Israel Tewaskan 18 Warga Gaza Setelah Menuduh Hamas Langgar Gencatan Senjata

Bagaimana reaksi Hamas atas tuduhan Israel? Simak informasinya berikut ini.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 29 Oktober 2025, 07:50 WIB
Aktivitas pekerja Mesir yang menggunakan alat berat untuk mencari jenazah para sandera di Kota Hamad, Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, Selasa 28 Oktober 2025. Selain di Khan Younis, pencarian juga dilakukan di sejumlah lokasi, termasuk kamp pengungsi Nuseirat. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Liputan6.com, Gaza - Militer Israel menewaskan sedikitnya 18 orang dalam serangkaian serangan di berbagai wilayah Gaza, setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan pasukannya melanjutkan operasi militer di kawasan yang telah porak-poranda akibat perang tersebut. Netanyahu menuduh Hamas melanggar gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat (AS).

Sumber rumah sakit mengatakan kepada Al Jazeera pada Selasa (28/10/2025) bahwa empat warga Palestina tewas di lingkungan Sabra, Kota Gaza, dan lima lainnya di Khan Younis. Sedikitnya 50 orang terluka di seluruh wilayah itu, sementara gencatan senjata kini menghadapi ujian paling seriusnya.

Sebelumnya, kantor Netanyahu menyatakan bahwa ia telah memerintahkan militer untuk segera melancarkan serangan besar-besaran setelah melakukan konsultasi keamanan.

Melaporkan dari Kota Gaza, jurnalis Al Jazeera Hani Mahmoud mengungkapkan sebuah rudal jatuh di belakang Rumah Sakit al-Shifa dan terlihat aktivitas besar di udara Gaza, dengan drone yang melayang di atasnya.

"Para saksi mata menggambarkan serangan itu sangat besar. Kami berada sekitar 20 menit dari lokasi itu dan kami bisa mendengarnya dari sini," ujarnya. "Serangan tersebut menyebabkan kepanikan dan kekacauan di antara pasien serta staf medis di dalam rumah sakit."

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa gencatan senjata tetap bertahan meski terjadi serangan Israel di Kota Gaza, di tengah saling tuduh antara kedua pihak mengenai pelanggaran.

"Gencatan senjata masih bertahan. Itu tidak berarti tidak akan ada bentrokan kecil di sana-sini," kata Vance kepada wartawan. "Kami tahu bahwa Hamas atau pihak lain di Gaza menyerang seorang prajurit (militer Israel). Kami memperkirakan pihak Israel akan membalas, tapi saya pikir perdamaian yang diupayakan presiden akan tetap bertahan meskipun demikian."

Kantor berita Associated Press mengutip dua pejabat AS melaporkan bahwa Israel telah memberi tahu AS sebelum melancarkan serangan mematikan terbarunya di Gaza.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Selasa mengklaim bahwa Hamas telah menyerang pasukan Israel dan berjanji kelompok itu akan "membayar mahal" atas serangan itu serta atas pelanggaran terhadap perjanjian pengembalian jenazah para sandera.

Sebelumnya, Netanyahu mengatakan bahwa jenazah yang sebelumnya diserahkan oleh Hamas bukan dari 13 tawanan yang masih belum dikembalikan. Ia menjelaskan, jenazah tersebut adalah milik seorang tawanan yang sudah lebih dulu ditemukan oleh pasukan Israel hampir dua tahun lalu.

Bantahan Hamas

Aktivitas pekerja Mesir yang menggunakan alat berat untuk mencari jenazah para sandera di Kota Hamad, Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, Selasa 28 Oktober 2025. Menggunakan alat berat, pekerja Mesir terus melanjutkan upaya pencarian jenazah para sandera di wilayah Gaza. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Sementara itu, Hamas membantah tuduhan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang dilontarkan oleh Israel.

"Israel harus memahami bahwa kami berkomitmen pada perjanjian ini dan mereka harus berhenti menuduh kami secara keliru melanggarnya," kata Suhail al-Hindi, anggota biro politik Hamas di Gaza, kepada Al Jazeera.

Ia menambahkan bahwa kelompoknya menghadapi kesulitan besar dalam proses pengambilan jenazah para tawanan Israel.

"Kami telah melakukan segala upaya yang mungkin untuk mengambil jenazah-jenazah itu dan pihak pendudukan (Israel) yang bertanggung jawab penuh atas keterlambatan dalam proses pengambilan sisa jenazah," tegasnya.

Hamas membantah pula keterlibatan dalam apa yang disebut Israel sebagai serangan bersenjata di Rafah, Gaza selatan, yang dijadikan alasan bagi serangkaian serangan udara mematikan tersebut.

Dalam pernyataan di Telegram, kelompok itu menyebut pengeboman berlanjut di Gaza sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani di Sharm el-Sheikh di bawah naungan Presiden Donald Trump.

Hamas menilai serangan itu sebagai kelanjutan dari serangkaian pelanggaran selama beberapa hari terakhir, termasuk serangan yang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, serta terus ditutupnya perbatasan Rafah, yang menunjukkan adanya niat untuk melanggar dan menggagalkan perjanjian gencatan senjata.

Pada Selasa malam, laporan muncul mengenai baku tembak di Rafah dekat perbatasan Mesir. Diduga terjadi saling tembak antara tentara Israel dan pejuang Palestina dari Jalur Gaza. Setelah itu, suara tembakan artileri dan ledakan terdengar di Rafah serta di bagian timur Kota Khan Younis. Satu tentara Israel dilaporkan terluka.

Hamas, Otoritas Palestina, serta sejumlah negara Arab dan muslim yang turut memberikan dukungan diplomatik besar terhadap kesepakatan gencatan senjata, menuduh Israel melakukan berbagai pelanggaran selama hampir tiga minggu terakhir. Puluhan warga Gaza tewas, sementara Israel terus memperketat pembatasan bantuan bagi mereka yang sangat membutuhkan.

Sayap militer Hamas, Brigade Qassam, mengumumkan bahwa mereka akan menunda penyerahan jenazah tawanan Israel yang baru ditemukan karena pelanggaran yang dilakukan oleh Israel.

Dalam pernyataannya, Brigade Qassam menegaskan bahwa setiap eskalasi militer oleh Israel akan menghambat operasi pencarian, penggalian, dan evakuasi jenazah, yang pada akhirnya akan menyebabkan keterlambatan dalam proses pengembalian jenazah para tawanan yang telah tewas. 

Kelompok itu kemudian menyatakan bahwa mereka telah menemukan dua jenazah tawanan Israel lainnya — Amiram Cooper dan Sahar Baruch — selama operasi pencarian pada Selasa.

Perkembangan ini semakin mengancam kesepakatan gencatan senjata yang sudah rapuh dan memicu kekhawatiran akan kembalinya perang di Gaza, yang hingga kini masih dibombardir dan dikepung.

 

 

Kabinet Netanyahu Dorong Respons Lebih Keras

Warga Palestina menyaksikan aktivitas pekerja Mesir yang menggunakan alat berat untuk mencari jenazah para sandera di Kota Hamad, Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, Selasa 28 Oktober 2025. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pencarian jenazah para tawanan Israel merupakan proses yang sulit, menantang, dan memakan waktu lama. Pejabat itu menambahkan bahwa Pusat Kerja Sama Sipil-Militer — badan yang dipimpin AS untuk memfasilitasi rekonstruksi dan pengiriman bantuan — memainkan peran penting dalam membantu tim teknis Mesir masuk ke Gaza guna mengambil jenazah-jenazah tersebut.

Di pihak Israel, kabinet sayap kanan Netanyahu menyerukan langkah-langkah keras sebagai tanggapan. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich mendesak penangkapan kembali warga Palestina yang telah dibebaskan dalam pertukaran tahanan, dengan alasan pelanggaran berulang dan berkelanjutan oleh Hamas.

Sementara itu, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir mengatakan bahwa tanggapan yang tepat adalah menghancurkan Hamas sepenuhnya.

Menurut media Israel, opsi lain yang tengah dipertimbangkan termasuk menghentikan aliran bantuan kemanusiaan yang sudah sangat terbatas ke Gaza, memperluas kendali Israel atas wilayah tersebut, atau memerintahkan serangan udara baru yang menargetkan para pemimpin Hamas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya