Liputan6.com, Washington, DC - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth mengatakan militer AS menewaskan 14 orang dalam serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat perdagangan narkoba di Pasifik timur. Ia menjelaskan bahwa sejak kampanye ini dimulai pada awal September, AS telah menyerang sedikitnya 13 kapal, dengan jumlah korban tewas yang diakui secara resmi mencapai 51 orang.
Hegseth menyebutkan bahwa serangan terjadi di Pasifik timur, di perairan internasional, tanpa memberikan rincian geografis yang lebih spesifik. Dalam sebuah unggahan di media sosial, ia menuturkan bahwa empat kapal diserang pada hari Minggu (26/10) melalui tiga kali serangan.
Advertisement
"Kapal-kapal tersebut dikenal oleh aparat intelijen kami, melintasi jalur-jalur rute narkotrafficking yang dikenal dan membawa narkotika," ujarnya seperti dikutip dari The Guardian.
Ia juga mengonfirmasi adanya satu orang penyintas.
Untuk menangani penyintas tersebut, Hegseth mengatakan AS meminta Meksiko mengambil alih tanggung jawab pencarian dan penyelamatan dan Meksiko menerima permintaan itu. Langkah ini diduga dimaksudkan untuk menghindari persoalan hukum yang rumit yang bisa timbul jika AS sendiri menahan orang itu.
Dalam upayanya membenarkan serangan tersebut, Hegseth membandingkan operasi ini dengan serangan terhadap target Al-Qaeda selama perang melawan teror global.
"Kementerian pertahanan telah menghabiskan lebih dari DUA DEKADE untuk membela tanah air lain. Sekarang, kami membela tanah air kami sendiri. Para narco-teroris ini telah membunuh lebih banyak orang AS daripada Al-Qaeda, dan mereka akan diperlakukan sama. Kami akan melacak mereka, kami akan membangun jaringan terhadap mereka, dan kemudian, kami akan memburu dan membunuh mereka," tutur Hegseth.
Kritik dari Dalam Negeri
Namun, banyak ahli hukum yang mempertanyakan dasar hukum dari tindakan tersebut. Mereka menilai bahwa ketika AS menarget anggota Al-Qaeda, Kongres telah memberi wewenang penggunaan kekuatan. Dalam kasus ini, pemerintahan Trump tidak memperoleh otorisasi dari Kongres, melainkan mengandalkan kewenangan eksekutif presiden berdasarkan Pasal II Konstitusi AS, yang memberi presiden hak untuk menggunakan kekuatan militer demi membela negara dari ancaman yang dianggap mendesak.
Senator Rand Paul menyampaikan keprihatinannya terhadap serangan sepihak itu dan memperingatkan risiko eskalasi dengan pemerintah Venezuela.
"Saya terganggu oleh tindakan meledakkan kapal-kapal terhadap orang-orang yang namanya tidak kita tahu, kita tidak diberikan bukti adanya kejahatan. Kita bahkan tidak tahu apakah mereka bersenjata, sejujurnya, dan itu lebih mencirikan sebuah perang. Ini mungkin menjadi pendahuluan perang, tapi saya berharap bukan demikian," ungkap Paul.
Sementara itu, Pentagon mengirim kapal induk tercanggihnya dan gugus serangnya ke wilayah Karibia, langkah yang dipandang sebagai peningkatan besar dalam kampanye militer tersebut. Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, USS Gerald Ford dengan puluhan pesawat tempur dan kapal perusak pengiringnya, dijadwalkan tiba di lepas pantai Venezuela sekitar akhir pekan.
Langkah ini menandai niat pemerintahan Trump untuk memperluas kampanye dari penyerangan kapal-kapal kecil di laut menjadi operasi terhadap target di darat. Kapal induk super itu membawa puluhan jet F-18 Super Hornet yang meningkatkan kekuatan ofensif serta kemampuan untuk menghancurkan sistem pertahanan udara di Venezuela. Pejabat saat ini maupun mantan pejabat mengatakan hal ini akan membuka jalan bagi operasi pasukan khusus atau serangan drone terhadap sasaran berbasis darat.
Presiden Donald Trump mengonfirmasi kepada wartawan di Gedung Putih pada 23 Oktober bahwa tahap berikutnya dari kampanye adalah menyerang target di darat. Trump tidak menyebutkan target atau negara mana yang akan diserang. Namun, ia memerintahkan Hegseth — yang duduk di sampingnya dalam sebuah acara di Gedung Putih tentang upaya menekan arus narkoba ilegal ke AS — untuk memberi tahu Kongres tentang rencana tersebut.
Ketika ditanya apakah ia akan menyatakan perang terhadap kartel narkoba, Trump menegaskan bahwa ia akan melanjutkan serangan individual.