Liputan6.com, Jakarta SDN Gunungbatu di Desa Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi kondisinya rusak parah. Penantian renovasi selama lebih dari 30 tahun akhirnya terjawab. Bangunan sekolah diperbaiki tanpa melibatkan pemda.
Tiga ruang kelas, yaitu Kelas IV, V dan VI yang selama ini tidak dapat digunakan selama satu setengah tahun terakhir akibat kerusakan parah, kini dibongkar.
Advertisement
Kepala SDN Gunungbatu, Ami Kusmaeni, menjelaskan kondisi darurat yang dialami sekolah. Dari enam ruang kelas yang seharusnya dimiliki, saat ini tiga di antaranya tak berfungsi. Hal ini memaksa para siswa belajar di tempat seadanya.
"Anak-anak yang tiga kelas itu, yang satu masuk musala, yang satu di perpustakaan. Bahkan ada satu kelas yang tidak kebagian ruangan, jadi kalau ada siswa yang sedang berolahraga, anak-anak masuk ke ruangan kosong," jelas Ami, Jumat (24/10/2025).
Kerusakan parah ini, menurut Ami dan komite sekolah, sudah terjadi sejak 30 tahun lalu. Pihak sekolah hanya mampu melakukan perbaikan kecil menggunakan dana bantuan operasional sekolah (BOS).
Ami menyampaikan, kondisi ini memang sudah lama dilaporkan kepada pihak Dinas Pendidikan, pengawas dan komite. Tim dari Forkopimda pun sudah sempat datang meninjau.
"Sudah ada tim dari kabupaten datang ke sini, hanya mungkin kemarin kita menunggu anggaran perubahan," kata Ami.
Meskipun sekolah telah mengajukan proposal dan kebutuhan dana ke Dinas Pendidikan, hingga saat ini realisasi dana dari pusat maupun anggaran perubahan belum diterima.
Ami menduga anggaran tersebut dialihkan ke kebutuhan yang lebih mendesak.
Di tengah penantian terhadap anggaran pemerintah yang tak kunjung turun, harapan itu datang dua minggu terakhir dari program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR). Ami mengaku terharu dan gembira atas bantuan tersebut.
"Alhamdulillah, dua minggu terakhir ada yang datang dari CSR. Saya terharu, senang, berbagai macam perasaan ada gembiranya. Karena dari CSR itu katanya mau segera dibangun," ujarnya.
Namun, Ami berharap bantuan dari ini dapat dimaksimalkan, sebab dananya masih kurang untuk menuntaskan perbaikan tiga kelas sekaligus.
Pihak sekolah berharap tiga kelas yang rusak dapat dibangun tuntas agar musala dan perpustakaan bisa berfungsi normal kembali.
"Hanya dari dananya itu memang kurang. Jadi maunya tiga kelas ini tuntas semua, biar anak semua pembelajarannya seperti biasa. Musala bisa digunakan, perpustakaan juga bisa digunakan. Kalau misal hanya ruang kelas satu ini yang belum dibangun, nanti ada satu kelas siswa yang tidak bisa kebagian," tambahnya.
Terbentur Regulasi Revitalisasi
Secara terpisah, Koordinator Pendidikan Kecamatan Kebonpedes, Eutik Juhaenah, menjelaskan bahwa rencana idealnya adalah revitalisasi total, tetapi hal ini terbentur regulasi pemerintah.
"Maunya revitalisasi, tapi revitalisasi itu terbentur dengan harus dari Dapodik. Tidak bisa kita yang mengusulkan kalau revitalisasi karena pemerintah yang menentukan, sekolah mana saja yang dapat revitalisasi,” terang Eutik.
“Kalau revitalisasi itu semua dari total, istilahnya kupas tuntas, dana dari DAK (Dana Alokasi Khusus) dan Perkim (Perumahan dan Permukiman) masuknya," sambung dia.
Pihak sekolah berharap, ke depannya ada dermawan lain yang dapat memberikan bantuan untuk meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan, mengingat masih banyak fasilitas lain yang rusak, seperti musala yang bocor, perpustakaan, dan dinding kantor guru yang retak.