Ketika Kehadiran Kevin De Bruyne Jadi Beban: Kritik Tajam Media Italia Usai Napoli Dibantai PSV

Media Italia menilai bahwa Kevin De Bruyne belum menemukan tempat ideal dalam sistem yang diusung pelatih Antonio Conte di Napoli.

oleh Asad ArifinDiterbitkan 23 Oktober 2025, 20:55 WIB
Kevin De Bruyne sukses membawa kemenangan untuk Man City saat menjamu Atletico Madrid pada leg pertama perempat final Liga Champions 2021/22, Rabu (06/04/2022) dini hari WIB. Satu-satunya gol atas nama dirinya tersebut menjadi modal penting bagi The Cityzens untuk leg kedua nanti. (AP/Dave Thompson)

Liputan6.com, Jakarta Napoli tengah berada dalam sorotan besar usai kekalahan telak 2-6 dari PSV Eindhoven pada laga Liga Champions, Kamis (23/10) dini hari WIB.

Kevin De Bruyne, gelandang yang semestinya menjadi otak permainan justru disebut sebagai beban taktik bagi tim asuhan Antonio Conte.

Padahal, kehadiran De Bruyne di Naples awalnya disambut dengan euforia besar. Ia datang dengan reputasi mentereng sebagai salah satu playmaker terbaik di Premier League, simbol kreativitas dan visi permainan kelas dunia.

Namun, setelah awal yang menjanjikan, kehadirannya kini justru dianggap mengganggu keseimbangan di lini tengah Napoli.

Media Italia menilai bahwa De Bruyne belum menemukan tempat ideal dalam sistem yang diusung pelatih Antonio Conte di Napoli.

Kombinasi taktik baru dan perubahan struktur permainan Napoli dianggap membuat sang gelandang kehilangan efektivitas, dan pada akhirnya, membuat tim tampil lebih rapuh.


De Bruyne Jadi ‘Masalah’ Taktik Napoli

Selebrasi Kevin De Bruyne dalam laga pramusim Napoli vs Girona, Minggu (10/8/2025). (La Presse via AP Photo/Alessandro Garofalo)

La Gazzetta dello Sport menjadi media pertama yang menyoroti secara tajam performa De Bruyne. Mereka menilai, sang gelandang Belgia kini bisa disebut sebagai 'masalah taktik' bagi Antonio Conte.

Kritik itu muncul karena kehadiran De Bruyne dinilai telah mengubah keseimbangan lini tengah Napoli yang sebelumnya begitu solid.

Musim lalu, trio Stanislav Lobotka, Andre-Frank Zambo Anguissa, dan Scott McTominay menjadi fondasi kokoh kesuksesan Napoli.

Namun, masuknya De Bruyne memaksa Conte mengganti sistem 4-3-3 menjadi 4-1-4-1 agar sang bintang bisa bermain di posisi favoritnya. Pergeseran ini justru menciptakan celah di lini tengah, terutama ketika Lobotka absen, dan membuat Napoli mudah ditembus lawan seperti PSV.


Kelelahan, Adaptasi, dan Krisis Sinergi

Jersey away Napoli yang digunakan Scott McTominay. Sementara Kevin De Bruyne menggunakan jersey home. (X/Napoli)

Masalah Napoli tidak hanya pada skema, tapi juga kondisi fisik dan chemistry pemain. La Gazzetta menyoroti bahwa De Bruyne belum berada di level kebugaran terbaik dan masih kesulitan beradaptasi dengan intensitas Serie A.

"Jika salah satu gelandang utama absen, sistem ini runtuh. Bahkan bintang seperti De Bruyne tak cukup untuk mengangkat tim," tulis media tersebut.

Ada pula penilaian bahwa sinergi antara De Bruyne dan McTominay belum terbentuk sepenuhnya. Keduanya kerap berebut ruang di lini tengah dan gagal membangun aliran bola yang efisien.

Conte kini berada di persimpangan taktik , antara tetap mengandalkan De Bruyne sebagai pusat kreativitas, atau kembali ke formula lama yang membawa Napoli meraih Scudetto musim lalu.

Sumber: Football Italia


Klasemen Serie A 2025/2026

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya