Liputan6.com, Jakarta Reaksi frustrasi Vinicius Junior saat ditarik keluar dalam laga El Clasico bukan sekadar luapan emosi sesaat. Itu adalah cerminan dari ketegangan yang kian terasa antara sang bintang Brasil dan pelatih Real Madrid, Xabi Alonso.
Meski tak ada tanda pemberontakan terbuka, sumber di sekitar klub menyebut bahwa hubungan keduanya memerlukan penanganan hati-hati. Bukan rahasia lagi, Vinicius sempat melontarkan kalimat emosional, “Saya sebaiknya pergi,” saat diganti di laga melawan Barcelona.
Advertisement
Ucapan itu bukan tanpa akar. Pikiran untuk hengkang sudah sempat terlintas dalam benaknya sejak akhir bursa transfer lalu, setelah perdebatan panas dengan Alonso jelang laga Piala Dunia Antarklub kontra PSG.
Walau tidak ada tawaran konkret yang datang, momen itu memperlihatkan perubahan besar: Vinicius tidak lagi merasa menjadi pemain yang tak tersentuh.
Dari Kebebasan Ancelotti ke Disiplin Ala Xabi Alonso
Perubahan atmosfer di Madrid terasa jelas sejak kedatangan Xabi Alonso. Jika di era Carlo Ancelotti Vinicius diberi kebebasan untuk berkreasi dan bermain dengan naluri murni, kini situasinya berbalik. Di bawah Alonso, semua berjalan lebih terstruktur, lebih disiplin, bahkan “rigid” di mata sebagian pemain.
Pelatih asal Basque itu datang dengan misi menciptakan konsistensi dan tanggung jawab kolektif. Pola permainan Madrid kini lebih terdefinisi: setiap pemain memiliki posisi dan tugas yang jelas. Struktur seperti ini, meski efektif, membuat pemain seperti Vinicius perlu beradaptasi.
Beberapa pemain mengakui bahwa transisi ini tidak mudah. Mereka merasa kehilangan ruang untuk improvisasi. Namun bagi Alonso, struktur adalah fondasi. Setelah musim lalu dianggap kurang stabil, ia percaya kedisiplinan taktis adalah satu-satunya jalan untuk membangun kembali DNA juara Real Madrid.
Ketegangan yang Dikelola, Bukan Diselesaikan
Pertikaian terbuka antara Vinicius dan Alonso memang belum terjadi, tetapi suasananya kian terasa dingin. Momen krusial muncul jelang semifinal Piala Dunia Antarklub, ketika Vinicius diberitahu bahwa ia tidak akan menjadi starter. Sang winger tak menerima keputusan itu dengan baik, dan Alonso tetap tegas pada pendiriannya.
Sejak saat itu, dinamika keduanya berubah. Alonso menegaskan bahwa tidak ada pemain yang dijamin akan selalu menjadi starter. Ia juga mengatur agar Vinicius lebih sering dirotasi dengan Rodrygo, terutama di posisi sayap kiri.