi 3% year-on-year, turun dari lonjakan 8,3% pada bulan September, sementara impor diperkirakan turun menjadi 3,2% dari 7,4%.

Hal itu terjadi ketika permintaan domestik yang lemah terus membebani kemerosotan perumahan yang berkepanjangan, meningkatnya ketidakamanan pekerjaan, dan pengurangan langkah-langkah stimulus yang berfokus pada konsumsi.

Kontrak Berjangka untuk Indeks Hang Seng Hong Kong menunjuk pada pembukaan yang lebih rendah, diperdagangkan pada 26.436, terhadap penutupan indeks sebelumnya pada 26.485,9. 

IHSG Kemarin

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat terbatas pada perdagangan saham Kamis, (6/11/2025). Namun, IHSG hari ini kembali menembus level tertinggi di tengah mayoritas sektor saham yang menghijau.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup naik 0,22% ke posisi 8.337,05. Indeks LQ45 naik 0,09% ke posisi 847,64. Sebagian besar indeks saham acuan memerah.

Pada perdagangan Kamis pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 8.362,91 dan level terendah 8.289,89. Sebanyak 394 saham menguat sehingga angkat IHSG. Namun, 259 saham melemah dan 158 saham diam di tempat.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim menuturkan, optimisme akan membaiknya ekonomi domestik pada kuartal IV 2025 serta ada pengumuman review kuartalan indeks MSCI mengangkat IHSG. “Di mana beberapa saham berhasil masuk dalam perhitungan indeks MSCI, telah menjadi faktor positif pada perdagangan Kamis,” ujar dia seperti dikutip dari Antara.

Dari domestik, ia menuturkan, pelaku pasar akan menantikan data cadangan devisa Indonesia pada Oktober 2025 pada Jumat, 7 November 2025.

"Data tersebut akan diperhatikan di tengah depresiasi kurs Rupiah, dan setelah bulan lalu cadangan devisa turun pada level terendah sejak Juli 2024, akibat adanya pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia (BI),” ujar dia.

Dari kawasan Asia, akan dirilis data ekspor impor China, yang diperkirakan ekspor bulan Oktober 2025 tumbuh 7,3 persen year on year (yoy) dari 8,3 persen (yoy) pada September 2025.

Impor diperkirakan tumbuh 7 persen (yoy) dari sebelumnya 7,4 persen (yoy) di September 2025. Sedangkan, dari AS akan dirilis Michigan Consumer Sentiment Preliminary bulan November 2025, yang diperkirakan di level 53,2 dari sebelumnya 53,6 pada Oktober 2025.

 

Sektor Saham

Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Total frekuensi perdagangan 2.391.818 kali dengan volume perdagangan 26 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 18,5 tirliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.688.

Dari 11 sektor saham, empat sektor saham melemah. Sektor saham industri bertambah 2,08%, dan catat kenaikan terbesar. Disusul sektor saham energi naik 1,74% dan sektor saham transportasi menanjak 1,41%.

Sektor saham consumer siklikal bertambah 1,02%. Sektor saham keuangan menguat 0,07%, sektor saham properti melesat 0,37% dan sektor saham infrastruktur mendaki 0,91%.

Sementara itu, sektor saham basic susut 0,90%, sektor saham consumer nonsiklikal terpangkas 0,92%, sektor saham kesehatan melemah 0,09% dan sektor saham teknologi tergelincir 0,20%.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya