Budi Arie Tuding Ada Pihak Sengaja Mainkan Isu Mark Up Whoosh: Gagal Paham, Transportasi Publik Penting

Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi menduga ada pihak yang sengaja memainkan isu dugaan mark up proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, Whoosh.

oleh Rio Ferdinand Muhammad Eka PutraDiterbitkan 30 Oktober 2025, 08:44 WIB
Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi. Foto: Rio Ferdinand

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi menduga ada pihak yang sengaja memainkan isu dugaan mark up proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, Whoosh. Dia menyindir pihak-pihak itu tak paham konteks dari pembangunan transportasi publik.

"Ini yang goreng-goreng isu. Whoosh ini kayaknya gagal paham. Transportasi publik itu penting," ujar Budi Arie di Kantor DPP Projo, Jakarta Selatan, Rabu (29/10/2025).

Dia menegaskan, proyek kereta cepat merupakan simbol kemajuan transportasi Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Meski begitu, Budi mendukung penegak hukum mengusut jika menemukan dugaan mark up Whoosh.

"Kita ini satu-satunya negara ASEAN saat ini yang mempunyai kereta cepat. Bahwa ada problematika-problematika di dalam pengadaan atau pelaksanaan proyek itu, silakan saja penegak hukum mengambil langkah-langkah kalau ditemukan adanya pelanggaran-pelanggaran hukum," tegasnya.

Mantan Mendes ini menegaskan, Projo menghormati langkah penegak hukum bila ditemukan pelanggaran. Namun, dia menilai proyek Whoosh memiliki manfaat besar bagi masyarakat.

"Itu kan tugas dari aparat penegak hukum dan kita hormati aparat penegak hukum untuk mengusul bahkan melakukan penyelidikan terhadap kemungkinan-kemungkinan bila proyek kereta cepat Whoosh ini bermasalah secara hukum. Tapi saya yakin kalau soal manfaatnya sangat bermanfaat,” sambungnya.

Projo juga meyakini program strategis era Presiden ke-7 RI Jokowi itu bukan semata-mata soal keuntungan, tetapi juga manfaat bagi masyarakat.

"Kami yakin bahwa program ini memang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga benefit," katanya.

KPK: Publik Tetap Gunakan Whoosh Meski Dalam Pengusutan

KPK meminta publik tetap menggunakan layanan kereta cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) meski tengah dilakukan penyelidikan dugaan tindak pidana korupsi di proyek tersebut.

“Silakan masyarakat untuk tetap bisa menggunakan layanan kereta cepat sebagai salah satu mode transportasi,” ujar Juru Bicara KPK Budi Prasetyo di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (29/10).

Ia menjelaskan, proses hukum tidak seharusnya mengganggu pelayanan publik yang diselenggarakan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) selaku pemegang saham terbesar konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dengan kepemilikan 58,53 persen.

Adapun PSBI memegang 60 persen saham proyek, sementara 40 persen lainnya dimiliki oleh konsorsium perusahaan perkeretaapian China, Beijing Yawan HSR Co. Ltd.

Dugaan Mark Up Whoosh

Isu dugaan mark up proyek Whoosh mencuat setelah mantan Menko Polhukam Mahfud MD mengungkap adanya indikasi penggelembungan anggaran dalam video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya pada 14 Oktober 2025.

“Menurut perhitungan pihak Indonesia, biaya per satu kilometer kereta Whoosh itu 52 juta dolar Amerika Serikat. Akan tetapi, di China sendiri, hitungannya 17-18 juta dolar AS. Naik tiga kali lipat,” kata Mahfud MD.

Mahfud kemudian mempertanyakan, “Ini siapa yang menaikkan? Uangnya ke mana? Naik tiga kali lipat. 17 juta dolar AS ya, dolar Amerika nih, bukan rupiah, per kilometernya menjadi 52 juta dolar AS di Indonesia. Nah itu mark up. Harus diteliti siapa yang dulu melakukan ini.”

KPK pun meminta Mahfud untuk melaporkan dugaan tersebut secara resmi. Pada 27 Oktober 2025, lembaga antirasuah itu mengumumkan bahwa kasus dugaan korupsi proyek Whoosh telah masuk tahap penyelidikan sejak awal tahun.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya