Eks Inter Lihat Cermin Masa Lalu di Chivu: Ia Punya Sentuhan Mourinho

Goran Pandev mungkin tak pernah membayangkan bahwa Christian Chivu, mantan rekan setimnya di Inter Milan, suatu hari akan duduk di kursi pelatih Nerazzurri.

oleh Gia Yuda PradanaDiterbitkan 24 Oktober 2025, 23:19 WIB
Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu di laga melawan Union St. Gilloise, 22 Oktober 2025. (AP Photo/Omar Havana)

Liputan6.com, Jakarta Goran Pandev mungkin tak pernah membayangkan bahwa Christian Chivu, mantan rekan setimnya di Inter Milan, suatu hari akan duduk di kursi pelatih Nerazzurri. Namun, seiring waktu, ia justru melihat kemiripan yang mengejutkan antara Chivu dan sosok legendaris yang pernah membawa Inter meraih treble, Jose Mourinho.

Berbicara kepada La Repubblica jelang laga kontra Napoli, Pandev menilai karisma dan kemampuan komunikasi Chivu menjadi fondasi kuat dalam membentuk identitas tim saat ini. “Saya mengaku, dulu saya tidak membayangkannya di posisi itu. Namun, dia punya karisma. Anda membutuhkannya untuk menjadi kapten Rumania,” ujarnya.

Kini, di mata Pandev, Chivu bukan sekadar mantan bek tangguh. Ia adalah pemimpin baru yang perlahan membangun kepercayaan di ruang ganti dan di pinggir lapangan, sebagaimana Mourinho melakukannya 15 tahun silam.


Sentuhan Mourinho dan Identitas Baru Inter

Inter Milan. Jose Mourinho mulai menangani Inter Milan pada awal musim 2008/2009 usai meninggalkan Chelsea di periode keduanya. Selama 2 musim membesut Inter, ia langsung memberi gelar juara Liga Italia pada musim debutnya di 2008/2009. Pada musim berikutnya ia meraih treble winners dengan meraih gelar Liga Italia, Coppa Italia dan Liga Champions. Terakhir kali Inter Milan meraih gelar Liga Champions adalah pada musim 1964/1965 alias berjarak 45 tahun. (AFP/Christophe Simon)

Ketika ditanya soal perbandingan dengan pelatih lain, Pandev tak ragu menyebut nama Mourinho. “Dalam hal komunikasi, baik dengan para pemain maupun media. Ia cerdik, ironis, dan efektif,” katanya. Bagi Pandev, kemampuan Chivu dalam mengelola tekanan dan menyampaikan pesan menjadi kunci penting bagi Inter masa kini.

Chivu dianggap mampu menciptakan suasana yang solid di skuad sembari menjaga kejelasan arah permainan. Dalam dunia sepak bola modern, di mana pesan pelatih bisa dengan mudah hilang di tengah hiruk pikuk media, gaya Chivu yang tenang, tapi tegas, dinilai menjadi pembeda.

Selain membahas pelatih, Pandev juga menyinggung dua nama muda yang menurutnya bisa menjadi masa depan klub: Bonny dan Pio Esposito. “Bonny masih muda, tapi sudah besar,” ucapnya sambil tersenyum, mengingat kebersamaan mereka di Parma. Ia percaya duet pemain muda itu bisa menjadi pilar penting jika terus diberi ruang berkembang.


Antara Kenangan dan Realita

Goran Pandev. Striker asal Makedonia Utara ini didatangkan Inter Milan dari Lazio pada bursa tansfer musim dingin 2009/2010. Tampil dalam 19 laga di Liga Italia, ia mampu mencetak 3 gol dan 6 assist. Tidak hanya gelar Serie A, ia bahkan merebut treble winners musim tersebut. (AFP/Giuseppe Cacace)

Menjelang laga Napoli kontra Inter, Pandev tetap meminta mantan klubnya berhati-hati. Kedua tim sama-sama datang dengan beban Eropa, meski dalam suasana berbeda. “Kemenangan Inter sangat meyakinkan, Napoli mengecewakan. Namun, di Serie A, Conte adalah seorang maestro,” katanya, meyakini laga ini akan ditentukan oleh momen-momen brilian, bukan semata taktik.

Ketika ditanya siapa yang akan menang jika Inter 2010 bertemu dengan Inter asuhan Chivu saat ini, Pandev tertawa kecil sebelum menjawab. “Tentu kami yang menang. Namun, Inter ini pantas dihormati, dan Chivu sudah layak mendapatkannya.”

Dalam senyum itu, tersimpan pengakuan: Inter mungkin telah berubah, tetapi semangat juara yang dulu mereka bangun bersama, kini menemukan gaungnya kembali di tangan Chivu.

Sumber: La Repubblica, Sempre Inter


Klasemen Serie A/Liga Italia

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya