Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar rupiah perkasa pada hari ini Jumat 24 Oktober 2025. Rupiah menguat sebesar 17 poin atau 0,10 persen menjadi 16.612 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya 16.629 per dolar AS.
Rupiah Masih Betah Melemah
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum mampu bangkit pada Kamis, (23/10/2025). Analis menilai, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS didorong langkah Bank Indonesia (BI) tahan suku bunga.
Advertisement
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis sore turun 44 poin atau 0,27% menjadi 16.629 per dolar AS dari sebelumnya 16.585 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia pada Kamis pekan ini merosot ke posisi 16.645 per dolar AS dari sebelumnya 16.617 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menuturkan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibayangi dampak dari Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga.
“Pelaku pasar asing masih dalam tren jual obligasi negara, dampak dari bunga acuan BI yang ditahan tidak turun,” kata dia seperti dikutip dari Antara.
Dia menilai, tren obligasi negara yang bullish masih diminati oleh pelaku asing karena spread bunga tetap kompetitif.
Suku Bunga BI
Di sisi lain, suku bunga BI yang tidak berubah memberikan dampak terhadap penjualan obligasi, terutama tenor lima tahun. “Namun, hanya sesaat pelaku asing kembali mengoleksinya, sehingga yield naik tipis,” ujar Rully.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Bulan Oktober 2025 yang berlangsung pada Selasa, 21 Oktober 2025 dan Rabu ini memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate tetap berada pada level 4,75 persen.
Suku bunga deposit facility diputuskan untuk tetap pada level 3,75 persen. Begitu pula suku bunga lending facility yang diputuskan untuk tetap pada level 5,5 persen.
Rully mengatakan, keputusan BI menahan suku bunga disebabkan adanya tekanan dari eksternal terhadap rupiah masih tinggi di tengah ketidakpastian perang tarif AS-China.
Selain itu, shutdown pemerintah AS yang sudah berjalan mendekati satu bulan berakibat pada minimnya rilis data ekonomi, sehingga sulit bagi The Fed mengambil keputusan mengenai suku bunga.