Kredit Perbankan Tumbuh 7,7% di September 2025, Permintaan Masih Lemah

Minat penyaluran kredit perbankan pada umumnya cukup baik. Tercermin pada persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang cukup longgar.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 22 Oktober 2025, 19:45 WIB
Petugas memasukkan lembaran uang rupiah ke dalam mobil di Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (21/12). Guna memenuhi kebutuhan uang tunai selama perayaan Natal dan Tahun Baru 2018, BI menyiapkan uang kartal sebanyak Rp 193,9 triliun. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo melaporkan, kredit perbankan tumbuh 7,7 persen secara tahunan (year on year/YoY) pada September 2025.

Meskipun sedikit meningkat dibanding Agustus 2025 yang mencatat pertumbuhan 7,56 persen YoY, Perry menyebut dari sisi permintaan masih cenderung lemah, sehingga perlu terus didongkrak.

"Permintaan kredit belum kuat, dipengaruhi oleh sikap pelaku usaha yang masih wait and see, optimalisasi pembiayaan internal oleh korporasi dan suku bunga kredit yang masih relatif tinggi," ujar dia, Rabu (22/10/2025).

Perkembangan ini tercermin dari fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan) pada September 2025, yang mencapai mencapai Rp 2.374,8 triliun atau 22,54 persen dari plafon kredit yang tersedia.

"Terutama pada segmen korporasi, dengan kontribusi utama dari sektor perdagangan, industri, dan pertambangan, serta dengan jenis kredit modal kerja," imbuh Perry.

Dari sisi penawaran kapasitas pembiayaan bank cukup memadai. Ditopang oleh rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang besar mencapai 29,29 persen. Sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh sebesar 11,18 persen (YoY) pada September 2025.

"Seiring ekspansi keuangan pemerintah termasuk penempatan dana pemerintah pada beberapa bank besar, serta kebijakan pelonggaran likuiditas moneter dan kebijakan insentif makro prudensial yang ditempuh oleh Bank Indonesia dalam jumlah yang besar," sambungnya.

 

Minat Penyaluran Kredit Bank Cukup Baik

Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Lebih lanjut, Perry mengatakan, minat penyaluran kredit perbankan pada umumnya cukup baik. Tercermin pada persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang cukup longgar.

"Kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM yang seiring dengan sikap kehati-hatian bank di tengah risiko kredit pada kedua segmen tersebut. Pertumbuhan kredit modal, kejadian kredit konsumsi melambat menjadi masing-masing sebesar 3,37 persen YoY dan 7,42 persen YoY," bebernya.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit investasi meningkat cukup tinggi hingga 15,18 persen secara tahunan. Kredit UMKM dan pembiayaan syariah tumbuh melambat menjadi masing-masing sebesar 0,23 persen dan 7,55 persen year on year.

"Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit 2025 berada pada batas bawah kisaran 8-11 persen dan akan meningkat pada tahun 2026," pungkas Perry.

 

 

BI Tahan Suku Bunga Acuan di 4,75% pada Oktober 2025

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) secara resmi tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 4,75 persen. Keputusan itu diambil setelah bank sentral menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 21-22 Oktober 2025.

Adapun keputusan ini sedikit di luar dugaan, lantaran banyak pihak memperkirakan BI bakal kembali memangkas BI rate pada Oktober 2025.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21-22 Oktober 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI rate tetap sebesar 4,75 persen," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam sesi teleconference, Rabu (22/10/2025).

Perry mengatakan, Bank Indonesia juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga deposito facility sebesar 3,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 5,5 persen.

"Keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi yang tetap rendah, stabilitas nilai tukar rupiah, dan mendorong momentum pemulihan ekonomi nasional," sambung Perry.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya