Liputan6.com, Jakarta - Harga bitcoin diprediksi dapat merosot ke level USD 72.000 atau Rp 1,20 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.726) dalam satu hingga dua bulan. Potensi koreksi harga bitcoin ini dapat terjadi jika gagal mempertahankan level USD 100.000 atau Rp 1,67 miliar. Hal itu berdasarkan perusahaan CryptoQuant.
Sementara itu, berdasarkan data Coinmarketcap, harga bitcoin (BTC) merosot 4,55% dalam 24 jam terakhir pada Rabu, 4 November 2025. Selama sepekan terakhir, harga bitcoin terpangkas 9,72%. Saat ini, harga bitcoin berada di posisi USD 101.882 atau Rp 1,7 miliar.
Advertisement
“Jika harga tidak berhasil bertahan di area USD 100.000 dan turun, ada risiko lebih tinggi untuk menargetkan USD 72.000 dalam periode satu hingga dua bulan,” kata Kepala Riset CryptoQuant, Julio Moreno kepada the Block, seperti dikutip Rabu pekan ini.
Sebelumnya pada Selasa sore, harga bitcoin turun di bawah USD 100.000 untuk pertama kali sejak Juni 2025 dan diperdagangkan di sekitar USD 100.800, turun lebih dari 5,2% dalam 24 jam terakhir, menurut the Block. Kripto jajaran teratas lainnya juga merosot dengan indeks GMCI 30 susut lebih dari 9% dalam sehari terakhir.
Moreno menuturkan, penurunan terbaru mencerminkan penurunan permintaan yang berkelanjutan setelah peristiwa likuidasi 10 Oktober, yang terbesar dalam sejarah kripto yang menghapus lebih dari USD 20 miliar atau Rp 334,55 miliar dalam posisi leverage.
"Sejak itu, permintaan spot untuk bitcoin telah berkontraksi,” ujar Moreno.
Ia menambahkan, di Amerika Serikat, investor juga telah menurunkan permintaan terhadap bitcoin seperti yang terlihat pada arus exchange trade fund (ETF) yang negatif dan harga premi Coinbase yang negatif. Secara keseluruhan, kondisi pasar kripto telah bearish sejak awal Oktober.
Pergerakan Harga Bitcoin
Di sisi lain, pada bulan lalu, Standard Chartered’s Global Head of Digital Assets Research, Geoffrey Kendrick menuturkan, penurunan bitcoin di bawah USD 100.000 tampaknya tak terelakkan setelah peristiwa likuidasi 10 Oktober.
Kemudian ia menuturkan, bitcoin mungkin “tidak akan pernah turun di bawah USD 100.000” lagi jika perkembangan makro dan geopolitik yang positif, terutama membaiknya perundingan perdagangan AS-China berlanjut hingga pekan 24-28 Oktober 2025.
Bitcoin akhirnya menembus di bawah USD 100.000 meskipun di luar rentang waktu yang diprediksi Kendrick. Analis menuturkan, sentimen risiko yang lebih luas telah membebani kripto, saham, dan komoditas.
Sentimen yang Pengaruhi Harga Bitcoin
Head of Global Market Insights Crypto Asset Manager Hasdex, Gerry O’Shea menuturkan, spekulasi terbaru kalau Federal Open Market Committee (FOMC) mungkin akan meloloskan penurunan suku bunga lagi pada 2025. “Serta kekhawatiran atas tarif, kondisi pasar kredit, dan valuasi pasar saham turut mendorong pasar melemah,” ujar Gerry O’Shea.
Ia menambahkan, pergerakan harga bitcoin baru-baru ini juga dipengaruhi oleh aksi jual dari pemegang jangka panjang. “Ini sebuah fenomena yang diperkirakan seiring aset tersebut jatuh tempo dan harganya naik,” kata dia.
O’Shea menambahkan, meski pun USD 100.000 merupakan level penting secara psikologis, pergerakan ini tidak melemahkan posisi investasi jangka panjang bitcoin.
"Tren aliran ETF dan adopsi perusahaan tahun ini tetap sangat kuat karena lembaga keuangan tradisional terus membangun infrastruktur dan produk aset digital,” kata dia.
Ia menuturkan, faktor-faktor struktural ini, beserta potensi peningkatan likuiditas dalam sistem keuangan seiring berakhirnya pengetatan kuantatif the Fed mendukung pandangannya kalau BTC mungkin mencapai titik teringgi baru dalam beberapa bulan mendatang.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.