Optimisme Damai Perang Dagang AS-China Jadi Penopang, Rupiah Diprediksi Menguat Hari Ini

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memprediksi, kurs rupiah bisa menguat hari ini di tengah optimisme perundingan perdagangan China dengan AS.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 27 Oktober 2025, 10:20 WIB
Pada Senin (27/10/2025), nilai tukar rupiah dibuka di Jakarta melemah sebesar 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp 16.605 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.602 per dolar AS.

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Senin ini. Pelemahan rupiah ini diperkirakan hanya sementara. Analis memperkirakan rupiah berpotensi menguat didukung optimisme perundingan datang AS dengan China. 

Pada Senin (27/10/2025),  nilai tukar rupiah dibuka di Jakarta melemah sebesar 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp 16.605 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.602 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memprediksi, kurs rupiah bisa menguat hari ini di tengah optimisme perundingan perdagangan China dengan AS.

"Menurut AS, telah disetujui rangka dasar untuk pembahasan. Namun seperti sebelum-sebelumnya, hal-hal tersebut, termasuk konfirmasi pertemuan Xi (Presiden China) dan Trump (Presiden AS) hanya disampaikan oleh pihak AS, dan tidak dikonfirmasi oleh China. Sedangkan investor juga was-was apabila bisa juga terjadi kegagalan mencapai kesepakatan," ucapnya dikutip dari Antara.

Dilaporkan bahwa Donald Trump memperkirakan pertemuan dirinya dengan Xi Jinping akan sangat baik. Kedua negara disebut akan membicarakan isu perdagangan dan tarif, serta persoalan terkait Taiwan.

 

Rencana Pertemuan Trump dan Xi Jinping

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berbicara kepada wartawan di pesawat Air Force One dalam perjalanan menuju Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, Minggu, 19 Oktober 2025. (Foto AP/Mark Schiefelbein)

Presiden Donald Trump menambahkan bahwa tarif sebesar 157 persen yang saat ini dikenakan terhadap China tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Mereka dijadwalkan bakal bertemu pada 30 Oktober 2025 di sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC/Asia-Pacific Economic Cooperation) di Korea Selatan.

"Namun, penguatan akan terbatas oleh antisipasi pertemuan FOMC (Federal Open Market Committee) dan XI-Trump pekan ini," ungkap Lukman. 

Data Inflasi AS

Sentimen lain yang berpotensi membuat rupiah menguat berasal dari data inflasi AS menunjukkan moderasi, sehingga meningkatkan prospek pemangkasan suku bunga The Fed.

Tercatat, inflasi September AS naik 0,3 persen, lebih rendah dari perkiraan di sekitar 0,4 persen. Secara year on year (yoy), inflasi naik menjadi 0,3 persen, di bawah perkiraan yang sebesar 4,1 persen.

Begitu pula inflasi inti hanya naik 0,2 persen, dibandingkan perkiraan 0,3 persen.

Secara yoy, inflasi turun ke 3 persen dibandingkan perkiraan bertahan di angka 3,1 persen.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, nilai tukar rupiah diperkirakan berkisar Rp16.550-Rp16.650 per dolar AS.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya