Harga Minyak Dunia Turun, Ini Gara-garanya

Harga minyak turun tipis pada hari Selasa karena keputusan OPEC+

oleh Septian DenyDiterbitkan 05 November 2025, 08:00 WIB
Harga minyak dunia kembali tertekan seiring permintaan melambat, sedangkan produksi minyak melimpah dan kekhawatiran ekonomi global.

Liputan6.com, Jakarta Harga minyak turun tipis pada hari Selasa karena keputusan OPEC+ untuk menghentikan sementara kenaikan produksi pada kuartal pertama tahun depan bersamaan dengan data manufaktur yang lemah dan dolar yang lebih kuat membebani pasar.

Dikutip dari CNBC, Rabu (5/111/2025), harga minyak Brent turun 45 sen atau 0,69%, menjadi USD 64,44 per barel. Harga minyak mentah  West Texas Intermediate (WTI) AS turun 49 sen, atau 0,8%, dan ditutup pada USD 60,56 per barel.

“Rangkaian PMI manufaktur yang buruk dari Asia dan kemudian ISM AS menimbulkan kekhawatiran bagi permintaan minyak. Begitu pula ancaman tarif yang selalu mengganggu pasar,” kata Analis di PVM Oil Associates  John Evans.

"Kebangkitan dolar AS merupakan salah satu faktor penekan harga minyak saat ini, dan kami mengantisipasi penurunan harga minyak kembali terjadi saat ini," lanjut dia.

Pada hari Minggu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, menyetujui sedikit peningkatan produksi minyak untuk bulan Desember dan penghentian sementara peningkatan pada kuartal pertama tahun depan.

″(Pasar) mungkin melihat ini sebagai tanda pertama pengakuan potensi kelebihan pasokan dari OPEC+, yang sejauh ini tetap sangat optimis terhadap tren permintaan dan kemampuan pasar untuk menyerap kelebihan barel,” kata Pimpinan Tim Sektor Energi DBS Bank, Suvro Sarkar.

 

Sanksi Terhadap Rusia

Harga Minyak Dunia. Foto: Freepik/Artphoto_studio

Meskipun harga minyak saat ini sedang turun, sanksi terhadap Rosneft dan Lukoil Rusia dapat terus memberikan dukungan harga dalam waktu dekat, kata analis independen Tina Teng.

Sementara itu, dolar melayang mendekati level tertinggi tiga bulan karena Federal Reserve yang terpecah mengenai apakah akan memangkas suku bunga lagi pada bulan Desember atau tidak. Hal ini mendorong para pedagang untuk mengendalikan taruhan pemangkasan suku bunga.

Nilai dolar yang lebih tinggi membuat aset berharga dolar menjadi lebih mahal bagi mereka yang memegang mata uang lain.

Di Asia, aktivitas manufaktur Jepang menyusut pada bulan Oktober pada laju tercepat dalam 19 bulan karena penurunan permintaan di sektor otomotif dan semikonduktor utama.

Pelaku pasar kini tengah menunggu data inventaris AS terbaru dari American Petroleum Institute (API), yang akan dirilis hari ini. Jajak pendapat awal Reuters menunjukkan stok minyak mentah AS diperkirakan akan meningkat pekan lalu. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya