30 Oktober 1961: Senjata Pemusnah Terbesar di Dunia, Uni Soviet Uji Kelayakan Tsar Bomba

Menciptakan bom nuklir terbesar dan paling mematikan oleh Uni Soviet berakhir memicu perhatian negara yang dekat dengan lokasi, karena mampu menjadi senjata pemusnah daratan.

oleh Fanny MarizkaDiterbitkan 30 Oktober 2025, 06:00 WIB
Tsar Bomba. Dok: National Science Library via BBC

Liputan6.com, Moskow - Uji coba senjata paling mematikan dari Uni Soviet dilakukan dari Semenanjung Kola, ujung utara Rusia, dengan pesawat Tu-95 yang bertugas membawa persenjataan nuklir dengan kapasitas besar, seperti Tsar Bomba pada 30 October 1961.

Setelah hubungan Uni Soviet dengan Amerika Serikat mendingin, negara ini berupaya menguatkan posisinya sebagai negara adidaya dan meningkatkan kekuatannya melalui perkembangan senjata nuklir.

Perangkat nuklir pertama mereka dikenal sebagai Joe-1 yang diuji di Kazakhstan pada 29 Agustus 1949, menggunakan intelijen yang diperoleh dari penyusupan ke program nuklir AS. Bahkan pembuatannya mencapai lebih dari 80 perangkat pada tahun 1958, dan program uji bom nuklir melonjak sebanyak 36 buah, dilansir dari BBC, Kamis (30/10/2025).

Secara fisik, Tsar Bomba seperti bom "Little Boy" dan "Fat Man" yang telah menghancurkan kota Hisroshima dan Nagasaki di Jepang. Dengan panjang 8 meter, diameter hampir 2,6 kaki, dan beratnya lebih dari 27 ton ini terlalu besar untuk dimuat di dalam pesawat mana pun.

Tempat yang menjadi percobaan bom ini berada di Novya Zemlya, sebuah kepulauan terpencil di Laut Barents di utara Uni Soviet. Pilot Mayor Andrei Durnovtsev membawa pesawat tersebut ke Teluk Mityushikha, lokasi uji coba dengan ketinggian sekitar 10 kilometer atau 34.000 kaki.

Sementara itu, terdapat pesawat pengebom Tu-16 yang lebih kecil dan telah dimodifikasi terbang di sampingnya, berfungsi untuk merekam ledakan serta mengambil sampel udara dari zona ledakan.

Dampak Ledakan

Dampak uji coba Tsar Bomba pada 30 Oktober 1961 (Tsarbomba.org)

Untuk memberi peluang bertahan hidup bagi kedua pesawat, Tsar Bomba dijatuhkan dengan parasut raksasa yang memperkirakan keselamatan sekitar 50%.

Saat bom meledak, kedua pesawat pengebom berada hampir 50 kilometer dari titik ledakan yang cukup aman bagi para awak.

Leadakan terjadi pukul 11.32 waktu Moskow, dan menciptakan bola api selebar lima mil yang melesat ke atas akibat tekanan dahsyat dari gelombang kejut.

Kilatan bola api tersebut bahkan terlihat dari jarak hingga 1.000 kilometer (630 mil), yang semakin membuktikan Uni Soviet sebagai negara dengan senjata nuklir paling mematikan saat itu.

Beruntungnya, pesawat Tu-95 selamat dari gelombang ledakan yang telah membuatnya jatuh lebih dari 1.000 meter sebelum pilot dapat mengendalikannya kembali.

Perancang dari bom mematikan ini adalah seorang fisikawan Soviet bernama Andrei Sakharov, yang berpengalaman dan sebelumnya terlibat dalam pengembangan beberapa bom atom paling pertama di Uni Soviet.

Kekuatan ledakan bom dihasilkan dari reaksi antara lapisan uranium yang belum diperkaya dan bahan bakar deuterium, yang menimbulkan energi lebih besar dari proses nuklir di bagian intinya.

Sakharov menyebutnya sebagai sloika atau perangkat fisi-fusi-fisi berlapis. Akhirnya terobosan ini menjadi dasar bagi Uni Soviet membangun bom hidrogen pertamanya, yang ledakannya sepuluh kali lebih kuat daripada bom atom sebelumnya.

Ancaman Bahaya Global

Ilustrasi bendera dunia (UNESCO)

Ledakan Tsar Bomba membuat banyak orang ketakutan karena energi dari bom yang mencapai 57 megaton atau setara 57 juta ton TnT. Bahkan daya ledaknya lebih dari 1.500 kali lipat gabungan bom Hiroshima dan Nagasaki.

Tidak dapat dipungkiri, Tsar Bomba dapat diketahui oleh banyak pihak, salah satunya Amerika Serikat yang berjarak puluhan kilometer dari lokasi pengujian dengan pesawat mata-mata, merasakan gelombang dahsyatnya.

Reaksi internasional pun muncul setelah uji coba Tsar Bomba, dengan Inggris dan Swedia yang menyoroti bahaya ledakan tersebut karena awan jamur raksasa menjulang ke atas.

Kekhawatiran dan ketakutan secara global bukan hanya dikarenakan ledakan yang mampu menghancurkan daratan, tetapi radioaktif yang ditinggalkannya dapat mengancam kehidupan di wilayah sekitar.

Sejak uji coba yang dilakukan Uni Soviet ini, kecemasan dari banyak pihak menekankan pentingnya pembatasan atau pengendalian terhadap senjata pemusnah massal, di mana tidak menimbulkan ketegangan yang berakhir menjadi konflik antarnegara.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya