Liputan6.com, Lisbon - Portugal memperingati 250 tahun gempa bumi dan tsunami yang dahsyat pada tahun 1 November 1755, dengan korban jiwa hingga sepertiga dari 275.000 penduduk Lisbon.
Sebuah bencana yang menewaskan ribuan orang dan hampir meratakan ibu kota Lisbon, memperingatkan hari tersebut dengan lonceng gereja berdentang selama 15 menit untuk mengenang tragedi itu.
Advertisement
Banyak ribuan orang lainnya meninggal di Maroko, Spanyol, dan Italia. Para ahli geologi memperkirakan gempa tersebut mencapai magnitudo 8,5 pada skala Ritcher modern, dilansir dari BBC, Sabtu (1/11/2025).
Pusat gempa yang terjadi berada sekitar 350 km di barat daya Lisbon, yang bukan hanya menelan korban jiwa, tetapi juga memicu krisis intelektual di Eropa abad ke-18. Umat Protestan di Inggris melihat gempa sebagai pembalasan ilahi.
Sementara yang lainnya mulai mempertanyakan dasar-dasar keyakinan mereka. Setelah tragedi ini, pemikiran ilmiah dan agama memastikan dasar dan pandangan mereka, hal ini menandai awal pergerseran cara pandang Eropa terhadap dunia dan ilmu pengetahuan.
Peringatan Lonceng Gereja
Sikap mereka terhadap ilmu bumi dan alam mulai berubah seiring melemahnya keyakinan bahwa Tuhan menciptakan dan mengawasi dunia.
Namun, mereka tetap bersatu untuk mengenang tragedi menakutkan dan mengingatkan generasi berikutnya terhadap solidaritas dalam menghadapi bencana.
Uskup Agung Lisbon, Jose Policarpo, mengawasi lonceng gereja yang berndentang pukul 09.30 GMT, yang merupakan waktu terjadinya gempa bumi saat itu.
Suara lonceng yang bergema menandai peringatan sejarah serta berkumpul untuk berdoa kepada para korban.