Liputan6.com, Jakarta - Kebijakan shutdown pemerintah federal berdampak besar pada sektor perjalanan udara di Amerika Serikat (AS). Belasan menara kontrol bandara mengumumkan kekurangan petugas lalu lintas udara yang memperparah penundaan penerbangan di berbagai tempat.
"Rata-rata... sekitar lima persen penundaan (penerbangan) kami disebabkan oleh kekurangan staf pengontrol lalu lintas udara. Kami juga mengalami peningkatan penundaan hingga 53 persen... karena kekurangan staf," kata Menteri Perhubungan AS Sean Duffy, Jumat, 24 Oktober 2025.
Advertisement
Dikutip dari CNN, Sabtu, 25 Oktober 2025, Jumat pekan ini, 12 fasilitas kontrol lalu lintas udara kekurangan staf, termasuk menara kontrol di Bandara Dallas, Fort Worth, Newark, dan Phoenix, TRACON yang menangani penerbangan yang mendekati dan berangkat dari Houston, Newark, California Selatan, serta pusat-pusat yang menangani penerbangan ketinggian tinggi di sekitar Albuquerque, Atlanta, Denver, dan New York.
Ada 222 kekurangan staf yang dilaporkan sejak dimulainya penutupan, lebih dari empat kali lipat jumlah yang dilaporkan pada tanggal yang sama tahun lalu. Pengontrol lalu lintas udara, seperti petugas pemeriksa Administrasi Keamanan Transportasi, diharuskan bekerja selama penutupan pemerintah tetapi tidak digaji.
"Gaji mereka akan nol besar," kata Duffy. "Ada rasa frustrasi yang luar biasa. Ada kecemasan karena seperti Anda semua, Anda melihat ekspektasi bahwa akan ada gaji dan kemudian Anda merencanakannya."
Perjalanan Udara di AS Dilaporkan Kurang Aman
Minggu ini, kekurangan staf juga dilaporkan terjadi di menara kontrol di Austin, Chicago-O’Hare, Nashville, Newark, dan Bandara Nasional Reagan, serta pusat-pusat FAA di Albuquerque, Cleveland, Denver, Fort Worth, Indianapolis, Los Angeles, Jacksonville, New York, dan Washington, DC. Fasilitas di Chicago, Dallas, Detroit, Las Vegas, Philadelphia, dan Houston yang menangani penerbangan yang mendekati atau meninggalkan area tersebut juga kekurangan staf.
Para pengendali lalu lintas udara, sekitar 10.800 pegawai federal, mulai tak menerima gaji pada 28 Oktober. Pada 14 Oktober 2025, mereka menerima sebagian gaji, sekitar 90 persen dari total normal, untuk jam kerja sebelum penutupan dimulai.
Situasi itu mengkhawatirkan banyak pihak. Presiden Asosiasi Pengendali Lalu Lintas Udara Nasional, yakni serikat pekerja yang mewakili para petugas lalu lintas udara, mengingatkan bahwa ketiadaan dana pemerintah membuat perjalanan udara 'kurang aman'.
"Seiring berlanjutnya penutupan ini dan para petugas lalu lintas udara tidak dibayar untuk pekerjaan penting yang mereka lakukan… hal itu menyebabkan gangguan yang tidak perlu, dan mereka tidak dapat 100 persen fokus pada pekerjaan mereka, yang membuat sistem ini kurang aman," katanya.
Calon Petugas Lalu Lintas Udara Baru Berpotensi Tak Mau Kerja Tanpa Dibayar
Meski begitu, Menhub AS mengambil pendekatan pragmatis. Ia menyebut FAA akan memperlambat pesawat atau membatalkan penerbangan jika tidak dapat dioperasikan dengan aman. "Saya tidak terlalu khawatir Anda tiba tepat waktu. Saya ingin Anda aman," kata Duffy.
Duffy juga memperingatkan bahwa meskipun para pengendali lalu lintas udara di masa mendatang yang belajar di akademi FAA akan dibayar selama beberapa minggu ke depan, uang tersebut akan segera habis, yang akan menjadi "bencana besar" bagi mereka.
"Para pengendali lalu lintas udara di akademi, dan beberapa yang telah diberi tempat di angkatan berikutnya di akademi, mengundurkan diri. Mereka mundur," katanya. "Mereka bertanya-tanya mengapa saya ingin menekuni profesi yang memungkinkan saya bekerja keras dan berpotensi tidak dibayar untuk jasa saya."
AS membutuhkan sekitar 3.000 pengendali lalu lintas udara tambahan, dan peningkatan pendaftaran di akademi ini merupakan bagian dari upaya agensi untuk "mempercepat" perekrutan.
Aksi Solidaritas Awak Kabin dan Pilot pada Pengendali Lalu Lintas Udara
Sebelumnya, melansir dari Business Insider, Minggu, 19 Oktober 2025, Nick Daniels, Presiden Asosiasi Pengendali Lalu Lintas Udara Nasional, mengatakan pada Kamis, 16 Oktober 2025 bahwa pilot maskapai penerbangan, awak kabin, dan bahkan rekan-rekan mereka di Kanada membeli dan mengirimkan makanan gratis kepada pengendali lalu lintas udara yang terdampak shut down AS.
Pete LeFevre, perwakilan serikat pekerja dan pengawas lalu lintas udara yang berbasis di Washington, D.C., mengatakan fasilitasnya menerima pizza dari Asosiasi Pilot Maskapai Udara (ALPA), serikat pekerja yang mewakili lebih dari 80.000 pilot. Menurut laporan, ALPA mengonfirmasi tindakan tersebut, mengatakan organisasi mereka telah melakukannya 'hampir setiap hari'.
Sebuah unggahan media sosial pada Kamis menunjukkan pilot Alaska Airlines mengirim pizza ke menara pengatur lalu lintas udara di Bandara Internasional San Francisco. Sedangkan, pilot Delta Air Lines mengirim makanan ke setiap menara dan fasilitas kedatangan yang melayani hub mereka.
Asosiasi Awak Kabin, serikat pekerja yang mewakili lebih dari 50.000 awak kabin, juga turut berkontribusi, kata Daniels.