Laba Bersih DSNG Melonjak 51% pada September 2025, Didukung Harga CPO

Sektor kelapa sawit menyumbang 88% total pendapatan. DSNG juga berhasil menekan liabilitas 17% berkat strategi deleveraging yang agresif.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 25 Oktober 2025, 06:00 WIB
Perkebunan kelapa sawit PT Dharma Satya Nusantara Tbk (Dok DSNG)

Liputan6.com, Jakarta - Emiten perkebunan dan produk kayu PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) mencatatkan kinerja finansial yang stabil dan solid sepanjang kuartal III 2025, didorong oleh performa sektor kelapa sawit yang moncer.

Hingga akhir September 2025, DSNG berhasil membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 8,9 triliun, angka ini naik 25% year-on-year (YoY). Sektor kelapa sawit menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi sekitar 88% dari total pendapatan, diikuti oleh produk kayu sebesar 11% dan energi terbarukan 1,7%.

Dari pendapatan tersebut, DSNG berhasil meraup laba bersih sebesar Rp 1,3 triliun, atau melonjak 51% YoY.

Direktur Utama PT Dharma Satya Nusantara Tbk Andrianto Oetomo menjelaskan, faktor faktor yang mendorong pertumbuhan pendapatan dan laba signifikan ini.

“Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 1,3 triliun, atau naik 51% YoY, seiring dengan peningkatan harga rata-rata penjualan (average selling price/ASP) produk sawit dan perbaikan efisiensi operasional di seluruh lini usaha,” jelas Andrianto dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/10/2025).

Pendapatan dari segmen kelapa sawit mencapai Rp 7,8 triliun, naik 27,8% YoY. Kinerja positif ini disokong oleh kenaikan ASP seluruh produk utama, dengan CPO naik 16,3% YoY, Palm Kernel melesat 80,5%, dan PKO tumbuh 82,8%. Kenaikan harga ini ditopang pula oleh peningkatan volume penjualan yang naik sekitar 5%.

 

Kualitas Sawit Terjaga dan Ekspansi Bisnis Kayu

Kenaikan pendapatan DSNG di sektor kelapa sawit juga didukung oleh peningkatan produksi. Produksi Tandan Buah Segar (TBS) Perseroan naik 4% YoY menjadi 1,6 juta ton, dengan produksi CPO yang juga naik 3,9% YoY. Kualitas produk DSNG tetap menjadi prioritas, terlihat dari tingkat Free Fatty Acid (FFA) yang stabil di 3% dan Oil Extraction Rate (OER) yang mencapai 23,37%.

Di sisi diversifikasi, segmen produk kayu juga memberikan kontribusi positif. Pendapatan segmen produk kayu tercatat sebesar Rp 948,8 miliar, meningkat 9,2% YoY. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan volume penjualan panel 9,9% YoY dan engineered flooring 3,2% YoY.

Meskipun permintaan global menunjukkan perbaikan, sektor kayu masih dihadapkan pada tantangan eksternal. Hal ini termasuk tarif perdagangan Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di beberapa kawasan.

DSNG juga mulai menuai hasil dari ekspansi di sektor energi terbarukan. Produk wood pellet yang baru beroperasi komersial sejak awal tahun ini telah menjual 13,7 ribu ton dengan harga rata-rata US$120 per ton, memberikan tambahan pendapatan di segmen energi terbarukan. Namun demikian, pendapatan segmen ini tercatat sedikit turun 8,3% YoY menjadi Rp 148,9 miliar, akibat fluktuasi permintaan biomassa di pasar Jepang.

 

Liabilitas Turun 17 Persen

Di luar kinerja operasional, DSNG juga menunjukkan pengelolaan keuangan yang sangat hati-hati dan strategis. Per 30 September 2025, total aset Perseroan tercatat sebesar Rp 17,2 triliun. Angka ini sedikit turun 1% dibandingkan tahun lalu karena penggunaan kas untuk pembayaran dividen dan pelunasan obligasi yang jatuh tempo pada Juli 2025.

Yang menarik, total liabilitas DSNG berhasil diturunkan tajam sebesar 17% YoY. Penurunan ini sejalan dengan strategi deleveraging atau pengurangan utang melalui pelunasan pinjaman lebih awal. Sementara itu, total ekuitas Perseroan naik 11% YoY menjadi Rp 10,9 triliun, mencerminkan laba yang kuat dan kebijakan pengelolaan modal yang terukur.

Atas konsistensi kinerja finansial dan operasionalnya yang gemilang, DSNG kembali mendapatkan pengakuan internasional. Perseroan tercatat dalam daftar bergengsi Forbes Asia’s 200 Under a Billion 2025.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya