Rupiah Ditutup Merosot Hari Ini 27 Oktober 2025

Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada hari ini Senin 27 Oktober 2025.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 27 Oktober 2025, 17:20 WIB
Pegawai menunjukkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1) sore ini. Mata uang Garuda melemah 34 poin atau minus 0,22 persen dari perdagangan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, mencatat pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 19 point.

"Sebelumnya sempat melemah 35 point dilevel Rp 16.621 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.602," kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (27/10/2025).

Sedangkan untuk perdagangan besok, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.620 - Rp 16.650.

Adapun faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini. Untuk faktor eksternal diantaranya Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada hari Minggu mengatakan bahwa para pejabat AS dan Tiongkok telah menyusun "kerangka kerja yang sangat substansial" untuk kesepakatan perdagangan yang akan memungkinkan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping untuk membahas kerja sama perdagangan minggu ini.

"Bessent mengatakan kerangka kerja tersebut akan menghindari tarif AS sebesar 100% atas barang-barang Tiongkok dan mencapai penangguhan kontrol ekspor logam tanah jarang Tiongkok," ujarnya.

Trump juga mengatakan pada hari Minggu bahwa ia optimistis dapat mencapai kesepakatan dengan Beijing dan berharap dapat mengadakan pertemuan di Tiongkok dan Amerika Serikat.

Trump pikir pihaknya akan mencapai kesepakatan dengan Tiongkok. Pihaknya akan bertemu mereka nanti di Tiongkok dan akan bertemu mereka di AS, entah di Washington atau Mar-a-Lago.

Kemudian, faktor laporan indeks harga konsumen (CPI) AS yang lebih rendah dari perkiraan minggu lalu memperkuat taruhan untuk penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin, dengan investor sekarang mencari panduan tentang prospek pelonggaran tambahan hingga akhir tahun.

"Fokus minggu ini adalah keputusan suku bunga dari beberapa Bank Sentral dengan fokus utama adalah keputusan kebijakan terbaru dari Bank Sentral Amerika (Federal Reserve) yang akan dirilis pada hari Kamis dini hari," ujarnya.

 

Faktor Internal

Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Amerika Serikat sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia dan mekanisme pasar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ekonom memperkirakan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2025 tumbuh 4,9 % dibanding kuartal II/2025 sebesar 5,12% secara tahunan (YoY).

Proyeksi pertumbuhan ekonomi yang melambat itu lebih dipengaruhi dari sisi domestik. Hal itu tercermin dari Indeks Kepercayaan Konsumen pada September 2025 yang tercatat menurun dibanding bulan sebelumnya.

"Peristiwa yang sempat terjadi pada akhir Agustus 2025 juga berdampak terhadap kepercayaan konsumen dalam negeri. Meski tidak memerinci peristiwa yang dimaksud, sedangkan kinerja ekspor pada kuartal III/2025 masih cukup kencang," ujarnya.

 

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV 2025

Pegawai menata mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1) sore ini. Mata uang Garuda melemah 34 poin atau minus 0,22 persen dari perdagangan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sedangkan, untuk kuartal IV tahun2025, pertumbuhan ekonomi nasional akan meningkat dibanding kuartal III tahun 2025. Selain karena faktor musiman, yakni belanja pemerintah yang lebih kencang di kuartal tersebut, pemerintah juga menyalurkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) dalam paket stimulus ekonomi.

"Dalam tahun 2025 ekonomi nasional diproyeksikan akan tumbuh sebesar 5%. Dan pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan pulih tahun depan diatas 5 %, melihat kondisi global yang terus membaik seperti perang dagang dan sentimen geopolitik di eropa, antara Rusia dan Ukraina," ujarnya.

Sementara itu, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi alias OECD mengerek proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 4,9% atau lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi Juni 2025 yang hanya 4,7%. Kenaikan proyeksi OECD itu dipicu oleh langkah BI yang mulai mengambil kebijakan pro pertumbuhan dengan melonggarkan kebijakan moneter serta kinerja investasi yang terus terakselerasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya