KAI Pastikan Operasional Commuter Line Aman dari Restrukturisasi Proyek Kereta Cepat Whoosh

PT KAI Persero memastikan proses restrukturisasi proyek Kereta Cepat Indonesia–China (KCIC) atau Whoosh tidak berdampak pada layanan operasional anak perusahaannya, PT KAI Commuter Indonesia (KCI) yang mengelola Commuter Line Jabodetabek.

oleh Rio Ferdinand Muhammad Eka PutraDiterbitkan 29 Oktober 2025, 16:35 WIB
Kereta rel listrik (KRL) tiba di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Rabu (17/1/2023). Sepanjang Januari 2023 total pengguna KRL Commuterline Jabodetabek pada weekday adalah sebanyak 7.952.574 orang dengan rata-rata 795.257 orang per hari. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (PT KAI Persero) memastikan proses restrukturisasi proyek Kereta Cepat Indonesia–China (KCIC) atau Whoosh tidak berdampak pada layanan operasional anak perusahaannya, PT KAI Commuter Indonesia (KCI) yang mengelola Commuter Line Jabodetabek.

Hal ini disampaikan oleh Leza Arlan, Public Relations Manager KAI Commuter, menanggapi kekhawatiran masyarakat bahwa beban utang proyek Whoosh bisa berimbas pada alokasi dana dan operasional KRL.

"Untuk dampak restrukturisasi proyek Kereta Whoosh, tidak berdampak karena KAI Commuter dengan KCIC merupakan dua perusahaan yang berbeda, dan KAI Commuter memperoleh Public Service Obligation (PSO) dari Pemerintah," ujar Leza saat diwawancarai Liputan6.com, Selasa 28 Oktober 2025.

Pernyataan ini menegaskan posisi KAI Commuter sebagai entitas yang secara finansial dan operasional terpisah dari proyek kereta cepat yang saat ini tengah dalam proses restrukturisasi utang.

KAI Commuter terus menunjukkan performa positif di tengah isu restrukturisasi proyek KCIC. Berdasarkan data resmi perusahaan commuterline.id , pada triwulan III 2025, volume pengguna Commuter Line Jabodetabek mencapai 89.088.257 orang, meningkat 4,7 persen dibanding periode yang sama tahun 2024.

"Berdasarkan data yang tercatat, pada triwulan III ini volume pengguna Commuter Line Jabodetabek sebanyak 89.088.257 orang. Angka ini tumbuh 4,7 persen jika dibandingkan dengan triwulan III 2024 lalu, yaitu sebanyak 85 juta orang lebih," ucap Leza.

Ia menambahkan, tingkat ketepatan waktu jadwal keberangkatan juga mencapai 98,9 persen, sedangkan ketepatan waktu kedatangan sebesar 98,5 persen.

"Ketepatan waktu pada jadwal keberangkatan tercatat rata-rata sebesar 98,9%, sedangkan rata-rata ketepatan waktu kedatangan mencapai 98,5%," papar Leza.

 

Restrukturisasi Proyek Whoosh dan Tantangan Keuangan

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Kereta Cepat Jakarta-Bandung 'Whoosh' di Stasiun Halim, Jakarta, Senin (2/10/9/2023). Setelah diresmikan, belum ada tarif yang diterapkan selama 2 pekan kedepan.

Pertumbuhan ini, menurut Leza, menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan Commuter Line sebagai transportasi publik utama di wilayah Jabodetabek.

Sebelumnya, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menyatakan bahwa restrukturisasi proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan proyek tanpa mengganggu operasional perusahaan.

"Usulan restrukturisasi Proyek Strategis Nasional (PSN) Kereta Cepat Jakarta-Bandung merupakan salah satu program kunci yang akan dijalankan PT KAI pada 2025. Langkah ini diambil untuk memastikan keberlanjutan proyek tanpa mengganggu operasional perusahaan secara keseluruhan," kata Bobby.

Langkah tersebut mendapat perhatian dari Anggota Komisi VI DPR RI Asep Wahyuwijaya, yang mengingatkan agar restrukturisasi dilakukan dengan hati-hati dan tidak berdampak pada kualitas layanan publik.

"Jangan sampai gara-gara beban utang dampaknya justru mengorbankan kualitas layanan dan kenyamanan publik," ujar Asep, dilansir Antara.

Restrukturisasi Bukan Sinyal Kegagalan

Sementara itu, Kantor Berita Antara dalam laporannya menegaskan bahwa restrukturisasi proyek Whoosh merupakan bagian dari mekanisme normal proyek infrastruktur besar, bukan tanda kegagalan.

Antara mencatat, biaya pembangunan proyek Whoosh mencapai 7,2 miliar dolar AS dengan beban bunga tahunan hampir Rp2 triliun, serta kerugian sekitar Rp1,6 triliun pada semester pertama 2025.

Namun, menurut analisis yang dikutip Antara, fenomena ini masih dalam tahap penyesuaian.

"Restrukturisasi tidak berarti kegagalan, tetapi bagian dari mekanisme manajemen risiko keuangan. ," tulis laporan tersebut, dilansir Antara.

Restrukturisasi utang dinilai sebagai langkah rasional dan pragmatis, mencerminkan kematangan Indonesia dan Tiongkok dalam mencari solusi bersama terhadap dinamika pasar.

 

KAI Commuter Fokus pada Layanan Publik dan Keberlanjutan PSO

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) atau KAI Commuter mencatat lonjakan penumpang KRL Commuter Line Jabodetabek. (Foto: KAI)

Menjawab kekhawatiran masyarakat, KAI Commuter menegaskan fokus utamanya tetap pada layanan publik melalui skema Public Service Obligation (PSO) dari pemerintah. Skema ini memastikan subsidi untuk tarif KRL tetap berjalan dan layanan publik tidak terpengaruh oleh dinamika finansial induk perusahaan.

"KAI Commuter dengan KCIC merupakan dua perusahaan yang berbeda, sehingga restrukturisasi proyek Whoosh tidak memiliki implikasi langsung terhadap kegiatan operasional KRL," kata Liza.

Dengan tingkat ketepatan waktu hampir 99 persen dan pertumbuhan pengguna yang stabil, KAI Commuter menunjukkan ketahanan dan konsistensi kinerja meski induk perusahaannya tengah melakukan penyesuaian finansial di proyek besar lainnya.

Restrukturisasi proyek KCIC atau Whoosh merupakan upaya rasional dalam menjaga keberlanjutan proyek infrastruktur strategis nasional, dan tidak berdampak terhadap layanan KAI Commuter.

Dengan sistem pendanaan terpisah, dukungan PSO pemerintah, dan tren pertumbuhan pengguna yang positif, layanan Commuter Line dipastikan tetap menjadi tulang punggung transportasi publik masyarakat Jabodetabek.

Infografis Usulan Kenaikan Tarif Transportasi Warga Luar Jakarta. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya