Foreign Direct Investment Jaga Ekonomi Indonesia dari Ketidakpastian Akibat Trump

Foreign Direct Investment lebih penting dalam tatanan ekonomi baru. Sebab, bisa menghasilkan dampak lebih pasti seperti penciptaan lapangan kerja baru.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 24 Oktober 2025, 21:10 WIB
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam keterangan pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (23/4/2025), menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi masih diperkirakan berada di kisaran 4,7% hingga 5,5%, dengan titik tengah 5,1. (Liputan6.com/Angga Yuniar).

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah didorong lebih fokus mengejar investasi asing langsung atau foreign direct Investment (FDI) dibanding aliran modal asing di portofolio seperti saham dan surat berharga.

Lantaran, FDI bisa membentengi ekonomi nasional dari ketidakpastian pasar keuangan global, yang gampang bergejolak gara-gara cuitan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di X.

Ekonom Bahana TCW Investment Management Emil Muhammad menilai, investasi asing langsung lebih penting dalam tatanan ekonomi baru. Sebab, bisa menghasilkan dampak lebih pasti seperti penciptaan lapangan kerja baru.

"Hari ini yang paling penting bagi seluruh pemerintahan di belahan dunia manapun itu adalah job creation. Apakah portofolio flow bisa membuat job creation meningkat? Bisa, tapi indirect. Mungkin 3-4 kali turunan langkahnya. FDI itu direct," ujarnya dalam sesi pelatihan wartawan BI di Bukittinggi, Sumatera Barat, Jumat (24/10/2025).

Itu mengapa, lanjutnya, pemerintah saat ini fokus sekali menggodok FDI, demi tujuan mendapat pemasukan modal yang lebih berkelanjutan.

"Ya kita kalau kita hanya membuat kebijakan untuk men-defend the portfolio side, kita akan selalu punya kebijakan yang bergerak secara volatile mengikuti flow-nya," imbuh Emil.

 

Cuitan Trump Rawan Goyahkan Investor

Trump merayakan tonggak awal masa kepemimpinan keduanya dengan menggelar kampanye akbar di Michigan. (JEFF KOWALSKY/AFP)

Menurut dia, pasar keuangan saat ini sangat rawan bergejolak imbas pernyataan dari seorang pemimpin negara. Dalam konteks ini, Emil mengambil contoh cuitan Trump di platform X yang bisa membuat investor menarik dananya dari suatu negara.

"Hari ini kita bisa suffer outflow significant hanya karena Donald Trump nge-tweet. Apakah bijak kalau kita hanya mentargetkan policy kita untuk safeguarding portfolio flow kita? Sedangkan faktor penentunya adalah tweet dari Donald Trump, yang kita cannot do much about it," ungkapnya.

"So, kita gaungkan FDI sebagai defense terhadap tweet dari Donald Trump. Jadi mau Donald Trump nge-tweet 10 kali lagi, 100 kali lagi, as long as FDI flow kita itu baik, rupiah kita masih bisa terjaga stabil, tidak perlu ada market correction yang panic selling," tutur dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya