Liputan6.com, Jakarta - Di tengah dunia yang berpacu melawan krisis iklim, harapan datang dari Global South. Dari Brasil hingga Indonesia, negara-negara tropis kini bergandengan tangan untuk membalik arah cerita: hutan tidak lagi dianggap beban pembangunan, melainkan aset dunia yang harus dihargai selamanya.
Langkah itu diwujudkan lewat Tropical Forest Forever Facility (TFFF) — sebuah inisiatif besar yang dipimpin oleh Brasil.
Advertisement
Penasihat Bidang Ekonomi pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Brasil Andre Aquino menjelaskan bahwa TFFF dirancang sebagai dana abadi (endowment fund) senilai USD 125 miliar. Dana ini akan diinvestasikan di pasar keuangan global, dan hasil investasinya—sekitar USD 4 miliar per tahun—akan diberikan kepada negara-negara berhutan tropis yang berhasil menjaga hutannya tetap berdiri.
"Selama ini, hutan tropis menyediakan jasa bagi seluruh dunia — menstabilkan iklim, menjaga keanekaragaman hayati, dan mengatur air — tetapi tidak ada mekanisme yang memberi nilai ekonomi untuk itu," ujar Andre dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (20/10/2025). "Melalui TFFF, kami ingin memastikan bahwa negara-negara yang menjaga hutan mendapat manfaat ekonomi yang nyata dan berkelanjutan."
Skema ini memberikan penghargaan bagi keberhasilan konservasi sekaligus penalti bagi kehilangan hutan. Setiap hektare hutan yang hilang akan mengurangi pembayaran hingga seratus bahkan dua ratus kali lipat dari nilai insentif. Dengan sistem berbasis kinerja seperti ini, menjaga hutan menjadi pilihan yang lebih menguntungkan dibanding menebangnya.
Menurut Andre, TFFF dirancang agar masyarakat yang hidup di wilayah hutan — seperti di Sumatra dan Papua — dapat memperoleh manfaat langsung dari menjaga hutan.
Sebagai bagian dari upaya memperkenalkan dan memperkuat kerja sama regional ini, Pemerintah Brasil bersama UNDP Indonesia pada Senin menyelenggarakan lokakarya regional TFFF di Jakarta. Pertemuan ini mempertemukan perwakilan pemerintah, akademisi, lembaga penelitian, masyarakat sipil, dan organisasi internasional untuk membahas bagaimana negara-negara Asia Tenggara — yang memiliki sebagian hutan tropis terkaya di dunia — dapat berperan dalam upaya global melindungi hutan dan menstabilkan iklim.
Komitmen Nyata Brasil
Duta Besar Brasil untuk ASEAN Henrique Ferraro menegaskan bahwa TFFF bukan sekadar mekanisme keuangan, tetapi simbol solidaritas baru antarnegara tropis.
"TFFF adalah instrumen pembiayaan inovatif yang mengatasi hambatan lama dalam pendanaan hijau," tutur Henrique. "Berbeda dari hibah satu kali, TFFF menyediakan pembayaran berkelanjutan bagi negara-negara yang berkomitmen menjaga hutan. Insentif ini juga menjangkau para penjaga sejati hutan dan keanekaragaman hayati — masyarakat adat dan komunitas lokal."
Ferraro menyoroti komitmen nyata Brasil dalam memperkuat kerja sama global untuk pelestarian hutan. Komitmen ini tercermin dalam pengumuman Presiden Luiz Inacio Lula da Silva di sela-sela Sidang Umum PBB bulan September lalu, bahwa Brasil akan memberikan kontribusi sebesar USD 1 miliar kepada TFFF—menunjukkan peran Brasil sebagai negara sponsor sekaligus penerima manfaat.
Ia menambahkan, TFFF sejalan dengan aspirasi ASEAN menuju masa depan berkelanjutan dan netral karbon. Dengan tujuh dari sepuluh negara ASEAN memiliki hutan tropis atau subtropis, kemitraan antara negara-negara berhutan tropis di Amerika Selatan dan Asia Tenggara dinilai krusial dalam pembiayaan konservasi global.
Bagi UNDP, TFFF mencerminkan semangat baru negara-negara Selatan yang merancang solusi atas tantangan mereka sendiri. Resident Representative UNDP Indonesia Sara Ferrer Olivella menyebut inisiatif ini sebagai bukti konkret bahwa solidaritas Selatan dapat menghasilkan model pembiayaan yang adil dan transparan.
"Negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, memiliki peran penting dalam membentuk kerangka inovatif ini agar pendanaan iklim dan kehutanan dikelola secara transparan, menjangkau masyarakat lokal, serta mendorong pembangunan manusia dan pembangunan berkelanjutan," ungkap Sara.
"UNDP siap mendukung negara-negara dalam memperkuat sistem tata kelola dan kapasitas kelembagaan agar mekanisme ini benar-benar bermanfaat bagi manusia dan bagi planet ini."
Sebagai mitra teknis, UNDP akan membantu negara-negara penerima memperkuat kapasitas, sistem pelaporan, dan akuntabilitas, memastikan setiap dana yang disalurkan benar-benar berdampak pada perlindungan hutan dan kesejahteraan masyarakat.
Manfaat Langsung bagi Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal
Dipimpin oleh Brasil dan dirancang bersama oleh komite pengarah interim yang terdiri dari negara-negara tropis — Kolombia, Republik Demokratik Kongo, Ghana, Indonesia, dan Malaysia — bersama lima negara sponsor — Prancis, Jerman, Norwegia, Uni Emirat Arab, dan Inggris — TFFF melibatkan partisipasi aktif organisasi masyarakat sipil, masyarakat adat dan komunitas lokal, serta sektor swasta. Mekanisme ini menjadi model pembiayaan inovatif yang memberikan insentif jangka panjang dan berkelanjutan bagi negara-negara berhutan tropis, memastikan manfaat nyata bagi mereka yang melindungi dan memulihkan hutan di lapangan.
Andre menjabarkan bahwa struktur pembiayaan TFFF dibangun dengan prinsip blended finance, yaitu perpaduan antara dana publik dan investasi swasta untuk mendukung pelestarian hutan tropis secara berkelanjutan.
Lima negara sponsor akan memberikan sekitar USD 25 miliar dalam bentuk pinjaman dan jaminan publik. Dana ini akan menjadi modal awal (junior tranche) untuk menarik investasi swasta melalui penerbitan obligasi hijau senilai USD 100 miliar. Dengan demikian, total USD 125 miliar akan dikelola sebagai dana abadi, dan hasil investasinya—sekitar USD 4 miliar per tahun—akan digunakan untuk memberikan pembayaran berbasis hasil kepada negara-negara tropis.
Andre menegaskan bahwa TFFF tidak menghasilkan kredit karbon, tidak menimbulkan utang, dan tidak menggantikan mekanisme pendanaan lain seperti REDD+ atau pasar karbon. Dana yang diterima negara bersifat pembayaran atas jasa ekosistem, bukan pinjaman yang harus dikembalikan. Dengan desain ini, TFFF memberikan pembiayaan tambahan yang benar-benar mendorong konservasi hutan tanpa beban fiskal bagi negara penerima.
Salah satu prinsip utama TFFF adalah memastikan setidaknya 20 persen dari seluruh dana yang diterima dialokasikan langsung kepada masyarakat adat dan komunitas lokal. Mereka berhak menentukan penggunaan dana tersebut sesuai kebutuhan mereka di lapangan.
"Orang-orang yang hidup di hutan, di Kalimantan, Sumatra, Papua, dan Amazon harus mendapat manfaat langsung karena merekalah yang menjaga hutan tetap berdiri," kata Andre. "Itulah semangat yang ingin kami bangun melalui TFFF."
Direktur Kerja Sama Eksternal ASEAN Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Ida Bagus Made Bimantara menilai bahwa TFFF membuka peluang kolaborasi baru bagi negara-negara tropis.
"Indonesia dan Brasil, bersama dengan negara-negara lain di Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Selatan, merupakan rumah bagi hutan tropis yang berperan penting dalam mengatur iklim global, melestarikan keanekaragaman hayati, dan mendukung pembangunan berkelanjutan," ujarnya. "TFFF menghadirkan kerangka kerja pembiayaan inovatif untuk mengatasi kesenjangan ini. Dukungan terhadap inisiatif seperti ini sangat penting agar hutan tropis tetap lestari dan terus berkontribusi pada stabilitas iklim global serta pelestarian keanekaragaman hayati."
Brasil berharap negara-negara ASEAN — termasuk Indonesia dan Malaysia yang telah aktif dalam Komite Pengarah Sementara TFFF — bersama negara-negara lain seperti Myanmar, Vietnam, dan Thailand, dapat bergabung secara resmi dalam peluncuran inisiatif ini di COP30 mendatang.
Kemitraan antara dua kawasan tropis terbesar di dunia, Amazon dan Asia Tenggara, menjadi simbol kolaborasi Selatan yang menjawab tantangan global dengan solidaritas dan inovasi.